Rumah sakit itu berubah dalam satu malam.
Jam besuk dihapus. Lobi ditutup untuk pengunjung, dan siapa pun yang masuk harus melewati dua meja pemeriksaan sebelum sampai ke lift. Semua staf yang bertugas di lantai anak diperiksa ulang: nomor izin praktik, riwayat kerja, nomor rekening, sampai nama kerabat yang tercatat sebagai kontak darurat.
Keluarga Akira dipindahkan ke lantai khusus yang biasanya hanya dipakai untuk pasien dengan pengamanan. Satu lorong, empat kamar, satu pintu masuk.
Akira membenci tempat itu sejak menit pertama. Tidak ada jendela yang bisa dibuka. Lampunya menyala dua puluh empat jam. Dan Arkan, yang demamnya sudah turun tiga hari lalu, tidur di ranjang besi yang terlalu besar untuk tubuhnya.
“Kenapa kita masih di sini kalau dia sudah sembuh?” tanya Akira.
“Karena di luar belum aman,” jawab Albert.
“Di dalam juga belum aman. Kita tahu itu. Uang orang itu ikut membayar listrik gedung ini.”
Albert tidak membantahnya, dan itulah yang paling membuat Akira takut. Dulu laki-laki itu selalu punya jawaban untuk segalanya. Sekarang ia hanya menarik kursi dan duduk di antara pintu dan boks bayi, menghadap pintu, sepanjang malam.
Hari ketiga, seorang perawat yang sudah dua puluh tahun bekerja di lantai itu menghentikan seorang dokter di depan ruang obat.
Dokter itu memegang nampan berisi dua ampul.
“Maaf, Dok, resepnya mana?”
“Sudah masuk sistem.”
“Saya yang memasukkan semua resep di lantai ini,” kata perawat itu. “Dan saya tidak memasukkan yang itu.”
Lima menit kemudian lelaki itu digiring ke ruang keamanan, dan sepuluh menit setelahnya ketahuan bahwa nomor izin praktiknya milik orang lain yang sudah pindah ke luar kota tiga tahun lalu.
Obat di nampan itu ternyata tidak berbahaya. Itu justru yang membuat Pak Surya mengerutkan kening ketika hasilnya keluar.
“Dosisnya cuma cukup untuk membuat bayi rewel dan demam ringan,” katanya setelah laboratorium memeriksanya. “Kalau mau melukai, dia tidak akan pakai ini.”
Lelaki itu akhirnya bicara juga di ruang pemeriksaan.
Ia mengaku menerima perintah dari orang Victor. Tugasnya bukan menyakiti Arkan. Tugasnya membuat kondisi bayi itu tampak memburuk, supaya ada alasan medis untuk merujuknya ke sebuah klinik pribadi di luar kota — klinik yang tidak masuk dalam daftar rumah sakit rujukan mana pun, dan yang izinnya baru terbit enam bulan lalu.
“Mereka mau membawanya dengan surat resmi,” kata Pak Surya. “Bukan menculik. Merujuk. Semuanya akan tampak sah di atas kertas.”
Akira mendengar semua itu sambil berdiri di depan boks Arkan, dan ia tidak beranjak satu langkah pun.
“Saya tidak akan menyerahkan anak saya ke siapa pun,” katanya. “Tidak ke klinik, tidak ke dokter, tidak ke surat apa pun. Kalau ada yang mau membawanya, mereka harus lewat saya dulu.”
Polisi menangkap dokter palsu itu sore harinya. Sebelum dibawa, ia menoleh ke arah Albert dan berkata dengan suara datar, tanpa penyesalan sedikit pun:
“Percuma. Dia punya orang di setiap institusi. Kalau bukan saya, besok orang lain. Kalian tidak bisa memeriksa semua orang.”
Malam itu Leon yang menemukannya.
