Lima tahun berlalu tanpa ancaman baru.
Tidak ada amplop di bawah pintu, tidak ada mobil yang parkir terlalu lama, tidak ada nomor asing yang menelepon tengah malam lalu ditutup. Pagar rumah masih dikunci setiap malam, tetapi sekarang dikunci karena itu memang kebiasaan orang mengunci pagar, bukan karena ada yang ditunggu.
Kenzi Sofia berkembang menjadi perusahaan yang membantu proyek sosial dan pendidikan. Kantornya sudah pindah ke gedung yang lebih besar, meskipun tetap bukan gedung tinggi, dan lift tuanya masih sering diceritakan karyawan lama kepada karyawan baru sambil tertawa.
Mereka membangun tiga sekolah kecil di daerah yang sekolah terdekatnya berjarak tujuh kilometer. Mereka membiayai empat puluh dua anak sampai lulus. Laba perusahaan naik pelan, persis seperti yang dijanjikan Albert dalam rapat pertama dulu, dan tidak ada satu pun tahun ketika mereka harus menjelaskan asal uang kepada siapa pun.
Albert tidak lagi menjalani hari dengan rasa curiga.
Butuh waktu lama sampai ke sana. Selama dua tahun pertama, ia masih memeriksa kaca spion lebih sering dari yang diperlukan, masih hafal pelat nomor mobil tetangga, masih bangun kalau ada anjing menggonggong di ujung jalan. Perlahan kebiasaan itu luntur, dan ia sendiri baru sadar setelah lewat.
Sekarang ia bekerja dari rumah beberapa hari dalam seminggu agar dapat menemani Arkan tumbuh. Meja kerjanya ada di ruang belakang, menghadap kebun, dan hampir setiap sore ada anak laki-laki yang masuk tanpa mengetuk untuk meminta tolong membetulkan sesuatu.
"Pa, ini patah."
"Mana saya lihat."
"Bisa?"
"Bisa, tapi kamu yang pegang lemnya."
Kadang Arkan duduk di lantai dekat kaki ayahnya sambil menggambar, dan Albert membiarkan rapatnya berjalan dengan suara krayon di belakang. Tidak ada klien yang berani protes, dan kalaupun ada, Albert sudah punya jawabannya.
"Lima tahun lagi dia tidak mau lagi duduk di dekat saya," katanya kepada Akira. "Saya cuma memakai jatah saya sekarang."
Akira memimpin program perempuan dan anak. Programnya dimulai dari ruangan kecil dengan dua staf, dan sekarang punya lima cabang di tiga kota. Ia yang menandatangani sendiri setiap surat penerimaan, karena katanya orang yang datang ke tempat seperti itu pantas tahu ada manusia di balik suratnya.
Ia sering membawa Arkan ke kantor, terutama kalau sekolahnya libur dan tidak ada yang bisa menjaga. Anak itu punya kursi sendiri di pojok ruang rapat, punya laci sendiri berisi pensil warna, dan tahu nama hampir semua orang di lantai itu.
"Selamat pagi, Mas Arkan," sapa satpam di lobi setiap pagi.
"Selamat pagi, Pak Udin."
Membuat seluruh karyawan mengenalnya bukan rencana siapa-siapa, tetapi begitulah yang terjadi.
"Kenapa Ibu tanda tangan satu-satu? Capek," protes stafnya.
"Dulu waktu aku minta tolong, suratku dibalas mesin," jawab Akira. "Sampai sekarang aku masih ingat rasanya."
Sofia dan Sera tinggal berdekatan, dua rumah dipisahkan satu pagar rendah yang akhirnya mereka beri pintu kecil supaya tidak perlu memutar.
Mereka masih belajar menjadi saudara setelah bertahun-tahun terpisah. Belajarnya tidak selalu mulus. Ada minggu-minggu ketika mereka bertengkar soal hal-hal kecil: siapa yang lebih benar mengingat masa kecil, siapa yang dulu lebih disayang, kenapa Sera tidak pernah mencari.
"Kalau kalian bertengkar, kok tetap masak berdua?" tanya Akira suatu kali.
"Karena marah sama saudara itu beda," jawab Sofia. "Marahnya sore, nasinya tetap satu magic jar."
