Perpustakaan kota buka pukul delapan, tetapi mereka sudah menunggu di depan pintunya sejak pukul tujuh lewat.
Gedungnya tua, berlantai tiga, dengan tangga marmer yang bagian tengahnya sudah cekung karena terlalu lama diinjak. Bau di dalamnya persis seperti bau di kamar tersembunyi rumah lama: kertas, debu, dan waktu yang mengendap.
Theo yang menunjukkan raknya. Ia mengingat nomornya, dan itu yang membuat Akira merinding.
"Bapak hafal?" tanyanya.
"Saya yang mengantar bukunya ke sini," jawab Theo. "Umur enam belas. Pak Damian bilang itu tugas sekolah."
Rak itu berisi buku-buku hukum terbitan tahun delapan puluhan, jenis buku yang mungkin tidak dipinjam lima belas tahun terakhir. Kartu pinjamannya masih diselipkan di kantong belakang, kosong, tanpa satu pun cap tanggal.
Buku yang mereka cari ada di urutan keempat dari kanan. Sampulnya tebal, berwarna cokelat, judulnya tentang hukum perjanjian.
Petugas perpustakaan sempat menahannya. Buku koleksi lama tidak boleh dibawa keluar rak tanpa izin, katanya, sambil melirik tiga orang dewasa yang datang sepagi itu untuk satu buku hukum terbitan lama.
"Kami tidak akan membawanya keluar," kata Akira. "Kami cuma mau membacanya di sini."
Petugas itu mengizinkan, tetapi ikut berdiri tidak jauh dari meja mereka.
Albert membukanya di meja baca dekat jendela. Cahaya pagi masuk miring dan jatuh tepat di atas halaman.
Di dalamnya, halaman-halaman tengahnya telah dipotong membentuk kotak, rapi sekali, dengan pisau yang sangat tajam. Di dalam lubang itu tersimpan sebuah amplop tipis.
Albert menemukan buku dengan halaman yang dipotong, dan di dalamnya terdapat daftar pembayaran dan surat Damian.
Daftar pembayaran itu ditulis tangan dalam kolom-kolom: tanggal, nama, jumlah, keterangan. Beberapa nama sudah mereka kenal dari persidangan. Beberapa nama lain baru muncul hari itu.
Suratnya ditulis di kertas bergaris, tiga lembar, dengan tulisan yang makin lama makin miring.
Akira membacanya dengan suara pelan, karena Albert memintanya begitu.
Damian menulis bahwa ia tidak ingin membunuh siapa pun. Ia menulis bahwa pada awalnya ia hanya ingin membuat dua keluarga itu kehilangan uang, supaya mereka tahu rasanya kehilangan. Tetapi setiap langkah membutuhkan langkah berikutnya. Satu dokumen palsu membutuhkan satu saksi yang dibayar. Satu saksi yang dibayar membutuhkan satu orang yang dibungkam. Dan begitu ada yang meninggal, tidak ada lagi jalan untuk berhenti tanpa dihukum.
Tetapi dendam membuatnya terus melangkah.
Akira berhenti membaca di kalimat itu. Ia meletakkan kertasnya.
"Ini bukan pembelaan," katanya. "Ini pengakuan orang yang tahu dia salah dan tetap melakukannya."
"Itu yang paling menakutkan," jawab Albert.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Akira.
Albert mengangguk sekali. Tetapi tangannya masih di tepi meja, dan buku jarinya memutih.
"Saya menghabiskan bertahun-tahun membenci orang yang salah," katanya. "Ibu kamu. Kamu. Padahal orangnya menulis semuanya di sini, dan buku ini cuma berjarak dua puluh menit dari kantor saya."
Theo menunggu sampai mereka selesai membaca sebelum bicara.
"Ada yang tidak tertulis di situ," katanya. "Dan saya rasa kalian berhak tahu."
Theo menjelaskan Damian pernah memiliki saudara yang meninggal karena kecelakaan kerja di perusahaan keluarga Albert. Adik laki-lakinya, umur dua puluh dua, bekerja sebagai buruh angkut di gudang. Perancah roboh. Anak itu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Kapan?" tanya Albert.
