Keluarga besar pergi berlibur ke pantai pada minggu kedua bulan Juli, dengan dua mobil, satu kotak pendingin berisi es, dan rencana yang berubah tiga kali sebelum berangkat.
Albert dan Akira memilih tempat sederhana. Bukan resor, bukan pantai yang ada penjaganya berseragam. Hanya deretan pondok kayu sewaan di pinggir jalan, dengan kamar mandi di luar dan air tawar yang harus dipompa sendiri.
"Kamu punya uang untuk tempat yang lebih bagus," kata Sera waktu pertama kali melihat pondoknya.
"Punya," jawab Albert. "Tapi di tempat yang lebih bagus, tidak ada yang berani main hujan."
Pantai itu mengingatkan mereka pada malam pertama bermain hujan. Bukan karena mirip, melainkan karena sama-sama tidak istimewa: pasirnya kasar, airnya keruh di dekat bibir pantai, dan ada warung yang menjual mi instan dengan harga dua kali lipat.
Arkan bermain pasir bersama Damar sejak pagi.
Mereka membangun sesuatu yang menurut Arkan adalah benteng dan menurut Damar adalah gunung. Perdebatan itu berlangsung setengah jam, berakhir dengan kompromi: benteng di atas gunung.
Arkan sempat menangis sekali, waktu ombak datang lebih jauh dari biasanya dan menghapus separuh dinding bentengnya. Damar tidak menghiburnya dengan kata-kata. Ia hanya berjongkok, mengambil pasir basah, dan mulai menumpuk lagi dari awal sampai anak itu ikut menumpuk tanpa sadar.
"Bang, ombaknya nanti ngerusak."
"Ya dibangun lagi."
"Kalau dirusak lagi?"
"Dibangun lagi." Damar menepuk pasir di puncaknya. "Itu gunanya punya banyak tangan, Kan."
Sofia dan Sera duduk mengobrol di bawah payung besar yang miring, dengan termos teh di antara mereka dan kaki yang dibiarkan terkubur pasir sampai mata kaki. Mereka mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting sama sekali, dan itu justru yang membuat Akira memandangi mereka agak lama dari kejauhan.
"Dulu kita tidak pernah ke pantai," terdengar suara Sera. "Bapak selalu bilang bahaya."
"Bapak tidak bisa berenang," jawab Sofia. "Itu saja sebenarnya."
"Lah, kenapa tidak bilang?"
"Laki-laki zaman dulu, Ra. Lebih gampang bilang bahaya daripada bilang takut."
Sera tertawa sampai tehnya tumpah sedikit, dan Sofia memarahinya seperti memarahi anak kecil.
Menjelang sore, ketika mataharinya sudah tidak menyengat, Albert membawa Akira berjalan menyusuri pantai.
Mereka berjalan di tepi air, cukup jauh sampai suara keluarga besar itu tinggal samar. Sandal dijinjing. Pasir basah terasa dingin di telapak kaki.
Di kejauhan ada nelayan yang sedang menarik jaring, dan seekor anjing pantai berlari mengikuti mereka beberapa puluh meter sebelum bosan sendiri.
Akira memungut kerang kecil, memeriksanya, lalu membuangnya lagi ke laut.
"Kenapa dibuang?"
"Kalau dibawa pulang, nanti cuma jadi barang di laci," katanya. "Di sini dia masih punya gunanya."
"Kamu kelihatan mikir," kata Akira.
"Saya memang sedang mikir."
"Mikir apa?"
Albert berhenti berjalan. Ombak kecil datang, membasahi mata kaki mereka, lalu surut lagi.
"Kalau waktu bisa diulang, apakah kamu tetap akan menikahiku?" tanya Albert.
Akira menoleh. Untuk sesaat ia tidak tahu harus tertawa atau marah, karena pertanyaan itu memuat seluruh hal yang pernah terjadi di antara mereka dan laki-laki itu menanyakannya dengan wajah anak sekolah.
Akira berpura-pura berpikir. Ia melipat tangan, memandang laut, memiringkan kepala, membiarkan Albert menunggu cukup lama sampai laki-laki itu jelas mulai gelisah.
