Karin memilih rumah lama Sofia sebagai tempat pertemuan terakhir, dan ketika mobil itu berhenti di halaman, Akira mengerti kenapa. Dari semua tempat di kota ini, hanya rumah itu yang pernah menjadi milik keduanya — milik ibunya, dan milik perempuan yang ibunya percayai.
Karin datang bersama Karina.
Mereka masuk bersama-sama, dua perempuan yang dipisahkan sepuluh tahun oleh sebuah kematian palsu, berjalan berdampingan dengan jarak yang canggung.
Karin jauh lebih kurus dari foto mana pun yang pernah Akira lihat. Rambutnya dipotong pendek dan sudah beruban di pelipis. Ia membawa satu tas kain, tidak lebih.
Ia tampak lelah dengan cara yang tidak bisa ditutupi, dan ia tidak lagi ingin melarikan diri.
“Silakan duduk,” kata Akira, dan sadar betapa anehnya kalimat itu — mempersilakan seseorang duduk di rumah yang sudah lama bukan rumah siapa pun.
Karin duduk. Ia meletakkan tasnya di pangkuan dan memegangnya seperti orang yang menunggu bus.
“Saya akan mulai dari yang paling saya sesali,” katanya. “Saya menggunakan nama Nona K untuk menakuti orang-orang yang pernah menghancurkan keluarga saya. Itu benar. Saya mengirim surat, saya membayar orang, saya membiarkan mereka saling curiga. Saya ingin mereka merasakan tidur dengan lampu menyala.”
Ia menatap Akira lurus-lurus.
“Tapi saya tidak memerintahkan penculikan anak atau mengancam Arkan. Tidak pernah. Ketika saya dengar ada anak bayi dibawa-bawa dalam urusan ini, saya berhenti mengirim apa pun selama tiga bulan. Saya kira nama saya sudah dipakai orang lain. Ternyata memang begitu.”
“Oleh siapa?” tanya Albert.
Karin membuka tasnya.
Isinya bukan uang dan bukan senjata. Hanya map plastik tebal, penuh salinan dokumen yang sudut-sudutnya sudah ditandai dengan kertas kecil berwarna.
“Damian tidak pernah bekerja untuk dirinya sendiri,” kata Karin. “Dia terlalu bodoh untuk itu. Dia cuma tangan.”
Pak Surya membuka map itu dan mulai membaca. Halaman pertama, kedua, ketiga. Wajahnya makin mengeras.
“Ada satu orang yang membiayai semuanya sejak awal,” lanjut Karin. “Dia tidak pernah berada di negara ini lebih dari dua minggu berturut-turut. Namanya Victor.”
Ruangan itu hening.
“Dia investor asing,” kata Karin. “Dia yang mengirim modal untuk setiap operasi, setiap suap, setiap berkas yang ditutup. Dan dia tidak pernah melakukannya karena benci. Dia melakukannya karena berhitung.”
“Berhitung apa?” tanya Akira.
Karin menoleh padanya dengan sabar, seperti guru yang sudah lama menunggu pertanyaan itu.
“Perusahaan yang pemiliknya sedang bertengkar dengan keluarganya sendiri akan jatuh harganya. Perusahaan yang pemiliknya mati akan dijual murah oleh ahli warisnya. Victor tidak pernah membeli perusahaan yang sehat. Dia menunggu perusahaan itu hancur, lalu dia membelinya dengan harga besi tua.”
Albert berdiri perlahan.
Nama itu. Ia pernah membacanya, bukan di berkas penyidikan, tetapi di laporan lama ayahnya, di buku catatan yang selama ini ia simpan di brankas tanpa pernah benar-benar ia baca ulang.
Victor. Rekan bisnis. Nama yang muncul di sembilan halaman, lalu tidak pernah muncul lagi setelah bulan ketika ibunya meninggal.
“Saya pikir dia ikut hancur bersama perusahaan ayah saya,” kata Albert pelan.
“Dia tidak hancur,” kata Karin. “Dia pindah. Dan dia membawa serta semua orang yang berguna baginya, termasuk Damian.”