Ia sudah dua hari memelototi jadwal kendaraan operasional rumah sakit, dan ia menemukan satu ambulans yang dijadwalkan berangkat pukul empat pagi dari pintu belakang, dengan tujuan yang ditulis tangan, bukan dicetak dari sistem.
Nomor pasien di lembar itu adalah nomor Arkan.
“Mereka tidak menunggu surat rujukan,” kata Leon. “Mereka sudah memesan mobilnya. Sopirnya bukan sopir tetap, dan dia baru masuk daftar minggu lalu.”
Albert mengambil keputusan dalam waktu kurang dari satu menit.
Mereka tidak akan menunggu pukul empat. Arkan dipindahkan malam itu juga, dengan ambulans pribadi milik perusahaan, rute yang hanya diketahui empat orang, dan konvoi yang berangkat dari pintu depan — bukan pintu belakang — supaya terlihat jelas oleh setiap kamera yang ada.
“Kalau kita sembunyi-sembunyi, kita main di lapangan mereka,” kata Albert. “Kita lewat depan. Terang-terangan.”
Akira memeluk Arkan sepanjang perjalanan. Bayi itu tidur, tidak tahu apa-apa, tangannya menggenggam ujung selimut.
Jalan tol malam itu nyaris kosong. Lampu-lampu oranye lewat satu per satu di kaca, dan Akira menghitungnya tanpa sadar, seperti anak kecil yang mencoba membuat waktu berjalan lebih cepat.
Serangan itu terjadi di kilometer kesembilan.
Sebuah mobil bak terbuka keluar dari jalan samping dan berusaha memotong konvoi. Ambulans membanting setir, ban berdecit, dan Akira mendekap kepala Arkan ke dadanya sambil menunduk serendah mungkin.
Yang terjadi setelah itu berlangsung kurang dari satu menit.
Mobil Raka menutup celah, dua mobil polisi menjepit dari belakang, dan mobil bak terbuka itu berhenti dengan moncong menghantam pembatas jalan. Tiga orang keluar dan lari ke arah kebun. Dua tertangkap sebelum sampai pagar.
Ambulans tidak berhenti. Ambulans terus jalan, seperti yang sudah disepakati.
Akira baru sadar tangannya gemetar ketika mereka sudah sampai di rumah aman dan ia mencoba melepaskan gendongan. Jarinya tidak mau menurut selama hampir semenit. Albert yang akhirnya melepaskannya, pelan-pelan, simpul demi simpul, sambil terus bicara pelan tentang hal-hal yang tidak penting supaya Akira punya sesuatu untuk didengarkan.
Pesan Victor masuk satu jam kemudian.
“Kamu tidak bisa menjaga semua orang.”
Albert membacanya, lalu mengetik balasan dengan satu tangan, tenang, tanpa terburu-buru.
“Saya tidak sendiri.”
Ia mengirimnya, lalu meletakkan ponsel itu di meja dan tidak menyentuhnya lagi sepanjang malam.
Tidak ada balasan. Tidak ada tanda pesan itu dibaca, tidak ada nomor baru yang muncul.
Tidak ada juga pesan berikutnya. Tidak esok harinya, tidak lusa. Untuk pertama kalinya sejak nama Victor muncul, ancaman itu berhenti mengalir, dan sunyinya terasa lebih berat daripada semua pesan sebelumnya.
“Saya tidak suka ini,” kata Pak Surya. “Orang seperti dia tidak diam karena kalah. Dia diam karena sedang mengurus sesuatu.”
Nara menemukannya tiga hari kemudian, jam dua pagi, waktu semua orang sudah menyerah untuk hari itu.
Bukan dari rekening, bukan dari surel. Dari daftar panggilan sebuah nomor luar negeri yang sudah lama mereka pantau — panggilan berulang ke satu nomor lokal, rata-rata empat puluh menit setiap kali, tiga malam berturut-turut.
Nomor lokal itu terdaftar atas nama seseorang yang mereka kenal.
Nara membalikkan layarnya supaya Richard bisa membacanya sendiri.
“Elias,” katanya.