Nara tidak tidur selama dua hari, dan ketika ia akhirnya memanggil semua orang ke ruang kerja, matanya merah tetapi suaranya jernih.
“Saya menemukan rekeningnya,” katanya.
Di layar ada bagan yang mirip akar pohon terbalik. Puluhan kotak kecil, masing-masing berisi nama perusahaan yang tidak pernah ada kantornya.
“Victor tidak menyimpan uang atas namanya sendiri. Tidak sepeser pun,” jelas Nara. “Semua ditaruh di perusahaan cangkang — perusahaan yang cuma punya akta, alamat kotak pos, dan satu direktur yang biasanya orang tua yang dibayar untuk tanda tangan.”
“Berapa banyak?” tanya Richard.
“Yang bisa saya lacak, tiga negara. Yang tidak bisa saya lacak, saya tidak berani menebak.”
Albert menatap bagan itu. “Kalau tidak ada namanya di mana-mana, bagaimana kita membuktikan itu uangnya?”
“Itu masalahnya,” kata Nara. “Kita butuh satu rekening induk. Yang menampung sebelum disebar.”
Yang membuka jalan justru Karin.
Dari ruang saksi, dengan pengacara di sampingnya dan petugas di pintu, ia menuliskan sebuah rangkaian angka di atas kertas dan mendorongnya ke seberang meja.
“Saya mencuri ini dari buku Damian empat tahun lalu,” katanya. “Saya tidak pernah memakainya. Saya menyimpannya untuk hari seperti ini.”
“Kenapa baru sekarang?” tanya Richard.
“Karena empat tahun lalu saya masih ingin memakainya sendiri,” jawab Karin tanpa berkelit. “Sekarang saya sudah tidak punya apa-apa untuk dipakai.”
Kode itu bekerja.
Di balik lapisan perusahaan cangkang, ada satu rekening utama, dan di dalamnya bukan hanya uang — ada catatan. Setiap pembayaran, setiap tanggal, setiap kode penerima, tersimpan rapi selama belasan tahun oleh seseorang yang terlalu percaya pada sistemnya sendiri.
“Dia mencatat semuanya,” bisik Pak Surya. “Kenapa orang seperti dia mencatat?”
“Karena dia tidak percaya pada anak buahnya,” kata Albert. “Catatan ini bukan untuk pengadilan. Ini untuk memastikan tidak ada yang mencuri darinya.”
Richard dan Raka bekerja hampir tanpa henti bersama penyidik internasional untuk membekukan dana itu. Tiga zona waktu, tiga tim, permohonan darurat yang harus ditandatangani sebelum jam kerja bank dibuka di negara masing-masing.
Victor menyadari rencananya terancam pada hari kedua.
Mereka melihatnya terjadi di layar, hampir seperti menonton pertandingan. Angka di satu kolom mulai bergerak. Lalu bergerak lagi. Sejumlah besar uang berpindah dalam empat transaksi beruntun ke tempat yang belum sempat mereka petakan.
“Dia memindahkannya,” kata Nara. “Blokir sekarang, blokir sekarang—”
Rekening pertama berhasil dibekukan enam menit kemudian.
Rekening kedua hilang.
Bukan kosong — hilang. Jalur transaksinya berakhir di sebuah lembaga yang tidak wajib melapor ke siapa pun, dan sejak titik itu tidak ada lagi yang bisa dikejar.
Raka melempar pena ke meja. “Enam menit. Kita kalah enam menit.”
“Kita tidak kalah,” kata Nara, meskipun suaranya sendiri tidak yakin.
“Kita dapat yang pertama,” kata Richard. “Itu yang terbesar.”
“Yang terbesar tidak sama dengan yang penting.”
Sore itu Victor mengirim video.
Bukan ancaman. Bukan pesan. Hanya rekaman pesta makan malam di suatu tempat dengan kaca tinggi dan lampu kuning — Victor berdiri di tengah, tertawa, bersulang dengan beberapa orang yang wajahnya dikenali oleh siapa pun yang pernah membaca koran.
