Sekolah itu sudah tidak digunakan.
Papan namanya masih terpasang di gerbang, tetapi catnya mengelupas sampai hanya tersisa tiga huruf yang bisa dibaca. Rumput di lapangan setinggi lutut. Tiang bendera masih berdiri, miring sedikit ke kanan, tanpa tali.
Penjaga sekolah yang sudah tua membukakan gembok untuk mereka. Ia mengaku sudah dua belas tahun menjaga bangunan kosong itu, dibayar oleh sebuah yayasan yang setiap bulan mengirim uang tanpa pernah mengirim orang.
"Yayasannya namanya apa, Pak?" tanya Akira.
Penjaga itu menyebut sebuah nama. Albert dan Akira saling berpandangan. Yayasan itu adalah nama yang tertulis di rancangan perjanjian yang mereka temukan kemarin, yayasan yang seharusnya berdiri tiga puluh tahun lalu dan tidak pernah jadi.
"Berarti sebagian dari rencana itu jalan," kata Akira pelan. "Diam-diam."
Mereka berjalan menyusuri koridor lebih dulu. Sepatu mereka meninggalkan jejak di lantai berdebu. Di dinding masih menempel poster pelajaran yang warnanya sudah luntur, dan di salah satu kelas, papan tulisnya masih memuat tulisan kapur yang sudah setengah terhapus: tugas minggu depan.
"Tidak ada yang sempat mengerjakannya," gumam Akira.
Albert berhenti di depan pintu kelas itu agak lama.
Ruang kepala sekolah ada di ujung koridor, di balik pintu bercat hijau yang engselnya berkarat. Di dalamnya, di balik lemari besi yang isinya sudah lama dikosongkan, mereka menemukan arsip kegiatan keluarga Albert dan Sofia.
"Kok tidak pernah dibuang, Pak?" tanya Akira kepada penjaga.
"Ada pesan tidak boleh dibuang," jawab penjaga itu sambil mengangkat bahu. "Dari yayasan. Saya cuma menurut."
Map-map itu ditumpuk di dalam kardus, dilabeli dengan tulisan tangan yang rapi. Foto kegiatan bakti sosial. Daftar hadir rapat orang tua. Kwitansi sumbangan. Dan di dasar kardus, sebuah kaset video dalam kotak plastik yang labelnya sudah pudar.
Livia yang membawa alat pemutarnya keesokan hari, dipinjam dari pusat arsip. Mereka memutarnya di ruang tengah rumah, dengan tirai ditutup karena layarnya terlalu redup.
Gambarnya bergoyang di detik-detik pertama. Lalu muncul sebuah aula, meja panjang, dan dua perempuan muda yang duduk berdampingan sambil berbicara ke arah kamera.
Sebuah video lama memperlihatkan ibu Albert dan Sofia berbicara tentang anak-anak mereka.
Suaranya berdesis, tetapi kalimatnya terdengar jelas.
"Anak saya laki-laki, baru lima tahun. Keras kepalanya minta ampun."
"Punya saya perempuan, umurnya empat. Sama saja."
"Kalau nanti yayasan ini jalan, mereka yang akan meneruskan, ya?"
"Jangan dipaksa." Sofia muda tertawa di layar. "Saya cuma mau mereka tidak mewarisi apa-apa yang buruk dari kita. Urusan kita ya urusan kita."
"Betul. Biar mereka mulai dari bersih."
Mereka berharap Albert dan Akira tidak mewarisi kebencian.
Kamera bergerak sedikit, lalu terdengar suara anak-anak dari luar ruangan, dan dua perempuan itu menoleh ke arah suara sambil tertawa. Videonya berhenti di situ.
Albert menonton dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak menangis. Ia hanya duduk sangat tegak, seperti orang yang menahan sesuatu dengan seluruh tubuhnya. Akira melihat jakunnya naik turun dua kali.
"Mereka ingin kita berteman," katanya.
Suaranya pecah di kata terakhir.
Akira tersenyum. "Kita akhirnya menjadi lebih dari itu."
"Dengan jalan yang paling buruk yang bisa dipilih."
"Tapi sampai juga." Akira meletakkan tangannya di atas tangan Albert. "Mereka tidak menulis caranya, cuma tujuannya."
