Berkas kecelakaan itu setebal dua belas halaman, dan penyidik membutuhkan waktu satu malam penuh untuk membuktikan bahwa seluruhnya palsu.
Foto bangkai mobil diambil dari sudut yang sama dengan foto perkara lain di kota berbeda. Hasil identifikasi ditandatangani dokter yang pensiun setahun sebelum tanggal kejadian. Dan di kolom saksi, hanya ada satu nama: orang yang dua tahun kemudian tercatat bekerja untuk Damian.
“Karin tidak mati di mobil itu,” kata Pak Surya, menutup map. “Tidak ada yang mati di mobil itu.”
Yang mati adalah keluarganya.
Penyidik menemukan laporan lain, yang tidak pernah dinaikkan ke pengadilan: suami Karin dan dua orang lain ditemukan di sebuah rumah di pinggir kota, dan berkas itu ditutup dalam satu minggu atas permintaan seseorang yang namanya sudah mereka kenal.
Karin melarikan diri malam itu juga. Ia mengubur dirinya sendiri di atas kertas, dan sejak saat itu tidak ada lagi perempuan bernama Karin di negeri ini.
“Kalau dia yang jadi Nona K,” kata Richard pelan, “berarti dia bukan sedang cari uang.”
“Tidak,” kata Albert. “Dia sedang menghitung.”
Akira memikirkannya sepanjang perjalanan. Perempuan yang kehilangan semuanya, lalu diam sepuluh tahun, lalu muncul sebagai nama tanpa wajah yang membiayai orang-orang yang menghancurkan hidupnya sendiri. Itu bukan balas dendam yang buru-buru. Itu balas dendam yang sabar, dan yang sabar selalu lebih menakutkan.
Karina membantu mereka mencari alamat kakaknya. Ia menyebut tiga tempat yang pernah dipakai keluarga mereka dulu, dan yang ketiga membuahkan hasil: sebuah rumah kosong di dekat perbatasan kota, di ujung jalan tanah yang hanya muat satu mobil.
Rumah itu tidak terkunci.
Di dalam tidak ada perabot. Tidak ada tempat tidur, tidak ada kompor. Hanya satu kursi lipat di tengah ruangan, menghadap dinding.
Dan di dinding itu, ditulis dengan cat hitam setinggi dada, ada dua kalimat.
“Sofia tahu siapa saya. Albert akan menjadi alat terakhir.”
Akira membacanya dua kali. Lalu tiga kali. Cat itu masih mengilap di beberapa bagian, dan ada satu tetes yang meleleh panjang dari huruf terakhir sampai ke lantai. Tulisan itu belum lama. Mungkin baru beberapa hari.
Kursi lipat itu menghadap tepat ke arah kalimat tersebut. Seseorang duduk di sini, berjam-jam, membaca tulisannya sendiri.
“Alat terakhir,” ulangnya. “Apa artinya itu?”
Albert tidak menjawab. Ia berdiri di depan dinding dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya.
“Albert.”
“Artinya semua yang saya lakukan pada kamu,” katanya akhirnya, suaranya serak, “mungkin bukan ide saya sendiri.”
Akira merasa dadanya sesak. Ia ingin membantah, tetapi pikirannya sudah lebih dulu berlari ke tempat yang lebih buruk. Kalau Karin menyimpan dendam kepada Sofia, dan kalau Karin tahu Albert sudah menyimpan dendam kepada keluarga Sofia — maka Albert adalah senjata yang sudah terisi. Karin tidak perlu menembak. Ia cukup menaruhnya di tempat yang tepat, lalu menunggu.
Selama bertahun-tahun Akira mengira penderitaannya lahir dari kebencian satu laki-laki. Sekarang ia mulai curiga bahwa kebencian itu pun ada yang menyiramnya.
Ponsel Richard bergetar di sakunya.
Nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.
“Jembatan tua di jalan lama,” kata suara perempuan di seberang. “Besok, pukul sepuluh pagi. Bawa siapa pun yang kalian mau. Saya tidak keberatan.”
