Kardus dokumen sudah menumpuk di ruang tengah sejak pukul enam pagi. Dua puluh tiga kardus, semuanya berisi kertas lama: sertifikat tanah, akta perusahaan, map bersampul kulit yang dulu tidak boleh disentuh siapa pun kecuali orang-orang tertentu.
Akira berdiri di depan tumpukan itu sambil menggendong Arkan yang belum sepenuhnya bangun. Bayi itu menempelkan pipi ke bahunya, matanya setengah terpejam, tangannya meremas kerah piyama ibunya.
"Semua ini akan dibawa ke mana?" tanya Akira.
"Ke kantor pengacara," jawab Albert dari balik meja. Ia menutup satu kardus dan menandainya dengan spidol. "Hari ini kita tidak menyimpan apa pun yang tidak bisa kita jelaskan asal-usulnya."
"Semuanya? Termasuk yang bersih?"
"Termasuk yang bersih. Kalau satu kardus saja tertinggal, orang akan bertanya apa lagi yang kita tinggalkan."
Richard memutuskan memisahkan perusahaan keluarga dari semua aset lama yang terkait jaringan. Keputusan itu diambil dalam rapat pendek, tanpa perdebatan panjang, di ruangan yang jendelanya dibiarkan terbuka supaya udara pagi masuk. Beberapa properti dijual: gudang di pelabuhan, dua ruko yang bertahun-tahun kosong, dan sebuah vila yang tidak pernah benar-benar ditinggali siapa pun. Uang hasil penjualan itu tidak dipakai membeli yang baru. Uang itu dipakai untuk mendirikan perusahaan baru bersama Akira.
Kantornya kecil. Dua lantai di pinggir jalan yang ramai pedagang sarapan, dengan lift tua yang berbunyi setiap kali pintunya menutup. Akira sempat tertawa waktu pertama kali melihatnya.
"Kita dulu punya gedung dua puluh lantai."
"Dan saya tidak bisa tidur di dalamnya," kata Albert.
"Di sini kamu bisa?"
"Di sini saya tahu siapa yang memegang kunci setiap pintu. Itu sudah cukup."
Akira berkeliling sekali lagi. Cat temboknya masih berbau, lantainya belum semuanya terpasang, dan satu-satunya tanaman di ruangan itu dibawanya sendiri dari rumah. Anehnya ia justru merasa lebih tenang di tempat sekecil ini daripada di lantai tiga puluh dua yang dulu.
Pembagian pekerjaan diputuskan di hari yang sama. Akira menjadi direktur kreatif, sementara Richard mengurus investasi dan keamanan.
Akira tidak langsung menyanggupi. Malamnya ia duduk di tepi ranjang, memandangi surat penunjukan yang belum ia tanda tangani.
"Aku bukan siapa-siapa di dunia ini," katanya. "Dulu aku cuma asisten yang kamu paksa bekerja."
"Kamu asisten yang menemukan dua kesalahan laporan keuangan dalam bulan pertama," jawab Albert. "Saya ingat, karena saya yang membuat laporan itu."
Akira menatapnya lama, lalu menandatangani surat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Nama perusahaan dipilih di depan papan tulis putih yang penuh coretan. Belasan usulan ditulis dan dihapus lagi. Sampai akhirnya Akira mengambil spidol, menulis dua kata, dan mundur selangkah.
Kenzi Sofia.
Ruangan itu mendadak sunyi.
"Kenzi dari ibumu," kata Akira pelan. "Sofia dari ibuku. Dua perempuan yang tidak pernah saling kenal, tapi sama-sama dijadikan korban oleh kebohongan yang sama."
Albert tidak menjawab. Ia hanya menatap papan itu cukup lama sampai Akira mengira ia akan menolak.
"Kamu keberatan?"
"Tidak." Suaranya serak. "Saya cuma tidak pernah menyangka nama ibu saya bisa dipakai untuk sesuatu yang tidak memalukan."
Mereka menamai perusahaan itu Kenzi Sofia, sebagai penghormatan kepada kedua ibu yang menjadi korban kebohongan.
Media menyoroti kerja sama mereka. Kamera berjejer di depan pintu kaca pada hari pembukaan, dan Akira sempat menggenggam tangan Albert terlalu erat sebelum keluar menemui mereka. Pertanyaan pertama datang seperti yang ia takutkan, tentang masa lalu, tentang kasus, tentang nama-nama yang pernah menghiasi halaman depan.
