Satu tahun setelah Victor ditangkap, jaringan lama hampir sepenuhnya dibubarkan.
Prosesnya tidak seperti di film. Tidak ada satu malam besar ketika semuanya runtuh sekaligus. Yang ada adalah daftar panjang yang dicoret satu per satu selama dua belas bulan: rekening dibekukan, gudang disegel, nama-nama dipanggil ke pengadilan, perusahaan cangkang dibubarkan lewat surat yang isinya membosankan. Akira menyimpan salinan setiap surat itu di map biru, dan map itu sekarang setebal bantal.
Anak-anak dari panti ilegal tinggal di rumah perlindungan. Ada dua puluh tujuh orang, umurnya dari empat sampai tujuh belas tahun. Semuanya sudah bersekolah, meskipun sebagian harus mulai dari kelas yang jauh di bawah umurnya karena bertahun-tahun tidak pernah memegang buku.
Damar menjadi kakak yang disukai semua anak. Ia yang membangunkan mereka pagi-pagi, yang mengantre di depan kamar mandi sambil berteriak menghitung mundur, yang mengajari cara mengikat tali sepatu dan cara menjawab kalau ada orang asing bertanya nama. Anak-anak kecil memanggilnya Bang Damar, dan ia pura-pura tidak suka padahal wajahnya berubah setiap kali dipanggil begitu.
Livia memimpin pusat arsip. Ia yang menyusun ulang seluruh dokumen kasus menjadi sistem yang bisa dicari dalam hitungan detik, sesuatu yang dulu memakan waktu berhari-hari. Sementara Raka membantu polisi melacak sisa anggota jaringan yang masih berkeliaran, biasanya dengan cara yang tidak bisa dilakukan polisi sendiri: mendengarkan, menunggu di warung kopi, mengenali wajah lama.
Akira sempat berkunjung ke rumah perlindungan pada bulan keenam. Ia datang membawa seragam sekolah yang dipesan dari penjahit langganan Sofia, dan menghabiskan sore itu mengukur bahu anak-anak satu per satu.
"Kak, nanti kalau aku sudah besar, boleh kerja di kantor Kakak?" tanya seorang anak perempuan berumur sembilan tahun.
"Boleh. Tapi syaratnya satu."
"Apa?"
"Sekolahnya sampai selesai. Jangan berhenti di tengah."
Anak itu mengangguk serius, seperti sedang menandatangani perjanjian.
Livia menunjukkan sistem arsipnya kepada Akira malam itu. Semua berkas kasus, semua kesaksian, semua nama, tersimpan rapi dan bisa dicari.
"Kenapa disimpan sebanyak ini?" tanya Akira. "Kasusnya sudah lewat."
"Justru karena sudah lewat," jawab Livia. "Orang paling cepat lupa pada hal yang sudah selesai. Kalau nanti ada yang mencoba mengulang caranya, kita tidak perlu mulai dari nol."
"Berapa lagi?" tanya Albert suatu kali.
"Sembilan," jawab Raka. "Tapi mereka kecil-kecil. Yang besar sudah habis."
Arkan merayakan ulang tahun keduanya bersama keluarga besar. Pestanya di halaman belakang, dengan balon yang dipasang miring oleh Damar dan kue yang gosong sedikit di bagian bawah karena Akira bersikeras membuatnya sendiri.
Anak-anak rumah perlindungan datang semua, naik satu mobil bak yang disewa Damar, berdesakan dan bernyanyi sepanjang jalan. Sera membawa panci besar berisi soto, dan selama satu jam penuh dapur tidak pernah kosong.
Anak itu berlari ke mana-mana dengan celana yang selalu melorot, mengejar kucing tetangga, menjatuhkan gelas plastik, lalu tertawa keras setiap kali ada yang mengejarnya. Sofia mengikuti dari belakang sambil membawa lap, mengeluh tetapi tidak berhenti tersenyum.
Tidak ada pesan ancaman hari itu. Tidak ada mobil asing yang parkir terlalu lama di ujung jalan. Tidak ada orang bertopeng, tidak ada telepon dari nomor yang tidak dikenal, tidak ada amplop yang diselipkan di bawah pintu.