"Mungkin aku akan membuatmu menunggu lebih lama," katanya akhirnya.
"Berapa lama?"
"Lima tahun. Sepuluh, kalau aku sedang jahat."
"Saya pantas mendapatkannya."
Mereka tertawa. Tawanya pecah di angin laut, dan Akira harus memegang bahu Albert supaya tidak kehilangan keseimbangan di pasir yang bergeser.
Mereka duduk di batu besar yang setengahnya basah. Albert diam agak lama sebelum bicara lagi, dan Akira tahu itu tandanya ada sesuatu yang sudah lama dipikirkan.
"Saya mau minta sesuatu."
"Apa?"
"Saya ingin memperbarui sumpah pernikahan kita setiap lima tahun."
Akira mengerutkan kening. "Setiap lima tahun? Berarti nanti umur kita enam puluh masih pakai cincin-cincinan?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Supaya kita terus memilih satu sama lain," katanya. "Pernikahan itu gampang jadi kebiasaan. Orang bangun, kerja, tidur, dan lupa kalau tiap hari sebenarnya dia memilih untuk tetap tinggal. Saya tidak mau kita sampai di titik itu tanpa sadar."
"Kamu takut aku berubah pikiran?" tanya Akira.
"Tidak." Albert menggeleng. "Saya takut saya yang lupa bersyukur. Orang paling sering kehilangan sesuatu bukan karena direbut, tapi karena dibiarkan."
Akira memandang laut lama sekali.
Ia teringat perempuan berumur dua puluh dua tahun yang dulu menandatangani surat karena takut. Perempuan itu tidak punya pilihan. Perempuan yang duduk di batu ini punya, dan sudah memakainya berkali-kali.
Akira mengangguk. "Aku setuju."
"Sekarang?"
"Sekarang aku mau mi instan dulu."
Albert tertawa, jenis tawa yang dulu tidak pernah keluar dari mulutnya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu istrinya turun dari batu.
Mereka berjalan pulang ke pondok dengan tangan bertaut, melewati anak-anak orang lain yang sedang berlomba lari, dan tidak satu pun dari keduanya merasa perlu menoleh ke belakang.
Malamnya, setelah makan dan setelah pasir disikat dari kaki semua orang, mereka menyalakan lampion kecil di depan pondok.
Lampionnya dibeli Damar di pasar sore, sepuluh buah, warnanya berbeda-beda, ditawar sampai pedagangnya menyerah dan memberi bonus satu. Angin hampir memadamkan yang pertama, dan butuh tiga orang berjongkok melindungi apinya sampai lampion itu cukup panas untuk naik.
Arkan meminta semua orang menulis harapan.
Idenya datang dari buku cerita anak yang pernah dibacanya, dan ia tidak mau menerima penolakan. Kertas dan spidol dibagikan. Sofia protes karena tulisannya jelek. Sera protes karena tidak punya harapan apa-apa, lalu menulis juga.
"Nanti dibaca keras-keras?" tanya Raka.
"Tidak boleh," kata Arkan tegas. "Nanti tidak jadi."
Tetapi anak itu sendiri yang membaca punyanya sendiri, lantang-lantang, sebelum menempelkannya.
"Aku ingin kita liburan lagi tahun depan, semuanya, jangan ada yang tidak ikut!"
"Loh, katanya tidak boleh dibaca," protes Damar.
"Kalau punyaku boleh. Aku kan yang bikin aturannya."
Semua orang tertawa. Sofia menggeleng-geleng sambil menempelkan kertasnya sendiri ke rangka lampion, dibantu Sera yang tangannya lebih stabil.
Lampion-lampion itu naik satu per satu, miring, lambat, lalu menjadi titik-titik oranye yang makin kecil di atas laut.
Harapan Albert sederhana: keluarga yang jujur. Ia menulisnya dengan huruf kecil-kecil di sudut kertas, seperti orang yang tidak mau tulisannya terlalu kelihatan.
Harapan Akira: keberanian untuk tetap mencintai.