Di detik terakhir, Victor menoleh ke kamera, seolah tahu persis siapa yang akan menonton.
“Setiap orang punya rahasia,” katanya. “Termasuk mereka yang berdiri di samping saya sekarang. Itu sebabnya saya tidak pernah takut pada penyelidikan. Saya cuma perlu tahu siapa yang memimpinnya.”
Rekaman berhenti.
“Dia sedang memberitahu kita bahwa dia punya mereka semua,” kata Akira.
“Dia sedang memberitahu mereka semua bahwa dia punya mereka,” koreksi Albert. “Video ini bukan untuk kita. Kita cuma dikasih lihat supaya ikut menyebarkannya.”
Ia berpikir lama malam itu. Lalu ia memilih melakukan hal yang persis diinginkan Victor, tetapi dengan cara yang tidak Victor perhitungkan.
Albert menyiarkan bukti transaksinya sendiri.
Bukan video pestanya. Bukan nama pejabatnya. Hanya angka: daftar pembayaran yang sudah disahkan penyidik, dengan tanggal, jumlah, dan tujuan. Ia memberikannya kepada tiga media sekaligus, dengan satu syarat — semuanya terbit pada jam yang sama.
“Kamu yakin?” tanya Akira malam itu, waktu Albert sudah menekan tombol kirim. “Begitu ini terbit, tidak ada jalan mundur.”
“Jalan mundur sudah lama tidak ada,” jawab Albert.
Pagi berikutnya, angka-angka itu ada di mana-mana. Di koran, di layar televisi pagi, di ponsel orang-orang yang sedang antre membeli sarapan.
Orang biasa tidak mengerti istilah perusahaan cangkang, tetapi semua orang mengerti apa artinya ketika sebuah dana yang dipakai membiayai penculikan berhenti di rekening seorang investor yang tinggal di apartemen dengan kolam renang pribadi.
Dukungan publik bergerak lebih cepat daripada pengadilan mana pun. Dalam dua hari, dua lembaga yang tadinya menolak bekerja sama menelepon lebih dulu. Dalam seminggu, satu nama di video makan malam itu mengundurkan diri “karena alasan kesehatan”.
“Tekanannya naik,” kata Pak Surya. “Dia tidak bisa lagi bergerak diam-diam.”
Tetapi kemenangan itu berumur pendek.
Hari Jumat, seorang petugas bank yang ikut menelusuri aliran dana menelepon Richard dan meminta bertemu langsung, bukan lewat telepon. Ia datang membawa satu lembar kertas.
“Saya menelusuri pembayaran keluar dari rekening kedua sebelum jejaknya hilang,” katanya. “Ada satu yang rutin. Setiap bulan, jumlahnya sama, sudah berjalan hampir satu tahun.”
“Ke mana?” tanya Albert.
Petugas itu mendorong kertasnya.
Nama penerimanya adalah yayasan pengelola sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang sama tempat Arkan dirawat dua minggu lalu.
Akira membaca nama itu tiga kali sebelum otaknya mau menerimanya. Lantai terasa bergeser sedikit di bawah kakinya, dan ia harus memegang pinggiran meja.
“Itu artinya apa?” tanyanya, meskipun ia sudah tahu. “Dia menyumbang ke rumah sakit?”
“Bukan menyumbang,” kata Pak Surya. Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. “Menyumbang itu satu kali. Ini setiap bulan, ke pos operasional, tanpa nama. Itu bukan sumbangan, itu langganan.”
“Langganan apa?”
“Akses.”
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Di luar, suara mobil melintas di jalan terdengar terlalu biasa untuk pagi seperti itu.
Akira memikirkan lorong rumah sakit itu. Perawat yang mengukur suhu Arkan. Petugas yang mendorong ranjangnya. Pintu yang terbuka dan menutup sepanjang malam tanpa ada yang benar-benar memeriksa siapa yang lewat.
“Dia menyusup lebih dalam dari yang kita duga,” kata Pak Surya.