Albert mengambil satu lembar dari map itu. Tanda tangan di bawahnya ia kenali karena ia pernah belajar meniru tanda tangan itu waktu kecil, untuk iseng, di buku tulisnya sendiri.
“Ini tanda tangan ayah saya,” katanya.
“Di dokumen yang ayahmu tidak pernah lihat,” kata Karin. “Damian yang membawanya bolak-balik. Ayahmu menandatangani daftar pembelian alat. Yang dilampirkan ke bank halaman lain.”
Setelah itu Karin menutup tasnya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, telapak menghadap ke atas.
“Saya minta perlindungan,” katanya. “Bukan pengampunan. Saya tahu apa yang sudah saya lakukan dan saya siap mempertanggungjawabkannya. Tapi kalau saya ditangkap sebagai pelaku utama, Victor akan menutup semua jalur dalam dua hari. Saya lebih berguna sebagai saksi.”
Pak Surya memandang Richard. Richard mengangguk.
Polisi menangkapnya sore itu juga — bukan sebagai pelaku utama, tetapi sebagai saksi penting, dengan status yang membuatnya tetap dijaga dua puluh empat jam.
Ketika petugas membawanya keluar, Karin berhenti sebentar di depan Karina.
“Maaf,” katanya, dan itu satu-satunya kata yang ia ucapkan untuk adiknya.
Karina tidak menjawab. Ia bahkan tidak mengangkat wajahnya. Ia berdiri di ambang pintu sampai lampu belakang mobil itu hilang di tikungan, lalu bahunya mulai berguncang tanpa suara.
Akira memeluknya. Perempuan yang baru saja menemukan kakaknya kembali setelah bertahun-tahun, dan kehilangannya lagi dalam waktu satu sore.
“Dia masih hidup,” bisik Akira. “Minggu lalu kamu masih mengira dia terbakar di dalam mobil. Sekarang kamu tahu di mana dia tidur malam ini. Itu bukan hal kecil.”
“Saya menandatangani surat kematiannya,” kata Karina di bahu Akira. “Saya yang memilih batu nisannya.”
“Dan dia yang membiarkan kamu melakukannya, supaya kamu tetap hidup.”
Malam itu berkas-berkas mulai disusun. Rani dan Kania juga terdaftar sebagai saksi, keduanya dengan perlindungan untuk keluarga mereka. Bibi Lastri dibebaskan setelah rekaman lama dan keterangan Rani membuktikan bahwa perempuan tua itu dipaksa — bahwa kunci yang ia pegang diberikan dengan ancaman, bukan dengan bayaran.
Richard menatap semua dokumen yang terhampar di meja ruang tamu itu. Lima nama. Lima orang yang sudah bicara.
Dan di ujung semua garis, satu orang yang masih berada di luar negeri, di tempat yang tidak bisa disentuh surat penangkapan mana pun, mengendalikan uang yang jumlahnya tidak masuk akal.
“Kita sudah menemukan Nona K, tetapi dalang terakhir masih belum tertangkap,” kata Albert.
Akira menggenggam tangannya. Jemari laki-laki itu dingin.
“Kita akan menemukannya,” katanya.
Mereka merapikan dokumen dan bersiap pergi ketika ponsel Richard berbunyi. Di layar tertera nomor hotel tua tempat mereka menemukan ruangan Sofia.
Richard mengangkat, lalu menekan tombol pengeras suara supaya semua orang di ruangan itu ikut mendengar. Penjaga hotel itu bicara dengan suara bingung, setengah takut: ada seseorang menelepon ke meja depan, menitipkan pesan untuk “tamu yang kemarin naik ke lantai dua”, dan menyuruhnya membaca pesan itu apa adanya.
Lelaki tua itu membacanya dengan terbata, memenggal kalimat di tempat yang salah, dan justru karena itu setiap kata terdengar lebih lambat.
“Saya tidak perlu membunuh kalian. Saya hanya perlu menunggu sampai keluarga kalian saling menghancurkan sendiri.”