Buku itu mulai dikerjakan pada hari Minggu, di meja makan, dengan tiga jenis kertas dan satu kotak krayon yang setengahnya sudah patah.
Akira dan Albert membuat buku cerita keluarga.
Idenya datang dari Akira. Setelah malam itu, setelah Arkan bertanya kapan ia boleh membaca semua cerita keluarga, mereka berdua tidak bisa tidur sampai pukul dua pagi.
"Kalau kita tunggu sampai dia dewasa, dia akan tahu dari orang lain duluan," kata Akira dalam gelap. "Internet tidak akan menunggu dia siap."
"Saya tahu."
"Dan versi orang lain tidak akan menyebut kenapa. Cuma apa."
Albert memandang langit-langit lama sekali. "Kalau kita yang menulis, saya harus menulis bagian saya sendiri."
"Iya."
"Anak saya akan membaca apa yang saya lakukan kepada ibunya."
Akira menoleh ke arah suaminya. "Dia juga akan membaca apa yang kamu lakukan sesudahnya."
Mereka mulai keesokan paginya, sesudah sarapan, dengan Arkan dikirim bermain ke rumah neneknya supaya tidak melihat proses pembuatannya.
Aturannya dibuat sejak awal, ditulis di halaman pertama supaya tidak dilanggar di tengah jalan. Mereka tidak menyembunyikan kesalahan, tetapi menulisnya dengan bahasa yang dapat dipahami Arkan.
Tidak ada kata yang dipakai untuk memperhalus. Tidak ada bagian yang dilompati. Tetapi juga tidak ada detail yang belum pantas dibaca anak tujuh tahun, dan garis itu yang paling sulit ditentukan.
Mereka bertengkar dua kali soal itu.
"Bagian ini terlalu keras," kata Akira.
"Bagian ini yang sebenarnya terjadi."
"Dia tujuh tahun, bukan tujuh belas."
Akhirnya mereka menulis kalimat itu tiga kali, dan yang dipakai adalah versi ketiga: yang jujur, tetapi tidak mendetail. Yang mengakui ada orang disakiti, tanpa menggambarkan bagaimana.
Mereka menceritakan tentang dua keluarga yang pernah saling membenci karena kebohongan, lalu belajar memaafkan.
Ceritanya dimulai dari dua perempuan muda di depan sebuah aula, memegang gelas kertas, yang punya rencana membangun sekolah. Lalu tentang seorang laki-laki yang kehilangan adiknya dan memilih tidak bertanya. Lalu tentang kertas palsu, tentang dua keluarga yang saling menuduh, tentang seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan satu daftar di kepalanya.
Albert menulis bagiannya sendiri, seperti yang ia janjikan. Empat kalimat, dan ia butuh dua minggu untuk menyelesaikannya.
Ayah pernah menyakiti Ibu, karena Ayah percaya pada cerita yang salah dan tidak mau memeriksanya. Ayah pikir itu adil. Ayah salah. Itu bukan keadilan, itu balas dendam, dan balas dendam selalu mencari korban baru.
Akira membaca empat kalimat itu di dapur dan harus duduk. Ia membacanya tiga kali, lalu menaruhnya di meja dengan tangan yang tidak stabil.
"Terlalu keras?" tanya Albert dari pintu.
"Tidak," jawab Akira. "Pas." Ia mengembalikan kertas itu. "Kamu yakin mau dipasang apa adanya?"
"Kalau tidak dipasang, sisanya bohong," jawab Albert, mengulang kalimat Livia di pusat arsip dulu. "Dan saya tidak mau anak saya membaca buku yang ayahnya sendiri sunting supaya kelihatan bersih."
Livia membantu menyusun urutannya, Damar membuat ilustrasinya dengan pensil, dan Sera menyumbang dua foto lama yang selama ini disimpannya di dompet.
Bukunya dijilid sederhana, dicetak tiga eksemplar saja: satu untuk Arkan, satu untuk pusat arsip, satu disimpan di lemari kamar.
Arkan membaca buku itu bersama Sofia.