"Dua tahun sebelum semuanya dimulai."
"Perusahaan membayar?"
"Membayar." Theo mengangguk. "Tapi Pak Damian tidak pernah mau tahu siapa yang salah. Dia sudah memutuskan dari hari pertama."
"Bapak pernah bilang ke dia?" tanya Akira.
"Sekali. Waktu saya kuliah." Theo tersenyum kecil, senyum yang tidak ada senangnya. "Dia bilang, kebenaran itu untuk orang yang tidak kehilangan apa-apa."
Albert mencari berkasnya kemudian, lewat arsip lama perusahaan yang masih disimpan Livia. Butuh dua hari sampai kardusnya ketemu, karena arsip tahun itu tersimpan dalam kategori yang salah. Laporan kecelakaan itu ada, lengkap, ditandatangani. Penyebabnya kesalahan pemasangan oleh mandor pihak ketiga, yang kemudian dipecat dan diproses. Keluarga korban menerima santunan penuh, ditambah biaya pendidikan untuk anak-anak yang ditinggalkan.
Nama yang menandatangani surat santunan itu adalah kakek Albert.
Damian menyalahkan keluarga Albert tanpa mencari kebenaran.
"Semuanya berdiri di atas ini," kata Akira lama kemudian, di mobil, sambil memandangi jalan. "Satu kecelakaan yang sudah ada laporannya. Satu orang yang tidak mau membaca laporannya."
"Lalu tiga puluh tahun," sambung Albert.
"Dua ibu meninggal. Anak-anak dijual. Aku hampir mati dua kali."
Akira merasa sedih mengetahui banyak orang membangun hidupnya dari kesalahpahaman. Bukan sedih yang meledak, tetapi sedih yang berat dan pelan, jenis yang membuat orang diam di sepanjang perjalanan pulang.
"Kalau dulu ada satu orang saja yang bertanya," gumamnya, "semua ini tidak perlu terjadi."
"Bertanya itu susah," kata Albert. "Bertanya berarti kamu siap jawabannya membuat kemarahan kamu tidak ada gunanya."
Ia diam sebentar, matanya lurus ke jalan. "Ibu saya bertanya. Cuma waktu itu tidak ada yang mau menjawab."
Dokumen-dokumen itu diserahkan minggu berikutnya.
Mereka menyerahkan dokumen terakhir kepada pengadilan lewat pengacara, bersama keterangan tertulis Theo dan salinan laporan kecelakaan tiga puluh tahun lalu. Hakim menerimanya, mencatatnya sebagai bukti tambahan, lalu menyatakan berkas perkara lengkap.
Tidak ada lagi rahasia hukum yang tersisa.
Akira menandatangani tanda terimanya sendiri. Tangannya mantap. Di luar gedung pengadilan hari itu tidak ada wartawan, tidak ada kamera, hanya tukang parkir yang menawarkan jasa dan seekor kucing yang tidur di atas motor.
"Aku kira akan terasa lebih besar," katanya.
"Yang besar biasanya sudah lewat waktu kita tidak memperhatikan," jawab Albert.
Malamnya, Albert membereskan buku bersampul cokelat itu untuk dikembalikan ke perpustakaan. Ia membaliknya sekali lagi, memeriksa kalau-kalau masih ada yang terselip.
Dan di halaman paling belakang, di margin bawah, dengan pensil yang hampir tidak terlihat, tertulis satu baris.
Buku itu memiliki halaman terakhir yang menyebut sebuah nama: Samuel.
Albert membacanya dua kali. Ia memanggil Akira dari ruang sebelah.
"Siapa Samuel?"
"Tidak ada Samuel di berkas perkara," kata Akira sambil membuka map birunya. "Tidak ada di daftar saksi, tidak ada di daftar tersangka, tidak ada di daftar korban."
"Berarti dia sengaja tidak dimasukkan."
Mereka mencarinya sampai lewat tengah malam, dengan kopi yang dingin dan Arkan yang sudah lama tidur di kamar sebelah. Livia yang menemukan jawabannya, di salinan akta lama yang tersimpan di berkas kependudukan.
Samuel adalah anak Damian, yang dianggap meninggal saat bayi.