Sambungan terputus sebelum siapa pun sempat menjawab.
Pagi berikutnya jembatan itu berkabut. Sungai di bawahnya coklat dan penuh, dan besi pegangannya berkarat sampai warnanya nyaris merah. Richard datang bersama polisi, dua mobil di ujung utara dan satu di ujung selatan.
Tidak ada siapa-siapa di jembatan. Hanya seekor burung yang berpindah dari satu tiang ke tiang lain, lalu terbang begitu mobil ketiga berhenti.
Selama sepuluh menit yang terasa satu jam, mereka hanya mendengar air.
Lalu sebuah pengeras suara kecil yang diikat di tiang jembatan berdesis dan menyala.
“Terima kasih sudah datang tepat waktu.”
Polisi langsung bergerak mencari, tetapi Akira tahu itu percuma. Perempuan itu tidak akan ada di sana.
“Kenapa kamu tidak datang sendiri?” tanya Akira.
“Karena saya belum selesai,” jawab suara itu. Tenang, tidak buru-buru. “Dan karena kalau saya datang, saya akan ditangkap sebelum saya sempat bicara. Saya lebih suka bicara dulu.”
“Kalau begitu bicara.”
“Saya tidak ingin menyakiti Akira,” kata Karin. “Saya ingin kamu percaya itu, karena selebihnya mungkin tidak akan kamu percaya. Saya hanya ingin Albert mengetahui bahwa keluarganya juga mengorbankan orang lain.”
Albert melangkah lebih dekat ke tiang. “Keluarga saya yang jadi korban.”
“Kalian semua jadi korban,” kata Karin. “Itu yang paling tidak enak dari cerita ini. Tidak ada yang bersih, dan tidak ada yang sepenuhnya bersalah. Lihat ponsel Richard.”
Ponsel di tangan Richard bergetar. Sebuah video masuk.
Gambarnya buruk, diambil dari kamera pengawas sebuah kantor. Tanggalnya lima belas tahun lalu. Seorang laki-laki berjas duduk di meja, mendorong amplop tebal ke seberang meja, kepada sepasang suami istri yang pakaiannya sederhana.
Akira mengenali laki-laki itu dari foto hitam putih yang tergantung di ruang kerja Albert. Ayah Albert. Lebih muda, rambutnya masih hitam semua, tetapi cara duduknya sama persis dengan cara anaknya duduk.
“Ayah kamu membayar keluarga korban,” kata Karin. “Empat keluarga. Dia tidak diwajibkan melakukan itu. Tidak ada perintah pengadilan, tidak ada yang menuntut. Dia datang sendiri.”
Albert menatap layar tanpa berkedip.
“Lalu kenapa kami tidak pernah menerima apa-apa?” Suara Karin akhirnya bergetar sedikit, untuk pertama kalinya. “Karena uang itu tidak pernah sampai. Damian yang mengantar. Damian yang menandatangani tanda terima. Dan Damian yang memakainya untuk membeli diam orang-orang, lalu mencatat semuanya atas nama ayahmu.”
Kabut bergerak di atas sungai.
“Ayahmu memang tidak sepenuhnya bersih,” kata Karin. “Dia tahu dari mana uang perusahaannya. Dia memilih tidak bertanya terlalu jauh. Tapi dia tidak pantas mati.”
Akira menoleh dan melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah Albert: laki-laki itu menangis tanpa suara, tanpa berusaha menyekanya.
“Kenapa kamu memberitahu kami sekarang?” tanya Akira.
“Karena saya sudah tua dan saya sudah capek,” jawab Karin. “Dan karena menghancurkan kalian ternyata tidak mengembalikan siapa pun.”
Ada jeda. Air di bawah terus mengalir.
“Satu kali lagi kita bertemu,” kata suara itu. “Tempatnya saya yang tentukan, waktunya kalian. Saya akan bawa nama orang yang memerintah Damian. Bukan tebakan. Bukti.”
Pengeras suara itu mati, dan tidak menyala lagi.