Mereka menahan Victor selama empat jam lagi malam itu, dan dari empat jam itu, yang paling lama diingat Akira adalah sepuluh menit ketika laki-laki itu bicara tentang ibunya.
“Sofia yang membuat rekening itu,” kata Victor. “Bukan saya. Bukan Damian. Dia datang sendiri ke bank, mengisi formulirnya sendiri, dan memilih syarat pembukaannya sendiri.”
“Kenapa kamu tahu?” tanya Pak Surya.
“Karena saya mencoba mengambilnya selama sebelas tahun dan tidak pernah bisa.” Victor menyandarkan kepalanya ke dinding. “Saya sudah memakai tiga kantor pengacara. Saya sudah membeli dua pegawai bank. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.”
Ia menjelaskannya dengan nada yang aneh, hampir seperti kagum. Rekening itu tidak bisa dibuka oleh siapa pun kecuali orang yang namanya tercantum, dan orang itu hanya bisa membukanya sesudah memenuhi dua syarat: identitasnya diverifikasi langsung, dan ia sudah memiliki anak.
“Dia mengunci uangnya di balik anak yang belum lahir,” kata Victor. “Saya butuh waktu lama untuk mengerti kenapa. Lalu saya mengerti: dia tahu, kalau uang itu bisa diambil lebih cepat, kalian berdua akan dibunuh untuk mendapatkannya.”
Dan dana di dalamnya, kata Victor, bukan uang Sofia.
Itu uang yang diselamatkan ibu Albert sebelum kematiannya — dipindahkan diam-diam dari perusahaan keluarganya sendiri, potongan demi potongan, selama berbulan-bulan terakhir hidupnya.
Dua perempuan. Dua rumah yang di luar tampak berperang. Satu rekening yang mereka isi berdua dan tidak pernah sempat mereka bicarakan kepada siapa pun.
Akira meminta rekening itu dibuka pada hari Senin pagi, di kantor cabang tempat ibunya dulu menandatanganinya.
Prosesnya memakan waktu tiga jam. Ia menandatangani sembilan lembar formulir, menyerahkan akta kelahiran Arkan, menempelkan sidik jarinya di kotak kecil berkaca.
Ketika petugas bank akhirnya membalikkan layar, Akira harus membaca angka itu dua kali karena ia pikir ada digit yang salah.
“Itu sudah termasuk bunga sebelas tahun, Bu,” kata petugas itu pelan, seakan takut suaranya sendiri terdengar kurang sopan.
Tetapi bukan angka itu yang membuat Akira berhenti bernapas.
Di bawah rincian saldo ada satu baris tambahan: berkas titipan, satu buah, dalam bentuk rekaman suara.
Mereka memindahkannya ke ruang kecil di belakang — ruangan tanpa jendela, dengan meja bundar dan tiga kursi, tempat orang biasanya membicarakan utang.
Albert menutup pintu. Petugas menyalakan pemutarnya, menaruh remote di meja, lalu keluar tanpa diminta dan menutup pintu pelan-pelan dari luar.
Akira duduk dengan kedua tangan di pangkuan, seperti anak sekolah yang menunggu hasil ujian.
Lalu suara itu memenuhi ruangan.
“Akira.”
Akira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Suara ibunya terdengar lelah, seperti direkam larut malam, dengan sedikit gema seolah di ruangan kosong.
“Kalau kamu mendengar ini, berarti kamu sudah punya anak. Berarti kamu sudah tumbuh, sudah melewati banyak hal, dan Ibu tidak ada di sana untuk satu pun dari semua itu. Maafkan Ibu.”
Ada jeda panjang. Napas yang ditarik.
“Gunakan uang ini untuk melindungi anakmu. Jangan biarkan siapa pun menggunakan Arkan sebagai alat.”
Akira menekan tangan Albert sampai buku jarinya memutih.
