Undangan itu datang dalam bentuk yang paling sopan yang bisa dibayangkan: sebuah surel dengan kop perusahaan, lampiran peta, dan nama sebuah gedung finansial di luar negeri. Lantai empat puluh satu. Ruang rapat dengan dinding kaca.
Victor bahkan menawarkan tiket.
“Dia mengundang kita ke kandangnya sendiri,” kata Richard. “Di negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan kita.”
“Dia tidak mengundang kita,” kata Albert sambil membaca layar. “Dia mengundang saya.”
Isi surat itu singkat dan dingin. Victor menawarkan penyelesaian damai. Semua tuntutan dicabut, semua berkas dikubur, tidak ada yang perlu masuk pengadilan, tidak ada nama keluarga yang perlu muncul di koran. Syaratnya dua: Albert menghentikan penyelidikan, dan Albert menyerahkan sebagian saham perusahaannya.
“Sebagian,” ulang Akira. “Berapa itu ‘sebagian’?”
Albert menggulir ke bawah. “Empat puluh persen.”
Akira tertawa pendek tanpa ada yang lucu. “Jadi dia minta perusahaanmu sebagai imbalan karena tidak menghancurkan hidupmu, yang sudah dia hancurkan duluan.”
Albert menutup laptopnya.
“Saya tolak,” katanya.
“Kamu bahkan tidak berpikir dulu.”
“Saya sudah berpikir selama lima belas tahun,” kata Albert. “Saya pernah menukar hati nurani saya dengan sesuatu yang saya kira adil. Hasilnya kamu. Hasilnya semua ini. Saya tidak akan menukar apa pun lagi.”
Akira menatapnya lama. Ada bagian dari dirinya yang masih belum tahu harus ditaruh di mana ketika laki-laki itu bicara seperti itu.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Tapi hati-hati. Tawaran itu bukan untuk diterima.”
“Maksud kamu?”
“Orang seperti dia tidak menawar kalau dia sedang menang.” Akira duduk di ujung meja. “Dia tahu kita hampir sampai ke uangnya. Surat itu bukan tawaran damai, itu jam pasir. Selama kita sibuk membahasnya, dia punya waktu.”
Pak Surya, yang sejak pagi duduk di sudut dengan tiga cangkir kopi kosong, mengangkat kepalanya.
“Nyonya benar,” katanya. “Dan saya punya alasan tambahan supaya kalian tidak berangkat ke mana pun.”
Ia membalik layar laptopnya.
Victor punya hubungan dengan tiga bank yang pernah dipakai Damian — bukan sebagai nasabah biasa, tetapi sebagai pemilik saham kecil yang cukup untuk menaruh satu orang di dewan pengawas. Dan ada satu hal lagi yang membuat Akira merasa dingin di tengkuk.
“Dia sudah mendanai proyek yayasan sejak dua tahun sebelum keluarga Albert mulai bermusuhan,” kata Pak Surya. “Dua tahun sebelumnya. Artinya dia bukan datang belakangan untuk memanfaatkan keributan kalian.”
“Artinya dia sudah ada di sana sebelum keributannya mulai,” kata Albert.
“Betul.”
Richard membawa berkas lengkap itu ke otoritas internasional minggu itu juga. Ia terbang, presentasi tiga jam, menyerahkan dua ribu halaman salinan.
Ia pulang dengan tangan kosong.
“Bukan karena buktinya lemah,” katanya waktu mendarat. “Buktinya kuat. Tapi Victor punya pengacara yang lebih banyak daripada penyidik yang menangani kasusnya, dan dua nama di dewan pengawasnya mantan pejabat. Mereka bilang butuh waktu.”
“Berapa lama?” tanya Akira.
“Mereka tidak mau menyebut angka.” Richard melempar tasnya ke kursi. “Satu orang di sana bilang begini ke saya, setengah bercanda: kasus seperti ini biasanya selesai kalau orangnya sudah meninggal.”
Malam itu Arkan demam.
