Victor pulang ke tempat ia memulai semuanya.
Itu bukan pilihan yang cerdas, dan justru karena itu Nara mempercayainya. Orang yang sudah kehilangan segalanya selalu kembali ke satu tempat yang dulu pernah membuatnya merasa menang.
Negara itu punya pelabuhan tua, hukum yang lambat, dan sebuah alamat perusahaan yang tiga puluh tahun lalu menjadi perusahaan pertama Victor.
Richard, Akira, dan Raka berangkat bersama tim internasional pada hari ketiga.
“Kamu tidak harus ikut,” kata Albert di bandara.
“Aku tahu,” jawab Akira. “Tapi aku sudah dua belas bulan mendengar namanya di ruang tamu sendiri. Aku mau melihat wajahnya.”
Villa itu terletak di tepi laut, di ujung jalan yang tidak muncul di peta mana pun. Pagarnya putih, halamannya dipangkas rapi, dan di teras belakang ada kursi malas dengan handuk yang masih terlipat.
Mereka masuk dengan pengawalan penuh, dua petugas di depan, dua di belakang, dan Akira diminta menunggu di teras sampai seluruh lantai dinyatakan aman.
Rumah itu kosong.
Bukan kosong seperti ditinggalkan bertahun-tahun — kosong seperti ditinggal lima belas menit yang lalu. Ada gelas di meja dengan es yang belum sepenuhnya mencair. Pendingin ruangan masih menyala.
Dan di ruang kerja, laptopnya masih terbuka, layarnya masih menyala.
Nara duduk di depannya sebelum siapa pun sempat menyentuh apa-apa.
“Jangan ada yang menutup apa pun,” katanya. “Kalau ini terkunci, kita kehilangan semuanya.”
Ia bekerja delapan menit tanpa bicara, jari-jarinya cepat sekali, lalu ia berhenti.
“Ketemu.”
Di layar ada jadwal keberangkatan, dipesan tiga hari lalu atas nama yang bukan nama Victor. Dan di sebelahnya, foto sebuah kapal — kapal kargo tua dengan lambung yang catnya mengelupas di bagian haluan.
“Dia tidak naik pesawat,” kata Nara. “Bandara diawasi. Dia naik kapal, sebagai penumpang tercatat dengan identitas baru.”
“Berangkat jam berapa?” tanya Raka.
Nara melihat jam di sudut layar.
“Empat puluh menit lagi.”
Raka sudah keluar pintu sebelum kalimat itu selesai.
Pelabuhan itu penuh, berisik, dan berbau ikan yang menjemur diri di atas beton panas sejak pagi. Truk kontainer merayap di jalur masuk. Orang-orang mendorong gerobak. Pengeras suara memanggil nama-nama dalam bahasa yang tidak dimengerti Akira.
Polisi menyebar di empat titik. Richard mengambil sisi kiri dermaga, Raka sisi kanan.
Akira berdiri di dekat gudang nomor tiga, di belakang dua petugas, dan ia yang melihatnya lebih dulu.
Bukan karena wajahnya — laki-laki itu memakai topi dan kacamata hitam. Tetapi karena cara ia berjalan: pelan, tenang, dengan satu tas kecil, melewati kerumunan orang yang panik mengangkut barang seolah semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Orang yang sedang melarikan diri tidak berjalan seperti itu. Hanya orang yang yakin tidak akan tertangkap yang berjalan seperti itu.
“Itu dia,” kata Akira. Lalu lebih keras. “Itu dia!”
“Victor!” teriak Richard.
Laki-laki itu berhenti persis di ujung tangga kapal.
Ia berbalik perlahan, dan ketika ia melepas kacamatanya, Akira melihat wajah yang selama ini hanya ada di foto lama dan satu video makan malam. Lebih tua dari yang ia bayangkan. Lebih biasa. Wajah seseorang yang bisa duduk di sebelahmu di ruang tunggu bank tanpa kau ingat.