Uang itu bukan warisan. Uang itu pagar. Ibunya tidak sedang mewariskan kekayaan; ibunya sedang membangun sesuatu yang bisa berdiri di depan cucunya ketika ia sendiri sudah tidak ada.
Rekaman itu berlanjut.
Sofia menjelaskan kenapa ia menyimpan rekening itu. Ia tahu, cepat atau lambat, seseorang akan datang mencari warisan keluarga. Ia menyebut dua nama dan tidak menyembunyikan keduanya.
“Kalau bukan Damian, Victor. Salah satu dari mereka akan mencari, dan yang mereka cari bukan uangnya. Yang mereka cari alasan untuk mendekati kamu.”
Suaranya melambat.
“Ibu tidak pergi karena Ibu tidak sayang. Ibu pergi karena selama Ibu di dekatmu, kamu ikut jadi sasaran. Itu keputusan yang Ibu sesali setiap hari, dan Ibu tidak akan pura-pura itu keputusan yang benar. Ibu cuma tidak punya yang lebih baik.”
Jeda terakhir.
“Kalau suatu hari kamu berdiri di depan seseorang yang membawa semua keburukan keluarga kita di punggungnya, dan kamu masih bisa memilih untuk tidak membencinya — pilih itu. Kebencian yang Ibu wariskan sudah cukup banyak.”
Rekaman itu berhenti dengan bunyi klik kecil, dan sesudahnya yang terdengar di ruangan itu cuma dengung pendingin udara di sudut langit-langit.
Tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama.
Albert berjongkok di depan kursi Akira dan menghapus air mata di pipi perempuan itu dengan ibu jarinya.
“Ibumu selalu berusaha melindungimu,” katanya.
Akira menangis lebih keras mendengar itu, dan ia menangis dengan cara yang belum pernah ia izinkan dirinya sendiri selama bertahun-tahun — bukan tangis takut, bukan tangis marah, tetapi tangis seseorang yang baru saja kehilangan hak untuk membenci ibunya.
Selama ini ia mengira Sofia meninggalkannya.
Ternyata Sofia hanya berjalan lebih jauh ke depan, menaruh sesuatu di ujung jalan, lalu berdiri di tempat yang tidak terlihat supaya tidak ada yang mengikuti jejaknya sampai ke rumah.
Sofia tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Victor tetap ditahan. Permohonan penangguhan yang diajukan pengacaranya ditolak dua kali. Persidangannya berjalan berbulan-bulan, dihadiri wartawan yang duduk sampai ke lantai, dan selama seluruh proses itu ia tidak pernah sekali pun meminta maaf kepada siapa pun.
Perkara rekening itu diputus terpisah.
Pengadilan menetapkan bahwa dana tersebut tidak boleh menjadi milik pribadi keluarga mana pun. Uang itu berasal dari perusahaan yang selama belasan tahun dipakai untuk menekan orang, dan karena itu sebagian besar harus dikembalikan kepada mereka yang dirugikan: keluarga korban yang pembayarannya dulu ditelan Damian, anak-anak di pusat bantuan, dan biaya pemulihan para saksi.
Pengacara Albert sempat mengatakan bahwa putusan itu bisa dilawan, dan peluangnya cukup besar.
Akira yang menolak, dan ia menolaknya sebelum kalimat pengacara itu selesai.
“Kalau aku mengambilnya,” katanya, “aku jadi orang yang persis mereka tuduhkan selama ini.”
Ia menandatangani persetujuan pembagian itu tiga minggu kemudian, di ruangan yang sama tempat ia mendengar suara ibunya. Ia hanya meminta satu hal: sebagian kecil disisihkan dalam bentuk simpanan pendidikan atas nama Arkan, yang tidak bisa dicairkan sampai anak itu berumur delapan belas tahun.
“Kenapa dikunci sampai delapan belas?” tanya petugas bank.
Akira menutup map di depannya dan tersenyum sedikit.
“Karena ibu saya juga menguncinya,” katanya. “Dan ternyata itu yang menyelamatkan kami.”