Elias dibebaskan dari tahanan enam bulan lalu, dan Richard sendiri yang menandatangani surat rekomendasinya.
Ia yang bilang orang itu layak diberi kesempatan kedua. Ia yang mencarikan pekerjaan. Ia juga yang mengantar Elias pulang di hari pembebasannya, dan yang menepuk bahunya di depan pintu rumah kontrakan kecil itu sambil berkata, mulai dari nol tidak apa-apa, yang penting mulai.
Sekarang daftar panggilan di layar Nara menunjukkan Elias bicara dengan orang Victor selama empat puluh menit, tiga malam berturut-turut.
“Apa yang bisa dia berikan?” tanya Akira. “Dia sudah tidak punya akses ke apa-apa.”
“Dia punya sesuatu yang jauh lebih murah dan jauh lebih berbahaya,” kata Nara. “Dia tahu isi rumah.”
Ternyata memang itu.
Elias memberikan letak pusat bantuan, jumlah anak di dalamnya, nama-nama pendamping, jam antar-jemput sekolah, dan — yang paling penting — jadwal sidang yang belum diumumkan ke publik.
Richard membacanya sampai habis tanpa mengeluarkan suara. Lalu ia menutup map itu dan duduk cukup lama sampai Akira pikir ia tidak akan bicara sama sekali.
“Saya yang menjamin dia,” katanya akhirnya. “Ada delapan orang yang menolak, dan saya tetap menjaminnya.”
Mereka menemukan Elias di sebuah rumah petak dua hari kemudian. Lelaki itu tidak lari. Ia justru membuka pintu dan berdiri di sana seperti orang yang sudah menghitung hari.
“Kenapa?” cuma itu yang ditanyakan Richard.
“Karena anak saya butuh operasi dan gaji dari pekerjaan yang Bapak carikan itu tidak akan cukup sampai kapan pun,” jawab Elias. “Victor menjanjikan uangnya. Di depan. Semuanya.”
“Kamu bisa datang ke saya.”
“Saya sudah datang ke Bapak sekali,” kata Elias pelan. “Bapak memberi saya pekerjaan, rumah, dan nama baik. Saya tidak sanggup datang dua kali dan meminta lebih. Jadi saya menjual satu-satunya barang yang saya punya.”
“Yang kamu jual itu anak-anak,” kata Richard.
Elias menunduk dan tidak membantah.
Polisi mengamankan keluarga Elias malam itu juga — istrinya dan dua anaknya dipindahkan ke tempat yang dijaga, karena begitu Victor tahu Elias tertangkap, keluarga itu berubah dari jaminan menjadi beban.
Elias sendiri ditangkap kembali tanpa perlawanan. Dan di ruang pemeriksaan, ia menyerahkan satu hal terakhir yang tidak diminta siapa pun.
Rencana Victor untuk menghancurkan pusat bantuan.
Bukan dengan api, bukan dengan orang bayaran. Dengan hukum.
“Dia bilang cara paling murah membunuh sebuah yayasan adalah membuatnya sibuk membela diri,” kata Elias. “Katanya begitu berkasnya masuk pengadilan, donatur akan berhenti sendiri tanpa perlu diancam.”
Gugatan itu masuk seminggu kemudian, diantar kurir ke kantor yayasan pukul sembilan pagi, di hari yang sama ketika anak-anak sedang berlatih pertunjukan untuk akhir tahun.
Victor — lewat tiga lapis kuasa hukum yang namanya tidak pernah menyebut dirinya — menuduh yayasan Richard mengambil anak-anak tanpa izin. Bahasanya rapi dan menjijikkan: “penempatan anak di luar prosedur”, “pengabaian hak keluarga biologis”, “dugaan pemanfaatan anak untuk kepentingan penggalangan dana”.
Lalu pengacara itu mengajukan tuntutan hak asuh atas sebelas anak.
Akira membaca daftar nama itu di meja makan, pagi-pagi, dengan cangkir teh yang lalu dibiarkannya dingin. Ia merasa mual sebelum sampai ke nama kelima. Ia mengenal semua anak di daftar tersebut. Ia tahu siapa yang masih mengompol, siapa yang tidak mau tidur kalau lampu dimatikan, siapa yang menyimpan potongan koran tentang ibunya di bawah bantal.