Albert memutar video itu sekali lagi malam harinya, sendirian, dan Akira membiarkannya.
Paginya Akira menemukan laki-laki itu tertidur di sofa dengan layar masih menyala, mengulang gambar yang sama tanpa suara. Ia mematikan alatnya, menyelimuti Albert, dan tidak menanyakan apa pun ketika suaminya bangun nanti.
Arsip yang lain dibaca selama tiga hari berikutnya. Livia membantu memilah, mengelompokkan berdasarkan tahun, mencatat nama-nama yang muncul berulang.
Dari situlah yang berikutnya muncul.
Arsip juga menunjukkan bahwa Damian menyusup sebagai guru tamu. Namanya tercatat dalam daftar pengajar sukarela untuk mata pelajaran keterampilan, hanya satu semester, tanpa gaji. Fotonya ada di halaman kegiatan: laki-laki kurus dengan kacamata tebal, berdiri di barisan belakang, tidak menatap kamera.
"Kenapa mau mengajar gratis?" tanya Akira.
"Karena dia tidak datang untuk mengajar," jawab Albert.
Ruang guru bersebelahan dengan ruang rapat. Dindingnya tipis. Selama satu semester itu, Damian duduk di ruangan sebelah setiap kali kedua keluarga membicarakan rencana mereka. Ia mendengar rencana kedua keluarga dan mulai menyusun balas dendam dari sana, dengan kesabaran yang membuat Akira merinding waktu memahaminya.
"Dia menunggu bertahun-tahun," kata Akira. "Siapa yang bisa membenci selama itu?"
Albert tidak menjawab. Ia pernah menjadi orang seperti itu, dan Akira sadar pertanyaannya terlambat ditarik.
"Maaf."
"Tidak apa-apa. Jawabannya saya."
Di halaman terakhir daftar hadir, ada nama seorang siswa yang ditulis berulang kali di kolom asisten guru tamu. Siswa yang selalu membantu Damian membawa berkas, menyalin dokumen, membuka ruangan.
Mereka menemukan nama seorang siswa yang pernah membantu Damian: Theo.
Melacaknya tidak sulit. Nama lengkapnya terlalu khas untuk hilang, dan Livia menemukannya dalam waktu kurang dari satu jam lewat arsip alumni yang diunggah sekolah lain.
Theo kini menjadi dosen di sebuah universitas swasta, mengajar hukum administrasi. Rambutnya sudah beruban di pelipis. Ia menerima telepon Albert dengan tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja ditanyai tentang peristiwa tiga puluh tahun lalu.
"Saya sudah menunggu telepon ini sejak berita itu keluar," katanya.
"Menunggu?" ulang Albert.
"Orang yang menyimpan sesuatu selama tiga puluh tahun selalu tahu suatu hari ada yang mengetuk pintunya."
Mereka bertemu di kantin kampus yang sepi karena sedang libur semester. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, dan hanya ada satu penjual yang masih buka. Theo mengaduk kopinya lama sekali sebelum mulai bicara.
"Saya waktu itu enam belas tahun. Pak Damian baik ke saya, dia bayar uang sekolah saya dua kali." Ia menghela napas. "Saya tidak tahu kertas-kertas yang saya salin itu untuk apa. Baru sepuluh tahun kemudian saya mengerti."
"Kenapa tidak lapor?" tanya Akira.
"Lapor ke siapa? Waktu itu semuanya sudah terjadi. Ibu Anda sudah meninggal, keluarga Anda sudah hancur." Theo menatap cangkirnya. "Dan saya pengecut. Itu jawaban yang sebenarnya."
Albert tidak menyalahkannya. Ia sendiri pernah tahu sesuatu dan memilih diam lebih lama dari itu.
"Bapak tidak saya tuntut," katanya. "Saya cuma butuh satu hal."
"Apa?"
"Apakah masih ada salinannya."
Theo bersedia memberi keterangan resmi di depan pengadilan, ditandatangani, dengan namanya sendiri. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat Albert langsung berdiri dari kursinya.
Ia mengatakan Damian menyimpan salinan dokumen di perpustakaan kota.