Lalu tangannya bergerak ke dalam jaket, dan sebuah senjata sudah teracung sebelum siapa pun sempat maju.
Semua orang membeku. Pengeras suara pelabuhan terus memanggil nama-nama, tidak peduli.
“Berhenti di situ,” kata Victor.
Suaranya tidak gemetar sama sekali.
“Kalian pikir kalian sedang mengejar penjahat,” katanya. “Kalian tidak. Kalian sedang mengejar orang yang membereskan kekacauan kalian sendiri. Semua penderitaan ini berasal dari keserakahan keluarga Albert dan Sofia. Mereka yang saling mengunci. Mereka yang membangun perusahaan di atas hal-hal yang tidak berani mereka lihat.”
“Kamu membiayai orang yang membunuh keluarga mereka,” kata Akira.
“Saya membiayai orang yang sudah ada di sana.” Victor bahkan tersenyum sedikit. “Saya tidak menciptakan Damian. Saya menemukannya. Rumah itu sudah lapuk sebelum saya datang. Saya hanya mengambil apa yang sudah rusak.”
“Tidak,” kata Albert.
Ia melangkah satu langkah ke depan, dan moncong senjata itu ikut bergerak mengikutinya.
“Kamu tidak menemukan yang rusak,” kata Albert. “Kamu membuat orang saling curiga, lalu kamu tunggu sampai mereka menghancurkan diri sendiri, lalu kamu beli sisanya dengan harga besi tua. Kamu menciptakan penderitaan untuk mendapat keuntungan. Itu namanya bukan mengambil. Itu namanya berdagang nyawa.”
Wajah Victor berubah untuk pertama kalinya.
Jarinya bergerak di pelatuk.
Yang terjadi kemudian hanya butuh dua detik. Raka sudah bergerak dari sisi kanan sejak Victor mulai bicara, dan ia menghantam pergelangan tangan itu dari bawah. Senjata itu terlepas dan jatuh berdenting di beton dermaga, lalu ditendang jauh oleh salah satu petugas.
Victor ditangkap lima meter dari tangga kapal, di depan puluhan orang yang berhenti mendorong gerobak untuk menonton.
Ia tidak melawan. Ia bahkan tidak marah. Ia membiarkan tangannya diborgol dan berjalan sendiri ke kantor pelabuhan, seolah yang barusan terjadi hanyalah keterlambatan jadwal.
Di kantor pelabuhan itu, dengan kipas angin tua berputar di langit-langit dan seorang penerjemah duduk di sudut, Victor mengakui hampir semuanya.
Ya, ia membiayai Damian. Ya, ia mendanai Ordo. Ya, ia yang mengatur pembayaran ke rumah sakit, ke bank, ke pengacara.
Ia menyebutkan angka-angka dengan ketelitian seorang akuntan, menyebut tahun dan bulan tanpa perlu membuka catatan, dan tidak sekali pun terdengar menyesal. Ia bicara tentang belasan tahun kehancuran orang lain dengan nada yang sama seperti orang membacakan daftar belanja.
Lalu, di akhir, ia menyandarkan punggungnya.
“Kalian sudah membekukan hampir semua,” katanya. “Hampir. Ada satu rekening yang tidak akan pernah bisa kalian sentuh, karena rekening itu bukan milik saya, dan tidak pernah milik saya.”
“Milik siapa?” tanya Pak Surya.
Victor menoleh ke arah Akira.
“Atas nama dia,” katanya. “Dan isinya dana untuk masa depan anaknya.”
Kipas angin di langit-langit berputar dua kali sebelum ada yang bereaksi. Seluruh ruangan menoleh ke arah Akira.
Akira memandang Albert dengan bingung. Lalu ia memandang Victor lagi, mencari tanda bahwa laki-laki itu sedang mengarang untuk mengulur waktu, dan tidak menemukannya.
“Aku tidak pernah membuat rekening itu,” katanya.
Victor tersenyum.
“Rekening itu dibuat oleh ibumu sebelum menghilang. Ia menyimpan pesan terakhir untukmu.”