Mereka pulang pada hari Sabtu, setelah tujuh bulan berpindah dari satu rumah aman ke rumah aman berikutnya.
Mobil Richard yang paling depan. Ia berhenti di depan pagar, turun lebih dulu bersama Akira, dan berdiri sebentar memandangi rumah itu seperti orang yang memeriksa apakah semuanya masih pada tempatnya.
Masih pada tempatnya. Pagarnya sama. Pohon mangga di sudut halaman sudah lebih tinggi. Ada sarang burung di talang yang jelas tidak dibangun dalam semalam.
“Kelihatannya rumah ini baik-baik saja tanpa kita,” kata Akira.
“Rumah memang selalu begitu,” jawab Richard. “Yang berantakan orangnya.”
Keamanan tetap dijaga. Dua orang di pos depan, satu kamera baru di sisi timur, dan pagar yang tingginya sekarang membuat Akira harus berjinjit untuk melihat jalan.
Tetapi tidak ada lagi yang berjaga di depan kamar. Tidak ada lagi jadwal keluar-masuk yang harus dilaporkan. Untuk pertama kalinya sejak Arkan lahir, Akira bisa membuka tirai tanpa lebih dulu bertanya kepada siapa pun apakah itu boleh.
Suasana mulai terasa normal, dan justru itu yang butuh waktu untuk dibiasakan.
Hari-hari pertama diisi kardus. Kardus di ruang tamu, kardus di tangga, kardus berisi barang yang bahkan tidak ada yang ingat pernah membelinya.
Akira menata kamar Arkan sendiri. Ia memindahkan boks ke dekat jendela, lalu memindahkannya lagi karena paginya terlalu silau, lalu memindahkannya kembali karena sudut satunya terlalu dekat pintu. Ia menempel huruf-huruf kayu di dinding, mengganti gorden dengan yang bergambar awan, dan menghabiskan waktu satu jam penuh hanya untuk memutuskan rak mana yang cukup rendah supaya aman kalau anak itu mulai berdiri.
Albert menyiapkan ruang kerja di lantai bawah. Ia mengeluarkan berkas-berkas lama dari kotak, dan hampir setengahnya langsung masuk ke kantong sampah tanpa dibaca ulang.
Akira sempat lewat dan melihat map bersampul biru yang ia kenali — map yang dulu berisi hasil penyelidikan tentang keluarganya sendiri, yang dipakai laki-laki itu untuk menyusun rencana balas dendamnya bertahun-tahun lalu.
Map itu masuk ke kantong yang sama dengan sisanya. Albert bahkan tidak berhenti sebentar untuk membukanya.
Mereka belajar mengurus bayi bersama, dan keduanya sama-sama buruk pada awalnya.
Albert pernah memasang popok terbalik dua kali berturut-turut. Akira pernah menghangatkan susu sampai terlalu panas, lalu mendinginkannya sampai terlalu dingin, lalu menangis di dapur karena merasa dirinya ibu yang gagal hanya gara-gara suhu susu.
Tetapi pada minggu kedua, ada satu malam ketika Arkan rewel pukul dua pagi dan Akira tidak bangun sama sekali — karena seseorang sudah lebih dulu mengangkatnya, menggantinya, dan menidurkannya kembali.
Paginya, Akira berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang cangkir kopi, menonton Albert melipat popok bersih di atas meja rendah dengan serius seperti sedang membaca kontrak.
“Aku tidak pernah membayangkan kamu bisa mengganti popok,” kata Akira.
Albert tidak mengangkat kepalanya.
“Saya juga tidak pernah membayangkan kamu bisa tidur hanya dua jam.”
Akira melempar kain lap ke arahnya. Meleset jauh, dan mengenai tumpukan popok yang barusan dilipat rapi.
Mereka tertawa kecil, dan tawa itu bertahan sebentar di ruangan yang terang oleh matahari pagi, sebelum Arkan bangun dan menuntut perhatian keduanya sekaligus.
Akira memikirkannya lagi malam harinya, waktu rumah sudah sepi.
Dulu laki-laki itu datang ke hidupnya membawa dendam yang sudah ia susun bertahun-tahun. Dulu setiap kata yang keluar dari mulutnya punya tujuan, dan tujuannya adalah menghancurkan Akira sedikit demi sedikit sampai tidak ada yang tersisa.
Sekarang mereka membagi jadwal begadang.
Hubungan yang dahulu penuh dendam berubah menjadi kerja sama — bukan berubah jadi dongeng, bukan berubah jadi sesuatu yang manis dan bersih. Akira belum pernah sekali pun mengatakan bahwa ia sudah memaafkan semuanya, dan Albert belum pernah sekali pun berani memintanya.
Yang mereka punya cuma ini: dua orang yang memutuskan untuk berdiri di sisi yang sama, setiap hari, ulang dari awal setiap pagi.
Untuk sekarang, itu cukup.
Mimpi buruknya tidak ikut hilang bersama Victor.
Akira masih sering terbangun tengah malam dengan jantung berdebar, dan selalu karena hal yang sama: boks Arkan yang kosong. Dalam mimpi itu ia selalu terlambat beberapa detik. Selalu ada pintu yang baru saja ditutup, selalu ada suara mobil yang menjauh.
Ia akan bangun, duduk, lalu berjalan ke kamar sebelah tanpa menyalakan lampu untuk memastikan anaknya masih ada di sana. Kadang ia berdiri di situ sepuluh menit. Kadang lebih.
Albert selalu bangun setiap kali itu terjadi.
Ia tidak pernah menyuruh Akira tidur lagi. Ia tidak pernah bilang “itu cuma mimpi”, karena mereka berdua tahu mimpi itu pernah hampir jadi kenyataan di kilometer kesembilan.
Ia hanya berdiri di belakang Akira, memeluknya dari belakang, dan menunggu sampai napas perempuan itu kembali teratur.
“Dia di sini,” katanya pelan. “Dan kita tidak sendirian.”
Itu yang paling membuat Akira bisa tidur lagi. Bukan pagar setinggi dua meter. Bukan kamera di sisi timur.
Kalimat itu, diucapkan pelan di kamar gelap, oleh orang yang dulu jadi alasan ia takut pada gelap.
Di luar rumah, hidup ikut berjalan.
Sofia dan Sera membuka rumah perlindungan baru di sisi selatan kota — bangunan dua lantai dengan halaman yang cukup luas untuk anak-anak berlari, dan dapur yang sengaja dibuat besar karena, menurut Sera, semua hal penting dalam hidup orang terjadi di dapur.
Marcus yang membantu mengawasi keuangannya. Ia membuat sistem pencatatan yang begitu rapi sampai Yura menyebutnya berlebihan, dan Marcus menjawab bahwa berlebihan itu justru intinya: tidak akan pernah ada lagi satu rupiah pun di rumah ini yang tidak bisa dijelaskan asal-usulnya.
Rani bekerja di sana sekarang, di bagian dapur, dan anaknya sudah tidak perlu cuci darah setiap minggu. Kania mengurus pembukuannya, dengan donatur yang semua namanya tercantum jelas.
Dan pada Minggu sore pertama setelah rumah itu dibuka, mereka semua makan bersama di meja panjang di halaman belakang.
Akira duduk dengan Arkan di pangkuan, memandangi orang-orang yang mengisi kursi satu per satu sambil membawa piring masing-masing.
Ada yang dulu saling menuduh. Ada yang dulu saling melapor diam-diam. Ada yang dulu tidak saling bicara selama sepuluh tahun karena satu kesalahpahaman yang bahkan bukan kesalahan mereka sendiri.
Keluarga yang dahulu terpecah mulai duduk satu meja.