Kasus-kasus lama resmi ditutup pada hari Rabu, pukul sebelas kurang seperempat, dalam sidang yang hanya berlangsung dua puluh menit.
Tidak ada yang berteriak. Hakim membacakan putusannya dengan nada datar, seperti membaca daftar belanja. Damian, Victor, dan semua pelaku utama dinyatakan menjalani hukuman sesuai vonis masing-masing, tanpa pengurangan, tanpa kemungkinan banding yang tersisa.
Yang membuat Akira menangis justru bagian terakhir, yang paling sepele: pemulihan nama.
Nama keluarga Albert dan Sofia dipulihkan secara resmi. Semua catatan yang dulu menempel pada dua nama itu dihapus dari daftar, dan surat pemulihan itu dikirim ke kantor-kantor yang dulu menolak mereka.
"Cuma kertas," kata Akira di mobil, sambil mengusap matanya.
"Kertas yang bikin Mama kamu tidak bisa buka rekening selama dua belas tahun," jawab Albert.
Sofia menerima surat itu di teras rumah perlindungan. Ia membacanya berdiri, lalu duduk, lalu membacanya lagi.
"Tiga puluh tahun," katanya. "Tiga puluh tahun Mama dianggap istri orang yang menipu."
"Sekarang sudah tidak, Mama."
"Mama tahu." Sofia melipat surat itu dan memasukkannya ke saku daster. "Tapi orang-orang yang dulu berbalik badan waktu ketemu Mama di pasar tidak akan baca surat ini."
Akira mau menjawab, tetapi ibunya sudah berdiri dan masuk ke dapur, dan itu cara Sofia mengakhiri pembicaraan sejak dulu.
Rumah lama diputuskan nasibnya bulan berikutnya.
Mereka duduk bertiga dengan Sofia di meja makan, dengan denah rumah itu terbentang di tengah. Akira yang mengusulkan lebih dulu.
"Aku tidak mau ada yang tinggal di situ lagi," katanya. "Tapi aku juga tidak mau dirobohkan. Kalau dirobohkan, orang akan lupa."
Albert dan Akira memutuskan menjual rumah lama, lalu membelinya kembali atas nama yayasan yang dibangun Livia, dan mengubahnya menjadi pusat arsip sejarah keluarga.
Perpustakaannya dipertahankan persis seperti dulu, termasuk rak yang bisa digeser. Kamar tersembunyi di baliknya dibiarkan terbuka, dengan lampu yang menyala setiap hari kerja. Surat-surat, foto, laporan kecelakaan tiga puluh tahun lalu, semuanya dipajang di balik kaca, berurutan, dengan keterangan yang ditulis apa adanya.
"Termasuk bagian saya?" tanya Albert waktu membaca naskah keterangannya.
"Termasuk bagian kamu," jawab Livia. "Kalau bagian itu dihapus, sisanya jadi bohong."
Albert membacanya sekali lagi. Di sana tertulis namanya, apa yang ia lakukan, dan kepada siapa. Tidak ada kata pembelaan.
"Pasang," katanya akhirnya.
Arkan tumbuh sehat dan dekat dengan seluruh keluarga. Ia punya dua nenek yang berebut memberinya makan, seorang paman yang mengajarinya memanjat pagar, dan seorang kakak angkat bernama Damar yang sanggup menggendongnya berjam-jam tanpa mengeluh.
Ia tidak pernah tahu bahwa sebelum lahir, banyak orang memperebutkan masa depannya. Ia tidak tahu bahwa pernah ada rencana untuk mengambilnya begitu ia lahir, bahwa ibunya pernah dipindahkan empat kali dalam satu bulan, bahwa ada daftar nama yang menyebut dirinya sebagai barang.
Bagi Arkan, hidup adalah mobil-mobilan yang rodanya lepas dan harus diperbaiki ayahnya, dan sebuah rumah yang selalu ramai pada hari Minggu.
"Nanti kalau dia besar, kita cerita?" tanya Akira suatu malam.
"Kita cerita," jawab Albert. "Tapi bukan sekarang. Anak umur empat tahun tidak butuh tahu dunia bisa sejahat itu."
