Samuel ternyata masih hidup.
Akta kematiannya ada, ditandatangani, lengkap dengan nomor. Tetapi rumah sakit yang tercantum di dalamnya tidak pernah memiliki catatan pasien dengan nama itu. Livia menemukan celahnya dalam dua hari: satu bayi yang dinyatakan meninggal, satu paspor anak yang diurus tiga bulan kemudian dengan nama belakang berbeda, dan satu tiket keberangkatan atas nama seorang perempuan yang bekerja sebagai perawat.
Samuel tinggal di luar negeri sejak umur belum genap satu tahun. Ia dibesarkan oleh keluarga angkat, sekolah di sana, bekerja di sana, menikah di sana.
Ia tidak terlibat dalam jaringan. Tidak ada satu pun namanya di daftar pembayaran, tidak ada rekening, tidak ada surat. Tetapi ia mengetahui sebagian besar rencana ayahnya, karena selama bertahun-tahun Damian menulis surat kepadanya, dan surat-surat itu tidak pernah dibalas.
"Kamu yakin mau menghubungi dia?" tanya Akira malam sebelumnya. "Dia tidak bersalah apa-apa. Hidupnya tenang di sana."
"Saya tahu."
"Kalau kamu telepon, hidupnya berhenti tenang."
Albert memandang layar laptop yang masih menampilkan nama itu. "Dulu ada orang yang memilih tidak bertanya, dan tiga puluh tahun hancur karenanya. Saya tidak mau jadi orang itu."
Akira tidak membantah lagi.
Albert menghubunginya lewat sambungan video, pukul sepuluh malam waktu setempat di sana.
Wajah yang muncul di layar membuat Akira menahan napas. Bukan karena mirip Damian, tetapi justru karena tidak mirip sama sekali. Laki-laki itu berumur akhir tiga puluhan, berkacamata, memakai kaus rumahan, dengan rak buku di belakangnya.
"Saya sudah tahu siapa Anda," katanya sebelum Albert sempat memperkenalkan diri. "Nama Anda ada di semua surat itu sejak saya umur belasan."
"Saya minta maaf sudah menghubungi tiba-tiba."
"Tidak. Saya justru lega." Samuel melepas kacamatanya, lalu memakainya lagi. "Saya menunggu ada yang menghubungi supaya saya punya alasan membuka kotak itu."
"Kotak apa?" tanya Albert.
"Kotak surat dari ayah saya. Saya simpan semuanya, tidak satu pun saya buang. Tapi tidak satu pun juga saya balas." Samuel tersenyum tipis. "Saya rasa itu cara saya menghukum dia."
Samuel bersedia bertemu.
Ia datang tiga minggu kemudian, membawa satu koper kecil dan satu kotak seng yang sejak awal tidak pernah ia titipkan ke bagasi. Mereka bertemu di ruang rapat pusat arsip, karena Samuel meminta tempat yang bukan rumah siapa-siapa.
Kotak seng itu dibuka di atas meja. Isinya surat-surat, puluhan, diikat berdasarkan tahun dengan tali rafia yang warnanya berbeda-beda.
Samuel menyerahkan surat terakhir Damian, yang paling atas, amplopnya masih tersegel.
"Saya tidak pernah membukanya," katanya. "Datang dua minggu sebelum dia ditangkap."
"Kenapa tidak dibuka?"
"Karena saya takut isinya menyuruh saya melanjutkan."
Albert membukanya dengan pisau kertas. Ia membacanya lebih dulu dalam hati, lalu mengangkat wajah.
"Bukan," katanya. "Bukan itu isinya."
Dalam surat, Damian meminta Samuel menghentikan semua usaha balas dendam jika ia tertangkap. Ia menulis bahwa segala sesuatu yang ia bangun harus berhenti bersamanya, bahwa tidak ada satu pun dari itu yang boleh diwariskan, dan bahwa jika ada orang datang membawa nama keluarganya untuk meminta bantuan, Samuel harus menolak.
Samuel membacanya sendiri kemudian, pelan, dengan jari menelusuri baris demi baris.
Lalu ia meletakkan surat itu dan menatap meja cukup lama.
