Kota pelabuhan itu berbau garam dan solar. Angin dari dermaga membawa suara derek yang bekerja sepanjang malam, dan di gang sempit tempat mereka berhenti, seorang perempuan menjemur jaring di depan rumah petak bercat hijau pudar.
Perempuan itu Karina.
Ia tidak lari ketika melihat polisi. Ia hanya meletakkan jaringnya, mengelap tangan di celana, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Masuk,” katanya. “Sudah dua belas tahun saya menunggu ada yang datang.”
Di dalam, rumah itu rapi dengan cara yang menyedihkan: semua barang bisa dimasukkan ke dalam satu tas dalam sepuluh menit. Di kartu identitas yang tergeletak di meja tertulis nama lain, alamat lain, tanggal lahir yang bukan tanggal lahirnya.
“Kenapa kamu memalsukan kematianmu?” tanya Pak Surya.
“Karena kalau saya tidak mati, saya benar-benar akan mati,” jawab Karina.
Ia duduk dan menceritakannya dengan datar, seperti orang yang sudah terlalu sering mengulang cerita yang sama di dalam kepalanya sendiri. Ia bekerja bertahun-tahun bersama Sofia. Ia melihat terlalu banyak. Lalu satu per satu orang yang ia kenal berhenti mengangkat telepon.
“Saya masuk ke jaringan itu dengan mata terbuka,” katanya. “Saya tidak akan bilang saya korban murni. Saya ikut karena saya ingin membalas. Ada keluarga kaya yang menghancurkan hidup saya, dan saya ingin melihat mereka kehilangan sesuatu.”
“Dan kamu mendapatkannya?” tanya Akira.
Karina memandang Akira lama. “Saya mendapat dua belas tahun tidur dengan pintu diganjal kursi. Saya mendapat nama yang bukan nama saya, dan pekerjaan menjemur jaring orang lain. Silakan nilai sendiri.”
Albert meletakkan berkas transaksi di meja. “Semua uang berakhir di rekening atas namamu. Setiap sen.”
“Saya tahu.”
“Jadi kamu yang memimpin Ordo.”
“Tidak.” Untuk pertama kalinya suara Karina naik. “Itu justru yang membuat saya tidur dengan kursi di pintu. Rekening itu atas nama saya, tapi saya tidak pernah bisa menariknya. Saya cuma kotak pos yang kebetulan punya nama.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Nona K adalah nama yang digunakan seseorang untuk membuat kami saling curiga,” katanya. “Itu saja fungsinya. Saya kira Rani yang memimpin. Rani kira saya. Kania kira kami berdua. Selama kami sibuk saling menuduh, tidak ada satu pun dari kami yang berpikir untuk mencari ke atas.”
Ia berdiri, menarik lantai papan di bawah tempat tidur, dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul plastik.
“Ini buku kode,” katanya. “Setiap transaksi ada di sini. Tanggal, jumlah, dan siapa yang menyuruh mencatatnya. Saya menyalin semuanya sejak hari pertama, karena saya tahu suatu hari saya harus membuktikan bahwa saya bukan orangnya.”
Pak Surya membuka buku itu dengan hati-hati. Halamannya penuh angka dan kode huruf yang rapi. Mereka membacanya bergantian selama hampir satu jam, sampai Richard sampai ke halaman terakhir.
Halaman itu tidak berisi angka. Hanya satu alamat, ditulis dengan pena yang berbeda.
“Ini apa?” tanya Richard.
“Saya tidak tahu,” kata Karina. “Itu sudah ada di situ waktu buku ini diserahkan ke saya.”
Alamat itu milik sebuah hotel tua di pinggir kota, bangunan yang sudah lama tidak menerima tamu.
Richard dan Akira berangkat ke sana pagi berikutnya.
Hotel itu masih berdiri, tetapi lobinya sudah ditutup papan. Penjaga yang membukakan pintu mengaku hanya dibayar untuk menjaga bangunan, bukan mengurus tamu. Ketika Richard menyebutkan nomor kamar yang tertulis di buku kode, wajah lelaki tua itu berubah.