Akira menjawabnya dengan tenang. "Kalau Anda mau menulis tentang kasusnya, silakan. Tapi kami hari ini membuka lapangan kerja untuk empat puluh orang. Itu juga berita."
Dan kali ini berita tidak lagi berisi skandal. Yang terbit keesokan harinya adalah foto mereka berdiri di depan pintu kaca bertuliskan Kenzi Sofia, dengan judul tentang perusahaan baru dan program pelatihan kerjanya.
Sofia datang siang itu, membawa kotak kue yang dibelinya di jalan. Ia berhenti di depan pintu, membaca tulisan di kacanya, dan tidak masuk-masuk juga.
"Mama?" panggil Akira.
"Sebentar." Sofia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Mama cuma mau lihat."
"Lihat apa?"
"Namanya." Sofia menunjuk huruf-huruf di kaca dengan dagu. "Dulu Mama pikir nama itu cuma akan jadi catatan di berkas perkara. Tiga puluh tahun Mama menunggu supaya nama itu berhenti membuat orang menunduk."
Akira menggenggam tangan ibunya. Tangan itu lebih kurus daripada yang ia ingat, tetapi genggamannya masih kuat.
"Sekarang orang menunduk untuk membaca lowongan kerjanya, Mama."
Sofia tertawa sambil menangis, dan dua-duanya terjadi bersamaan tanpa terlihat aneh.
Selama bertahun-tahun nama keluarganya hanya muncul di berkas polisi dan bisik-bisik tetangga. Sekarang nama itu terpasang di pintu sebuah kantor yang mempekerjakan perempuan-perempuan dari rumah perlindungan. Sofia bangga melihat nama keluarganya digunakan untuk membantu orang lain.
Rapat pertama dengan tim baru digelar hari Senin, di ruangan yang bahkan belum punya tirai. Dua belas orang duduk mengelilingi meja panjang. Sebagian pernah bekerja di perusahaan lama, sebagian baru direkrut.
Albert menghadiri rapat itu dan duduk di kursi paling ujung, bukan di kepala meja.
Seorang manajer keuangan membuka laptopnya dan menyebut angka yang membuat beberapa orang mengangkat alis. Ada investor yang menawarkan suntikan dana besar, cukup untuk membuat perusahaan itu melompat tiga tahun ke depan dalam satu malam.
"Siapa?" tanya Albert.
Nama itu disebut. Albert mengenalnya. Semua orang di ruangan yang pernah bekerja di perusahaan lama juga mengenalnya.
"Tolak."
"Pak, syaratnya ringan. Mereka tidak minta kursi di direksi."
"Mereka tidak perlu kursi kalau mereka pegang uangnya." Albert menegaskan tidak akan menerima dana dari perusahaan yang memiliki hubungan gelap, sekecil apa pun hubungan itu, walau hanya lewat anak perusahaan. "Kalau kita ambil uang itu, tiga tahun lagi ada orang yang datang menagih sesuatu yang tidak tertulis di kontrak. Saya pernah jadi orang itu. Saya tahu cara kerjanya."
Ruangan itu diam. Manajer keuangan menutup laptopnya perlahan.
"Berarti pertumbuhan kita akan lebih pelan, Pak."
"Kita mungkin tumbuh lebih lambat, tetapi kita tidur tanpa takut," katanya.
Tidak ada yang bertepuk tangan. Rapat hanya berlanjut ke agenda berikutnya, tentang jadwal pelatihan dan anggaran seragam. Tetapi Akira, yang duduk di seberang meja sambil mencatat, sempat berhenti menulis beberapa detik.
Ia mengingat laki-laki yang dulu memanggilnya ke ruangan gelap dan menjadikannya alat. Laki-laki itu kini duduk di kursi paling ujung, menolak uang, dan berbicara tentang tidur tanpa takut.
Sepulang rapat, mereka berjalan ke tempat parkir berdua. Langit sore sudah berwarna jingga, dan dari kios seberang terdengar suara penggorengan.
"Kamu yakin dengan keputusan tadi?" tanya Akira.
"Tidak," jawab Albert jujur. "Tapi saya lebih tidak yakin dengan keputusan yang sebaliknya."
Akira tersenyum melihat perubahan itu.