Mula-mula hanya rewel. Lalu Akira menyentuh dahinya dan tangannya langsung menarik diri seolah tersengat. Bayi itu panas sekali, dan tangisnya berubah jadi serak yang membuat perut Akira terbalik.
Ia tidak ingat bagaimana ia sampai ke mobil. Ia tidak ingat siapa yang menyetir, atau apakah ia sempat mengunci pintu rumah. Yang ia ingat cuma potongan-potongan: pintu kaca rumah sakit yang terbuka terlalu lambat, lampu neon yang terlalu terang di lorong gawat darurat, bau antiseptik, dan suaranya sendiri mengulang-ulang umur Arkan kepada perawat yang sudah menanyakannya dua kali.
“Tenang, Bu,” kata perawat itu sambil melepas termometer. “Nadinya bagus. Napasnya juga bagus.”
“Dia tidak pernah sepanas ini.”
“Bayi memang begitu. Panasnya naik cepat, turunnya juga cepat.”
Dokter memeriksa selama dua puluh menit yang terasa seperti dua puluh tahun, lalu keluar dengan wajah tenang. Infeksi ringan. Kondisi Arkan stabil. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Akira duduk di lantai lorong, punggungnya menempel ke dinding yang dingin, dan menangis untuk alasan yang bahkan tidak ia mengerti sendiri. Anaknya baik-baik saja. Justru itu yang membuat tangisnya tidak berhenti.
Albert berjongkok di depannya dan menaruh kedua tangannya di bahu Akira sampai napas perempuan itu kembali teratur.
Dua jam kemudian, Nara menelepon.
“Ada yang mencoba masuk ke sistem rekam medis rumah sakit,” katanya. “Tiga kali, dari tiga alamat berbeda, dalam satu jam. Semuanya mencari satu nomor rekam medis.”
Albert sudah tahu nomor apa itu sebelum Nara menyebutnya. Ia menutup telepon, lalu berdiri lama di depan pintu kamar tempat Arkan tidur, tidak masuk, hanya berdiri.
Pesan Victor masuk pagi berikutnya. Tidak ada ancaman kasar di dalamnya, dan justru itu yang membuatnya lebih buruk. Ia menulis bahwa ia prihatin mendengar kabar anak itu sakit. Ia menulis bahwa rumah sakit di kota ini penuh dan kekurangan tenaga. Ia menulis bahwa keselamatan Arkan akan terjamin sepenuhnya — begitu Richard berhenti dan menyerahkan berkas-berkasnya.
Richard membaca pesan itu sampai habis, lalu meletakkan ponselnya di meja dengan sangat pelan, yang selalu jadi tanda bahwa ia sedang menahan diri.
“Dia tidak akan menyentuh anak kita,” katanya.
Akira memegang tangannya.
Jemari laki-laki itu keras dan dingin, dan Akira menahannya di situ sampai kepalan itu terbuka.
“Aku juga takut,” kata Akira. “Semalam aku duduk di lantai lorong karena aku takut. Jadi jangan kira aku bicara dari tempat yang aman.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan? Menunggu sampai dia benar-benar melakukannya?”
“Tidak.” Akira menggeleng. “Tapi kalau kita berhenti karena surat ini, dia akan tahu bahwa surat berikutnya juga akan berhasil. Lalu dia akan mengirim surat setiap kali dia butuh sesuatu, dan Arkan akan tumbuh besar dengan seseorang yang selalu memegang lehernya.”
Ruangan itu hening. Di luar, gerimis membuat kaca jendela berembun dari bawah ke atas.
“Kita tidak boleh membiarkan ancaman mengatur keputusan,” kata Akira. “Kita boleh takut. Aku takut setiap malam. Tapi takut dan menurut itu dua hal yang berbeda, dan begitu kita menurut sekali saja, kita tidak akan pernah berhenti menurut.”
Richard tidak menjawab. Ia hanya membalik ponselnya, menutup layar pesan itu dengan punggung tangan, dan membiarkannya tertelungkup di meja.