“Dia tidak peduli pada anak-anak itu,” kata Akira. “Dia cuma butuh kita repot.”
“Dia butuh kita repot selama enam bulan,” kata Richard. “Setelah itu tidak ada lagi yayasan yang perlu dilawan.”
Yura yang menyiapkan pembelaan, dan ia mengerjakannya selama tiga minggu hampir tanpa tidur.
Ia mengumpulkan setiap surat, setiap penetapan pengadilan, setiap laporan dinas sosial. Untuk setiap anak dalam daftar itu, ia menyiapkan satu map: siapa yang menyerahkan, atas dasar apa, dengan putusan nomor berapa, dan siapa wali sahnya sekarang.
Sebelas anak. Sebelas map. Tidak ada satu pun yang berlubang.
“Mereka pikir kita mengambil anak dari jalan dan menyimpannya,” kata Yura di ruang tunggu pengadilan. “Padahal setiap anak di rumah itu punya nomor perkara. Itu yang tidak mereka duga.”
Sidangnya berlangsung sengit dan berhari-hari.
Pengacara Victor memutar-mutar soal prosedur, soal tanggal, soal tanda tangan yang tintanya berbeda. Mereka berusaha membuat setiap kebaikan terdengar mencurigakan.
Lalu Yura memanggil saksi-saksinya.
Sofia memberikan kesaksian pertama. Ia bicara tentang bagaimana rumah itu dimulai, siapa yang datang, dan kenapa. Suaranya tenang, dan ia tidak sekali pun menaikkan nada meskipun pengacara di seberang berusaha memancingnya.
Marcus bersaksi tentang keuangan. Ia membawa catatan enam tahun, lengkap dengan pengeluaran sebesar dua puluh ribu untuk pembelian sandal jepit, dan hakim sempat mengangkat alis melihat detailnya.
Lalu anak-anak.
Itu bagian yang paling ditakuti semua orang, dan bagian yang akhirnya menyelesaikan segalanya. Mereka bersaksi di ruang terpisah, lewat layar, dengan pendamping di samping. Tidak ada yang mengajari mereka harus bicara apa.
Salah satu dari mereka, anak perempuan berumur sembilan tahun, ditanya apakah ada yang memaksanya tinggal di rumah itu.
Ia berpikir sebentar, lalu menjawab bahwa tidak ada yang memaksanya, tapi ada yang memaksanya mandi setiap pagi dan itu menurutnya tidak adil.
Ruang sidang tertawa. Bahkan hakim menunduk sebentar untuk menyembunyikan wajahnya, dan pengacara di seberang meja tidak mengajukan pertanyaan lanjutan.
Putusan dibacakan hari Kamis.
Hakim menolak seluruh gugatan Victor. Dalam pertimbangannya, ia menyebut bahwa gugatan tersebut diajukan tanpa satu pun pihak keluarga biologis yang benar-benar mengajukan keberatan — dan bahwa pola pembiayaan perkara ini sendiri patut dipertanyakan.
Lalu ia menambahkan satu kalimat yang tidak diminta siapa pun: pengadilan meminta agar dilakukan penyelidikan terhadap perusahaan yang membiayai gugatan tersebut.
Kalimat itu yang menjatuhkan Victor.
Begitu perintah penyelidikan terbit, nama-nama yang selama ini berdiri di sampingnya mulai menjauh satu per satu. Dua lembaga menarik dukungan dalam satu hari. Satu mitra bisnis mengumumkan pemutusan kerja sama sebelum ditanya.
Perlindungan politik yang membuatnya tidak tersentuh selama belasan tahun menguap dalam kurang dari seminggu.
Surat penangkapan disiapkan hari Senin pagi, lengkap, ditandatangani, siap dikirim ke perbatasan dan bandara.
Victor sudah meninggalkan negaranya hari Minggu malam, dengan pesawat carter, dua jam sebelum kantor imigrasi buka.