Akira baru menyadari hal itu menjelang sore, ketika tamu-tamu mulai pulang dan halaman kembali sepi. Selama dua tahun ia terbiasa menghitung mobil di jalan. Hari itu ia lupa menghitung, dan baru sadar bahwa ia lupa.
"Ada apa?" tanya Sofia yang lewat membawa tumpukan piring kotor.
"Tidak ada apa-apa, Mama. Itu masalahnya. Seharian ini tidak ada apa-apa."
Sofia meletakkan piring-piring itu di meja, lalu mengusap punggung anaknya sekali. "Butuh waktu supaya badan percaya pada keadaan yang aman. Kepala duluan yang tahu, badan belakangan."
Ia duduk di anak tangga beranda, memeluk lutut. Dari sana ia melihat Albert menggendong Arkan yang akhirnya kelelahan. Kepala anak itu bersandar di leher ayahnya, tangannya menggenggam sisa lilin angka dua.
Akira melihat Albert menggendong Arkan dan tersenyum.
Albert berjalan mendekat, lalu duduk di anak tangga yang sama, hati-hati supaya anaknya tidak terbangun.
"Kamu berubah banyak," katanya.
"Kamu juga."
Mereka diam sebentar. Lampu taman menyala satu per satu, dipasang otomatis sejak masa-masa mereka harus berpindah rumah aman.
"Dulu aku sangat membencimu."
Albert tidak tersinggung. Ia bahkan tidak terlihat terkejut, seperti orang yang sudah lama menunggu kalimat itu diucapkan terang-terangan.
"Saya pantas mendapatkannya."
"Aku pernah menghitung berapa langkah dari kamar ke dapur, cuma untuk tahu berapa lama aku bisa sampai ke pisau." Akira mengatakannya pelan, tanpa nada mengancam, seperti orang menyebutkan cuaca tahun lalu. "Aku tidak pernah cerita itu ke siapa-siapa."
Albert menunduk. Ia tahu tidak ada jawaban yang pantas untuk kalimat seperti itu, dan ia tidak berusaha mencarinya.
"Kenapa cerita sekarang?"
"Karena aku janji tidak akan menyimpan apa pun." Ia menoleh. "Dan karena sekarang aku mencintaimu."
Albert menoleh juga. Untuk beberapa saat ia tidak bisa berkata apa-apa. Lalu ia memindahkan Arkan sedikit ke bahu kiri, dan dengan tangan yang bebas ia menarik kepala Akira mendekat.
Albert mencium keningnya. "Saya juga."
Malam itu, setelah Arkan dipindahkan ke tempat tidurnya dan piring-piring selesai dicuci, mereka menerima surat dari pengadilan. Kurirnya datang terlambat, minta maaf berkali-kali karena alamatnya sempat salah.
Mereka membukanya berdua di meja makan, di bawah lampu gantung yang satu bohlamnya mati sejak minggu lalu dan belum sempat diganti.
Amplopnya tebal, distempel di tiga tempat. Isinya pernyataan bahwa semua aset lama telah diselesaikan: tidak ada lagi tuntutan, tidak ada rekening tersembunyi, tidak ada pihak ketiga yang menyimpan klaim atas nama keluarga mana pun.
Akira membacanya dua kali. Lalu ia membacanya untuk ketiga kalinya, lebih pelan, seakan takut ada satu kalimat kecil yang membatalkan semuanya.
"Selesai," katanya. "Beneran selesai."
"Beneran selesai," ulang Albert.
"Kenapa suaramu seperti orang kecewa?"
"Karena aku sudah menyiapkan diri untuk bertahun-tahun lagi." Akira menghela napas panjang. "Sekarang aku tidak tahu harus memikirkan apa besok pagi."
"Besok pagi kamu memikirkan sarapan," kata Albert. "Itu saja dulu."
Akira meletakkan surat itu di meja, dan hendak berdiri untuk mengambil air ketika matanya menangkap sesuatu.
Namun, di bagian bawah surat terdapat catatan kecil dari Sofia, ditulis tangan dengan tinta biru, di ruang kosong yang biasanya dibiarkan kosong:
"Ada satu kamar di rumah lama yang belum pernah dibuka. Mungkin sudah waktunya kalian mengetahui rahasia terakhir."