Akira dan Albert menjalani kehidupan sederhana meskipun perusahaan mereka berkembang. Mereka tetap tinggal di rumah yang sama, dengan dapur yang keramiknya retak di satu sudut dan tidak pernah sempat diganti. Mobil Albert satu, dipakai bergantian. Akira masih menawar harga sayur.
Karyawan baru sering tidak percaya waktu tahu siapa perempuan yang antre sendiri di kantin kantor.
Suatu malam, Albert membawa Akira ke taman tempat mereka pernah bermain hujan.
Tamannya berubah. Ada lapangan bola kecil sekarang, dan lampu-lampu baru yang lebih terang. Tetapi bangku besi di dekat pohon besar itu masih ada, dengan cat yang sudah dilapis ulang entah berapa kali.
Mereka duduk di sana. Arkan berlari-lari di rumput bersama Damar, mengejar bola yang lebih besar dari kepalanya.
"Kamu ingat malam itu?" tanya Akira.
"Saya ingat kamu marah karena saya tidak mau ikut basah."
"Lalu kamu ikut juga."
"Karena kamu menarik tangan saya." Albert tersenyum. "Itu pertama kalinya ada orang menarik tangan saya untuk sesuatu yang tidak ada untungnya."
Mereka diam sebentar. Angin membawa suara anak-anak dan bunyi gerobak bakso dari ujung jalan.
"Aku pernah mengira cinta adalah cara untuk membalas dendam," kata Albert. "Saya pikir kalau kamu jatuh cinta, kamu kalah, dan saya menang. Itu seluruh rencana saya waktu itu. Sederhana sekali."
"Lalu?"
"Ternyata cinta adalah alasan untuk berhenti menghukum orang lain."
Akira tersenyum. "Dan alasan untuk pulang."
Ia menyandarkan kepalanya ke bahu laki-laki itu. Dari bangku mereka, terlihat Arkan yang jatuh, bangun sendiri, lalu tertawa karena Damar pura-pura jatuh juga.
Mereka menatap Arkan yang bermain bersama Damar di dekat lampu taman, dan untuk beberapa menit tidak ada yang merasa perlu bicara.
Sofia datang belakangan, membawa tas kain dan berjalan pelan karena lututnya mulai sakit kalau udara dingin. Ia duduk di ujung bangku, mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu meletakkannya di pangkuan Akira.
Kotak musik lama itu.
"Untuk apa, Mama?"
"Simpan ini untuk Arkan ketika dia dewasa," kata Sofia. "Biarkan dia tahu bahwa keluarganya memilih berdamai."
"Kenapa tidak Mama sendiri yang kasih nanti?"
Sofia tertawa kecil. "Mama tidak tahu Mama masih ada atau tidak waktu dia cukup besar untuk mengerti. Lebih baik dititipkan sekarang."
Akira tidak membantah kalimat itu, karena ia tahu ibunya tidak sedang meminta dibantah. Ia memeluk ibunya, lama, sampai Sofia menepuk punggungnya dua kali sebagai tanda cukup.
Untuk pertama kalinya, rumah lama dan semua rahasianya terasa jauh. Bukan hilang, hanya jauh, seperti kota yang pernah ditinggali dan sekarang cuma dilewati.
Malam itu, sebelum tidur, Akira membuka kotak musik itu sekali lagi di kamar. Lagunya mengisi ruangan yang gelap.
Di balik lapisan kayu di dasarnya, yang kemarin mereka biarkan kosong, ternyata masih ada satu potong kertas kecil yang terselip di sudut, terlipat empat.
Akira membukanya dengan hati-hati, takut kertas setipis itu robek di tangannya. Tulisannya kecil, miring, sudah pudar di beberapa huruf, tetapi masih terbaca seluruhnya.
Ia memanggil Albert dari kamar mandi. Laki-laki itu datang dengan rambut masih basah, lalu berdiri diam membaca dari balik bahu istrinya.
Di dalam kotak musik terdapat satu kalimat terakhir dari ibu Albert:
"Cinta akan menang jika kalian memilihnya setiap hari."