Rumah lama itu kembali dibuka setelah bertahun-tahun.
Pintu depannya macet. Damar harus mendorongnya dengan bahu sampai engselnya berderit panjang, dan begitu terbuka, debu naik seperti asap tipis yang berputar di sinar matahari pagi. Bau di dalamnya khas: kayu lembap, kertas tua, dan sedikit bau besi dari pipa yang bertahun-tahun tidak dialiri air.
Akira berhenti di ambang pintu. Terakhir kali ia berada di rumah ini, ia masih menjadi orang yang ketakutan setiap kali mendengar mobil berhenti di halaman.
"Kamu tidak harus masuk," kata Albert.
"Aku mau masuk." Akira melangkah lebih dulu. "Kalau aku menunggu di luar, rumah ini menang lagi."
Sofia menyusul di belakang mereka, membawa tas kecil yang sejak tadi dipeluknya. Di dalam tas itu ada sesuatu yang ia simpan lebih lama daripada yang pernah ia akui kepada siapa pun.
Ia mengeluarkannya di ruang tengah, di atas meja yang masih tertutup kain putih.
Sebuah kunci kecil. Kuningan, panjangnya tidak lebih dari jari kelingking, dengan ukiran halus di bagian kepalanya yang sudah aus.
"Kunci apa ini, Mama?"
"Mama tidak tahu," jawab Sofia. "Kunci ini dititipkan ibu Albert kepada Mama, dua minggu sebelum dia meninggal. Dia cuma bilang, kalau suatu hari anak-anak kita sudah selesai saling membenci, berikan ini."
Albert mengambil kunci itu. Benda sekecil itu terasa lebih berat dari seharusnya di telapak tangannya.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena baru sekarang kalian selesai."
"Dia titip apa lagi?" tanya Albert.
"Cuma satu kalimat lagi." Sofia menatap dinding, mengingat. "Dia bilang, yang disimpan di balik buku tidak akan pernah dibakar orang yang tidak suka membaca."
Akira mengangkat wajah. "Perpustakaan."
Kamar tersembunyi itu berada di balik perpustakaan.
Mereka mencarinya hampir dua jam. Dinding diketuk satu per satu, rak digeser, karpet diangkat. Damar yang akhirnya menemukannya, waktu ia menyandarkan diri ke rak paling ujung dan seluruh rak itu bergeser satu sentimeter.
Di belakangnya ada pintu kayu setinggi dada orang dewasa, dengan lubang kunci yang terlalu kecil untuk pintu sebesar itu.
Kunci kuningan itu masuk dengan mulus. Bunyinya satu kali, klik pendek, dan pintu terbuka ke dalam.
Ruangannya sempit, mungkin tiga kali tiga meter. Tidak ada jendela. Di dalamnya terdapat foto-foto yang digantung berjajar di dinding, setumpuk surat yang diikat pita, dan sebuah kotak musik dari kayu gelap yang diletakkan di atas meja kecil di tengah ruangan, seperti sengaja ditaruh untuk ditemukan.
Albert menyalakan senter ponselnya. Sinarnya bergerak dari satu foto ke foto lain.
"Ini ibu saya," katanya pelan. "Ini juga. Ini... ini ibu kamu."
Akira mendekat. Di foto itu, dua perempuan muda berdiri berdampingan di depan sebuah aula, tertawa ke arah kamera, memegang gelas kertas.
"Mereka kenal," bisik Akira. "Mereka benar-benar kenal."
Sofia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di ambang pintu dan menutup mulutnya dengan tangan.
Kotak musik itu dibuka Albert.
Bunyinya keluar tersendat di awal, lalu lancar. Lagu yang sederhana, nada-nada kecil yang naik dan turun, jenis lagu yang dinyanyikan orang tua sambil menepuk punggung anaknya.
Albert langsung mengenalinya. Kotak musik itu memainkan lagu yang sering dinyanyikan ibunya, lagu yang selama ini ia kira hanya ada di kepalanya sendiri, lagu yang tidak pernah bisa ia cari judulnya di mana pun.
