Albert menyadarinya pada malam yang biasa saja, ketika rumah sudah sepi dan lampu tinggal satu yang menyala di dapur.
Akira sedang menghangatkan susu untuk Arkan. Rambutnya diikat asal, kaus kakinya tidak sepasang, dan ia bersenandung pelan tanpa sadar. Albert memperhatikannya dari ambang pintu, dan tiba-tiba satu pikiran datang begitu saja, dingin dan jelas seperti air yang tumpah ke kaki.
Perempuan itu tidak pernah memilihnya.
Pernikahan mereka dahulu dimulai dari paksaan dan dendam. Dari surat perjanjian yang disodorkan di ruangan tertutup, dari ancaman yang tidak perlu diucapkan karena Akira sudah tahu apa yang bisa Albert lakukan pada ibunya. Tidak ada satu pun bagian dari malam itu yang bisa disebut kesediaan.
Albert ingin mengulang janji mereka secara sadar. Bukan untuk menghapus yang dulu, karena yang dulu tidak bisa dihapus. Tetapi supaya ada satu hari dalam hidup Akira ketika perempuan itu berdiri di depannya dan boleh mengatakan tidak.
Ia menunggu sampai Arkan cukup sehat. Bayi itu sempat dua kali masuk rumah sakit karena demam, dan selama itu tidak ada kata-kata lain di rumah kecuali suhu tubuh dan jadwal obat. Baru setelah dokter mengatakan semuanya normal, Albert mengajak Akira duduk di beranda belakang.
"Saya mau menikahi kamu," katanya.
Akira terkejut. Cangkir di tangannya berhenti di udara. "Kita sudah menikah."
"Saya tahu."
"Surat-suratnya ada di laci. Aku yang menyimpannya."
"Saya juga tahu." Albert menggosok telapak tangannya sendiri, gerakan yang biasa ia lakukan kalau sedang gugup dan tidak mau kelihatan gugup. "Tapi waktu kamu menandatanganinya, kamu menandatangani karena takut. Kamu tidak punya pilihan lain waktu itu."
Akira tidak menjawab.
"Saya ingin kamu memilih saya tanpa merasa terjebak."
Angin malam masuk dari kebun, membawa bau tanah basah. Di dalam rumah, terdengar Arkan menggeliat di boksnya lalu tenang lagi.
"Kalau aku bilang tidak?" tanya Akira pelan.
"Maka saya akan mengantar kamu dan Arkan ke mana pun kamu mau, dan saya tetap membayar semuanya sampai kalian tidak membutuhkan saya lagi." Albert mengatakannya tanpa jeda, seperti kalimat yang sudah lama ia siapkan. "Itu bagian dari memilih. Kalau tidak ada pilihan kedua, namanya bukan memilih."
Akira menatap laki-laki itu lama sekali. Ia teringat kamar hotel bertahun-tahun lalu, teringat suaranya sendiri yang memohon, teringat betapa ia pernah berdoa supaya laki-laki di depannya ini mati.
Lalu ia mengangguk.
"Aku mau," katanya. "Tapi jangan gedung. Jangan wartawan. Jangan pesta."
"Di mana?"
"Di taman rumah. Yang datang cuma orang yang tahu seluruh ceritanya."
Albert menyetujuinya tanpa menawar.
"Satu lagi," kata Akira. "Ibumu harus datang."
Albert terdiam. Hubungannya dengan perempuan itu tidak pernah pulih sepenuhnya sejak persidangan. Mereka bicara di telepon sebulan sekali, dan setiap percakapan berakhir dengan salah satu dari mereka mencari alasan untuk menutup.
"Kenapa?"
"Karena kalau dia tidak datang, Arkan akan tumbuh dengan satu nenek yang cuma jadi cerita." Akira meletakkan cangkirnya. "Aku tidak mau anakku mewarisi daftar orang yang tidak boleh disebut namanya."
Albert menelepon ibunya keesokan paginya. Percakapan itu berlangsung empat menit, sebagian besar berisi jeda. Tetapi di akhir, perempuan itu bertanya jam berapa acaranya, dan Albert menjawab pukul empat sore.