Raka menikah dengan seorang perempuan yang ia temui melalui pusat bantuan. Namanya Winda, dulu datang sebagai pendamping korban, lalu bertahun-tahun bekerja di meja sebelah Raka tanpa ada yang berani memulai apa pun.
"Enam tahun, Ka," keluh Raka waktu Akira menggodanya. "Enam tahun saya cuma bisa bilang selamat pagi."
"Terus kenapa akhirnya berani?"
"Karena dia yang bertanya duluan."
Livia menjadi saksi pernikahan mereka. Ia yang paling banyak menangis di antara semua tamu, dan ia yang paling keras menyangkal menangis.
"Debu," katanya.
"Di dalam gedung, Kak?" goda Damar.
"Debu juga bisa masuk gedung."
Mereka semua berkumpul setiap akhir pekan. Tempatnya bergantian, tetapi paling sering di rumah Albert karena halamannya paling luas. Anak-anak rumah perlindungan yang sudah besar ikut datang kalau tidak ada kuliah.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang balas dendam di meja itu. Yang dibicarakan hanya rencana makan, harga tiket, siapa yang menyetir, dan apakah tahun ini mereka jadi pergi ke pantai atau tidak.
Namun, Albert menyimpan satu kecemasan.
Arkan mulai bertanya tentang nama keluarga. Awalnya karena tugas sekolah, membuat pohon keluarga dengan foto. Anak itu menempel foto ayah, ibu, dua nenek, lalu berhenti karena kotak berikutnya kosong.
"Kakek yang ini mana fotonya?"
"Sudah lama tidak ada, Nak."
"Kenapa tidak ada?"
Albert menjawab seadanya waktu itu. Tetapi pertanyaan berikutnya datang seminggu kemudian, lalu seminggu berikutnya lagi, dan selalu lebih tajam dari yang sebelumnya.
"Kenapa nama kita ada di depan gedung itu?" tanyanya di lain hari, waktu mobil mereka melewati kantor.
"Karena itu kantor Papa sama Mama."
"Tapi kenapa namanya Nenek dua-duanya?"
Albert melirik Akira lewat kaca spion. Akira hanya mengangkat alis, seolah berkata, itu giliranmu.
Puncaknya ketika Arkan menemukan foto lama di rak pusat arsip saat ikut ibunya bekerja. Foto dua perempuan muda di depan aula, memegang gelas kertas.
"Ini Nenek Sofia, kan? Yang sebelahnya siapa?"
"Nenek kamu yang satu lagi. Waktu masih muda."
"Mereka temenan?"
Akira ragu satu detik sebelum menjawab. Satu detik itu cukup untuk membuat anak berumur tujuh tahun tahu ada sesuatu yang tidak diceritakan.
Malamnya Arkan datang ke ruang kerja ayahnya, berdiri di samping meja, dan bertanya dengan cara yang membuat Albert meletakkan pulpennya.
"Kapan aku boleh membaca semua cerita keluarga?" tanyanya.
Albert menatap anak itu lama. Rambutnya berantakan, kaus tidurnya kebesaran, dan matanya persis mata Akira ketika perempuan itu memutuskan tidak akan pergi sebelum dijawab.
Ia bisa saja mengalihkan pembicaraan. Ia tahu caranya. Ia sudah melakukannya berkali-kali, dan setiap kali berhasil.
Tetapi ia teringat janjinya di taman rumah bertahun-tahun lalu, di depan dua ibu yang berdiri di sisi yang sama. Janji tentang tidak menyimpan apa pun. Anaknya sedang menagih janji itu tanpa tahu janji itu pernah diucapkan.
"Ceritanya panjang," kata Albert akhirnya. "Dan ada bagian yang membuat kamu kecewa sama Papa."
"Aku tidak akan kecewa."
"Kamu belum tahu isinya."
Arkan tidak beranjak. Ia menumpukan kedua sikunya di meja, dan mengulang pertanyaannya dengan sabar, kata demi kata, seperti orang yang tahu ia berhak atas jawaban.
"Jadi kapan aku boleh membacanya, Pa?"
Albert tersenyum. "Ketika kamu sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa orang baik pun bisa membuat kesalahan."