Mereka membacanya di teras, sore hari, dengan anak itu duduk di kursi rotan dan neneknya di sebelahnya. Akira sengaja tidak ikut. Ia mengintip dari balik jendela dapur, dan Albert berdiri di belakangnya tanpa berani mendekat.
Arkan membaca pelan, menunjuk kata-kata yang panjang dengan jari, berhenti beberapa kali untuk bertanya arti kata.
Sampai di halaman tentang kertas palsu, ia berhenti lebih lama.
"Nek."
"Kenapa?"
Ia bertanya mengapa orang-orang memilih berbohong.
Sofia tidak langsung menjawab. Ia menutup buku itu sedikit, menandai halamannya dengan ibu jari, lalu menghadap cucunya.
"Karena mereka takut," jawab Sofia. "Orang bohong itu biasanya takut, Nak. Takut rugi, takut malu, takut kelihatan salah, takut kalah. Bohong itu kelihatannya cepat dan gampang, jadi mereka pilih yang itu."
"Tapi kan nanti ketahuan."
"Ketahuan. Cuma kadang tiga puluh tahun lagi, waktu semua orang sudah telanjur rusak."
Arkan menimbang-nimbang kalimat itu dengan dahi berkerut.
"Jadi lebih baik berani?"
"Keberanian adalah mengatakan kebenaran meskipun sulit," kata Sofia. "Itu saja. Bukan berkelahi, bukan tidak takut. Berani itu tetap ngomong walaupun perut kamu mules."
Arkan tertawa mendengar kata mules, dan ketegangan sore itu hilang begitu saja.
"Nenek juga takut waktu itu?" tanya Arkan.
"Takut sekali."
"Terus Nenek bohong juga?"
Sofia terdiam agak lama. "Pernah. Sekali. Nenek bilang ke Mama kamu bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tidak. Nenek pikir itu melindungi dia."
"Ternyata tidak?"
"Ternyata cuma menunda."
Ia menyelesaikan buku itu dalam tiga hari.
Pada hari keempat, ia meminta selembar kertas kosong kepada ibunya, lalu mengunci diri di kamar selama hampir satu jam dengan pensil dan penghapus.
Arkan kemudian menulis halaman sendiri.
Tulisannya besar-besar, miring ke kanan, dengan beberapa huruf yang terbalik. Di bagian atas ia menggambar lima orang berpegangan tangan, satu di antaranya digambar lebih pendek dari yang lain, dan di bawah gambar itu ia menulis satu kalimat.
Aku ingin keluargaku selalu jujur.
Ia menyerahkannya kepada Albert di ruang kerja, lalu berdiri menunggu, seperti orang yang menyerahkan tugas sekolah.
Albert membaca tulisan itu.
Ia membacanya sekali, lalu sekali lagi. Kertas itu bergetar sedikit di tangannya. Anak itu tidak menyadarinya, karena ia sedang sibuk menjelaskan bahwa gambar yang paling pendek itu dirinya, dan yang paling tinggi itu Damar.
Albert meletakkan kertasnya di meja, lalu menarik anaknya dan memeluk putranya lama sekali, lebih lama dari yang biasa dilakukannya.
"Papa kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
"Papa nangis?"
"Sedikit."
"Kenapa nangis kalau tidak kenapa-kenapa?"
"Nanti kamu mengerti kalau sudah besar."
Akira memandang mereka dari ambang pintu, dan tidak masuk supaya tidak mengganggu. Ia menyandarkan bahunya ke kusen, memandang dua kepala yang sama-sama berambut berantakan itu, dan merasakan sesuatu yang bertahun-tahun lalu tidak pernah ia bayangkan bisa ia rasakan di dekat laki-laki itu.
Bahagia, dan aman, dan dua-duanya sekaligus.
Halaman buatan Arkan itu kemudian ditempel di halaman terakhir buku, menjadi bagian resmi dari cerita keluarga mereka, ditulis oleh satu-satunya orang di rumah itu yang tidak punya apa-apa untuk disesali.
Semua luka masa lalu akhirnya menjadi pelajaran, bukan warisan.