Upacara itu digelar tiga minggu kemudian, pukul empat sore, ketika matahari sudah turun cukup rendah sehingga rumput di taman berwarna keemasan. Kursinya dipinjam dari rumah perlindungan. Bunganya dipotong dari kebun sendiri. Akira memakai gaun sederhana berwarna gading yang dijahit ulang dari gaun lama ibunya.
Gaun itu dikerjakan berdua di ruang jahit rumah perlindungan selama dua minggu. Sofia yang memegang jarum, Akira yang memegang kain.
"Dulu Mama menikah pakai gaun ini juga," kata Sofia sambil menggigit benang. "Di gedung, ada seratus tamu, semuanya tepuk tangan."
"Mama bahagia?"
Sofia berhenti menjahit sebentar. "Mama tidak ingat. Mama cuma ingat sibuk menyalami orang yang tidak Mama kenal."
"Berarti yang sekarang lebih baik."
"Yang sekarang lebih jujur," ralat Sofia. "Itu beda, dan itu lebih penting."
Sofia menjadi saksi. Ia berdiri di sebelah kiri, memegang buku catatan kecil yang dipakainya untuk mencatat apa saja sejak dulu, dan hari itu buku itu tetap tertutup.
Di sebelah kanan berdiri Mama Albert, yang telah menyelesaikan masa hukumannya tiga bulan sebelumnya. Rambutnya sudah putih hampir seluruhnya. Ia datang tanpa perhiasan, tanpa pengacara, hanya membawa satu tas kain.
Untuk pertama kalinya kedua ibu berdiri di sisi yang sama.
Mereka sempat berpandangan sebelum upacara dimulai. Tidak ada pelukan, tidak ada air mata yang dramatis. Hanya anggukan kecil, jenis anggukan yang diberikan dua orang yang sama-sama pernah kehilangan terlalu banyak untuk berpura-pura akrab.
"Kita berdua tua sekarang," kata Sofia.
"Dan anak-anak kita masih muda," jawab Mama Albert. "Biar mereka yang mengerjakan sisanya."
Tidak ada penghulu dengan mikrofon, tidak ada susunan acara di kertas. Albert berdiri menghadap Akira, mengeluarkan secarik kertas dari saku, lalu memasukkannya kembali karena tangannya gemetar.
"Saya hafal," katanya.
Ia membacakan janji bahwa ia tidak akan pernah menggunakan cinta sebagai alat balas dendam. Tidak sekali pun. Tidak dengan cara halus, tidak dengan diam, tidak dengan menahan sesuatu yang seharusnya ia katakan.
"Saya pernah memakai kamu untuk menghukum orang yang sudah mati," katanya. "Saya tidak bisa mengembalikan tahun-tahun itu. Yang bisa saya janjikan cuma satu: mulai hari ini, kalau saya mencintai kamu, itu tidak ada hubungannya dengan siapa pun selain kamu."
Akira menunggu sampai suaranya sendiri stabil sebelum menjawab.
"Aku janji akan berbicara jujur," katanya. "Termasuk kalau kebenarannya menyakitkan. Termasuk kalau aku marah padamu. Aku dulu diam bertahun-tahun karena mengira diam itu cara bertahan hidup. Aku tidak mau membesarkan anak di rumah yang orang-orangnya menyimpan sesuatu."
"Meskipun sulit?"
"Justru yang sulit itu yang harus dikatakan."
Arkan tidur di pangkuan Sofia selama upacara, dibungkus selimut tipis, mulutnya sedikit terbuka. Beberapa orang sempat melirik ke arahnya dan tersenyum di tengah janji yang sedang diucapkan.
Damar berdiri di barisan belakang bersama anak-anak rumah perlindungan, memegang keranjang kelopak bunga yang sejak tadi ia jaga seolah isinya emas. Livia merekam dengan ponsel, lalu berhenti merekam karena tangannya ikut gemetar.
Cincinnya ditukar tanpa musik. Albert memasangkan miliknya lebih dulu, pelan-pelan, seolah takut jarinya patah. Akira memasangkan punya Albert dan menahan tangan laki-laki itu sebentar lebih lama dari yang diperlukan.
Sofia sempat mengangkat Arkan sedikit supaya bayi itu menghadap ke arah orang tuanya, meskipun matanya masih terpejam rapat.
Semua orang tertawa ketika bayi itu tiba-tiba menangis tepat setelah mereka bertukar cincin.