“Kamar itu tidak pernah disewakan,” katanya. “Ada yang membayar sewanya setiap tahun. Saya tidak tahu siapa.”
Kamar itu ada di lantai dua, di ujung koridor yang karpetnya sudah menipis sampai benangnya kelihatan. Lampu koridor cuma menyala dua dari delapan, dan langkah mereka terdengar dua kali: sekali di lantai, sekali memantul di dinding. Debu di lantainya tebal, tetapi ada jalur bersih dari pintu ke meja — jejak langkah yang diulang bertahun-tahun.
Akira berhenti di ambang pintu.
Di dinding tergantung foto dua perempuan yang sedang tertawa di sebuah restoran. Salah satunya ibunya. Yang satu lagi perempuan dengan mata Albert.
“Ibu saya,” kata Albert dari belakang, suaranya nyaris tidak terdengar.
Ruangan itu bukan kamar hotel. Itu tempat bertemu. Dua kursi berhadapan, satu meja, satu asbak, dan tirai yang tidak pernah dibuka.
Sofia dan ibu Albert pernah duduk di ruangan ini, entah berapa kali, di tahun-tahun ketika seluruh dunia mengira mereka bermusuhan.
Di atas meja ada surat yang sudah dilipat dan dibuka berkali-kali sampai lipatannya menipis.
Akira membacanya dengan tangan gemetar.
Kedua perempuan itu pernah merencanakan untuk melaporkan pamannya. Mereka sudah mengumpulkan berkas, sudah menentukan tanggal, sudah menghubungi seorang pengacara. Lalu semuanya berhenti.
Di paragraf terakhir tertulis alasannya dengan satu kalimat pendek: Damian mengancam anak-anak.
“Anak-anak,” ulang Akira. “Itu kami. Aku dan kamu.”
Albert tidak menjawab. Rahangnya mengeras.
“Mereka berhenti karena kami,” kata Akira lagi. Kertas itu bergetar di tangannya. “Selama ini aku pikir ibuku diam karena tidak peduli. Aku pernah membencinya karena itu. Bertahun-tahun.”
“Saya juga,” kata Albert akhirnya. “Saya membenci ibu saya karena memilih pergi. Ternyata dia sedang menahan sesuatu yang tidak dia ceritakan pada siapa pun.”
Ia belum selesai bicara ketika sesuatu berbunyi di sudut ruangan.
Sebuah perekam kecil di rak, tersambung ke sensor di ambang pintu, menyala sendiri. Pita di dalamnya berputar dengan bunyi berderit, lalu ruangan itu terisi suara yang membuat lutut Akira lemas.
Suara ibunya.
“…kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya siapa pun di kantor. Jangan percaya pengacara. Jangan percaya keluarga.” Ada jeda panjang, napas yang ditarik. “Cuma ada satu orang yang aku percaya sampai sekarang. Namanya Karin.”
Rekaman itu berhenti sendiri.
Karina, yang berdiri di belakang bersama petugas, menjatuhkan tasnya.
“Karin adalah nama adikku,” katanya. “Dia meninggal bersama suaminya.”
Akira berbalik. “Kapan?”
“Sepuluh tahun lalu. Mobil mereka terbakar.” Karina bicara terlalu cepat sekarang. “Saya yang mengurus semuanya. Saya yang menandatangani surat-suratnya.”
Pak Surya sudah membuka map lamanya, mencari lembar yang tadi pagi belum berarti apa-apa. Ia mengeluarkan satu foto dan meletakkannya di meja, di samping foto buram yang dikirim Nona K bertahun-tahun lalu ke Rani.
Dua wajah. Dua sudut pengambilan yang berbeda. Rambut yang berbeda.
Tulang pipi yang sama. Dagu yang sama. Mata yang sama.
Perempuan dalam pesan Nona K adalah Karin.