Ia duduk di lantai. Begitu saja, tanpa memedulikan debu.
"Saya pikir saya mengarang lagu ini," katanya. "Bertahun-tahun saya pikir saya mengarangnya sendiri."
Akira berjongkok di sampingnya dan membiarkan lagu itu selesai sampai habis.
Di balik tutup kotak itu, ketika sinar senter diarahkan lebih dekat, terlihat ukiran tangan. Dua nama, digores dengan benda tajam, tidak rapi tetapi jelas.
Albert dan Akira.
"Ini ditulis kapan?" tanya Akira, suaranya nyaris hilang.
"Sebelum kita tahu satu sama lain ada," jawab Albert.
Sofia menyalakan lampu kecil yang dibawa Damar dari mobil, lalu duduk di kursi lipat di dekat pintu. Ia tidak ikut masuk terlalu dalam.
"Mama tidak mau lihat?"
"Mama sudah tahu sebagian," katanya. "Yang Mama tidak tahu cuma bagian yang tidak sempat dia ceritakan."
Surat-suratnya dibuka kemudian, satu per satu, di lantai ruangan sempit itu.
Albert menemukan surat yang menjelaskan bahwa kedua keluarga sebenarnya pernah merencanakan kerja sama damai. Ada rancangan perjanjian di dalamnya, ditulis tangan, tentang penggabungan dua usaha kecil menjadi satu yayasan pendidikan. Ada daftar nama calon pengurus. Ada tanggal yang sudah disepakati untuk penandatanganan.
Tanggal itu tidak pernah terjadi.
Konflik dimulai ketika Damian mencuri dokumen dan memalsukan perjanjian. Versi palsu itulah yang sampai ke kedua keluarga, isinya saling merugikan, ditandatangani dengan tanda tangan yang ditiru. Dari situ semuanya runtuh: tuduhan, gugatan, hutang yang tidak pernah ada, dan akhirnya kematian yang membuat seorang anak laki-laki tumbuh dengan satu tujuan saja.
Albert membaca surat terakhir ibunya di lembar paling bawah. Tulisannya miring dan terburu-buru.
"Ibu ingin kita tumbuh tanpa membawa dosa orang tua," kata Albert.
Ia mengulang kalimat itu sekali lagi, lebih pelan, seperti mencoba mempercayainya.
"Dan aku menghabiskan setengah hidupku melakukan persis kebalikannya."
"Kamu tidak tahu," kata Akira.
"Saya tidak mencari tahu. Itu beda." Albert melipat surat itu dengan hati-hati, mengikuti lipatan lamanya. "Semua yang saya butuhkan untuk berhenti ada di ruangan ini, dan saya tidak pernah masuk. Bertahun-tahun saya lewat di depan rak itu."
"Kalau kamu masuk waktu itu, kamu belum tentu percaya."
Albert diam. Akira benar, dan mereka berdua tahu.
Akira sedang merapikan tumpukan foto ketika satu lembar terjatuh dan berputar ke lantai.
Ia memungutnya. Foto lama, warnanya sudah kekuningan, diambil di sebuah acara keluarga dengan meja panjang dan balon di belakangnya. Di sudut kiri ada anak perempuan berumur sekitar empat tahun, memakai pita, sedang merebut sepotong kue dari tangan seorang anak laki-laki yang lebih tinggi.
Anak perempuan itu Akira. Anak laki-laki itu Albert.
Mereka pernah bertemu sebelum saling mengenal, tetapi tidak mengingatnya.
"Aku merebut kuemu," kata Akira.
"Dan saya kelihatan marah sekali."
"Kamu memang selalu begitu."
Mereka tertawa di ruangan berdebu itu, tawa yang aneh, setengah menangis.
Ketika kotak musik dikosongkan untuk dibawa pulang, Albert menemukan lapisan kayu tipis di dasarnya yang bisa diangkat.
Di bawahnya ada dua benda: sebuah kunci rekening baru yang tidak pernah disebut dalam berkas mana pun, dan secarik kertas bertuliskan alamat sebuah sekolah lama.