"Dia mencintai saya," katanya akhirnya. "Itu yang paling sulit saya terima. Kalau dia tidak peduli sama sekali, ceritanya jadi gampang. Tapi dia mengirim surat tiap tahun. Dia tahu ulang tahun saya. Dia tahu saya alergi kacang."
Samuel mengatakan Damian mencintainya, tetapi rasa sakit membuatnya tidak mampu menjadi ayah yang baik.
"Dia menyembunyikan saya supaya saya aman," lanjutnya. "Lalu dia memakai keamanan saya sebagai alasan untuk menghancurkan orang lain. Katanya semua ini untuk saya. Saya tidak pernah minta."
Akira menyodorkan gelas air. Samuel meminumnya sampai habis.
"Anda marah sama dia?" tanya Akira.
"Dulu. Sekarang tidak lagi." Samuel meletakkan gelasnya. "Marah itu perlu tenaga, dan saya butuh tenaga itu untuk anak saya. Umurnya empat tahun. Dia tidak akan pernah tahu kakeknya siapa, dan saya rasa itu bukan kekejaman, itu perlindungan."
"Anak saya juga empat tahun lagi akan bertanya," gumam Akira.
"Maka jawab lebih jujur dari yang dilakukan ayah saya."
Samuel merapikan surat-surat itu kembali ke dalam kotak, satu ikat demi satu ikat, lalu menutupnya.
"Saya tidak ingin mewarisi kebencian ayah," katanya.
Kalimat itu diucapkan tanpa nada besar, seperti orang menyebutkan keputusan yang sudah lama dibuatnya sendiri, jauh sebelum ada yang menanyakannya.
Samuel menjadi saksi terakhir dalam kasus Damian.
Ia bersaksi selama hampir empat jam. Ia menyerahkan seluruh isi kotak seng itu sebagai bukti, termasuk surat-surat yang menyebut nama, tanggal, dan tempat yang selama ini hanya ada dalam dugaan penyidik. Beberapa surat menjelaskan bagaimana uang dipindahkan lewat yayasan palsu. Beberapa lagi menyebut anggota jaringan yang belum pernah tersentuh.
Kesaksiannya membuat pengadilan menutup seluruh jaringan. Sembilan nama yang tersisa di daftar Raka ditangkap dalam dua bulan berikutnya. Dua rekening di luar negeri dibekukan. Perkara yang sudah bertahun-tahun menggantung akhirnya dinyatakan selesai seluruhnya, tanpa sisa.
Damian tidak hadir di persidangan anaknya. Ia menolak dibawa keluar dari sel, dan surat pemberitahuannya dikembalikan tanpa tanda tangan.
Samuel tidak menanyakannya. Ia hanya bertanya satu kali kepada pengacara, apakah ayahnya sehat, lalu tidak pernah menyebut namanya lagi selama sisa kunjungannya.
Sore terakhir sebelum Samuel pulang, Akira membawanya bertemu Sofia.
Mereka bertemu di teras rumah perlindungan, tempat anak-anak sedang bermain di halaman. Sofia sedang mengupas mangga. Ia tidak berhenti mengupas waktu Akira memperkenalkan tamunya.
Samuel berdiri kaku. Ia tidak tahu harus menyebut dirinya apa di depan perempuan itu.
"Bu, saya anak orang yang membuat suami Ibu meninggal."
"Mama tahu siapa kamu," kata Sofia tenang. "Duduk dulu. Mangganya belum selesai."
Samuel duduk. Selama beberapa menit tidak ada yang bicara, hanya suara pisau dan suara anak-anak berteriak di halaman.
"Kamu tidak pernah ketemu ayahmu?" tanya Sofia akhirnya.
"Tidak pernah. Sekali pun tidak."
Sofia mengangguk. Ia menyodorkan sepotong mangga ke arah Samuel.
"Berarti kita berdua kehilangan orang yang sama-sama tidak sempat kita ajak bicara."
Samuel menerima potongan mangga itu dengan dua tangan, seperti anak kecil yang diberi sesuatu oleh orang yang jauh lebih tua. Matanya memerah, tetapi ia tidak menangis, dan Sofia berpura-pura tidak melihat.
Mereka saling memaafkan meskipun tidak memiliki hubungan darah, dan meskipun tidak satu pun dari mereka mengucapkan kata maaf hari itu.