Kantor yayasan itu tidak lebih besar dari sebuah ruko. Satu meja panjang, dua lemari arsip, dan kalender tahun lalu yang lupa diturunkan. Kania bekerja sebagai pengelola keuangan di sana, dan ia sedang menghitung kuitansi ketika mereka masuk.
Perempuan itu jauh lebih muda dari yang Akira bayangkan. Kacamatanya melorot, lengan bajunya digulung, dan di belakangnya ada papan tulis berisi daftar nama anak asuh dengan angka SPP di sebelahnya.
“Saya sudah menunggu,” kata Kania. “Sejak polisi menelepon kemarin, saya tidak bisa tidur.”
“Kalau begitu kita mulai saja,” kata Richard.
Kania mengaku tidak tahu apa-apa tentang Ordo. Ia mengulanginya dua kali, dan Akira percaya bahwa perempuan itu memang percaya pada ucapannya sendiri. Tetapi laporan transaksi yang dibawa Pak Surya mengatakan hal lain: sebagian besar dana yang masuk ke yayasan selama enam tahun terakhir berasal dari akun yang sama — akun yang di berkas penyidik ditandai dengan dua huruf saja, Nona K.
“Itu donatur tetap kami,” kata Kania. “Namanya tidak pernah ditulis. Saya kira itu hal biasa. Banyak orang menyumbang tanpa mau disebut.”
“Dan kamu tidak pernah bertanya?” tanya Akira.
“Pernah.” Kania melepas kacamatanya. “Sekali. Saya tanya ke bank, siapa pemilik rekening pengirim. Bank bilang tidak bisa memberitahu. Minggu depannya, transfer bulan itu dikurangi setengah. Saya tidak pernah bertanya lagi.”
Ia terdiam, lalu menambahkan dengan suara yang lebih kecil, “Ada empat puluh dua anak di daftar itu. Kalau transfernya berhenti, empat puluh dua anak yang berhenti sekolah. Saya memilih diam.”
Albert menaruh map di meja. “Kamu pernah menerima instruksi dari mereka?”
Kania tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak ke laci, berhenti, lalu bergerak lagi.
Akhirnya ia mengakui bahwa ya, ia pernah menerima instruksi. Bukan lewat telepon, bukan lewat pertemuan. Lewat surat. Amplop cokelat polos yang datang bersama setoran, berisi perintah pendek: alihkan sekian ke rekening ini, catat sebagai bantuan pendidikan, jangan buat kuitansi rangkap.
“Saya hanya mencatat uang,” katanya. “Saya tidak pernah bertemu langsung dengan pengirimnya. Tidak pernah sekali pun.”
“Tapi kamu tahu bentuk tulisannya,” kata Pak Surya.
“Saya selalu melihat tanda tangan berbentuk huruf K,” kata Kania. “Cuma satu huruf. Ditulis besar, lalu ekornya ditarik panjang ke bawah sampai keluar dari garis.”
Rani, yang sejak tadi duduk paling ujung tanpa bicara, mengangkat kepalanya.
“Saya pernah melihat itu,” katanya.
Ia membuka tas kainnya dan mengeluarkan sebuah buku tua bersampul kulit yang sudah retak. Buku catatan belanja rumah tangga, dari zaman ketika Akira masih duduk di bangku sekolah dasar. Rani membalik halamannya sampai ke bagian tengah, lalu mendorong buku itu ke tengah meja.
Di sudut kanan bawah halaman, di bawah daftar belanja bulanan yang sudah pudar, ada tanda tangan yang sama. Huruf K besar, dengan ekor yang ditarik terlalu panjang ke bawah.
Kania menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Sama,” bisiknya. “Ekornya juga ditarik sampai keluar garis. Persis.”
“Sama persis,” kata Pak Surya. Ia memasang kacamata bacanya dan membandingkan keduanya sebentar. “Tapi saya tidak mau kita salah mengambil kesimpulan di sini.”
“Maksud Bapak?” tanya Akira.
“Maksud saya, ini bukan berarti orangnya satu.” Pak Surya menyandarkan punggung. “Lihat polanya. Rani mengawasi, tapi tidak tahu siapa yang dilapori. Kania mencatat uang, tapi tidak pernah bertemu pengirim. Bibi Lastri memegang kunci, tapi katanya cuma disuruh menjaga anak-anak. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah melihat wajahnya.”
“Jadi dia memakai orang,” kata Albert.
“Dia memakai orang, dan dia memastikan tidak ada orang yang bisa menunjuk balik.” Pak Surya mengetuk meja pelan. “Nona K mungkin tidak pernah muncul sama sekali. Dia cuma perlu satu huruf dan uang yang datang tepat waktu.”
Akira menatap dua tanda tangan yang berdampingan di meja itu, dan untuk pertama kalinya sebuah pikiran yang lebih menakutkan masuk ke kepalanya.
Bagaimana kalau Nona K bukan seseorang?
Bagaimana kalau selama ini mereka mengejar sebuah nama yang dipakai bergantian — dipinjam, diwariskan, dipakai siapa saja yang sedang memegang uangnya? Orang bisa ditangkap. Nama tidak. Nama bisa terus hidup selama masih ada yang mau menandatanganinya.
“Aku tidak yakin kita sedang mencari satu orang,” kata Akira pelan.
Albert menoleh. “Kenapa?”
“Karena kalau dia satu orang, dia terlalu rapi. Dan kalau dia banyak orang, kita tidak akan pernah selesai.”
Tidak ada yang menjawab itu.
Albert kembali ke berkasnya. Ia sudah dua jam membaca daftar pembayaran yang disita dari apartemen Nina, halaman demi halaman angka yang tidak berarti apa-apa sampai seseorang tahu harus mencari apa. Sekarang ia tahu harus mencari apa.
Nama Kania ada di sana, di kolom penerima, sebelas kali. Nama Bibi Lastri ada di sana, empat kali, dengan jumlah yang jauh lebih kecil.
Dan di setiap baris, setelah uang itu berpindah dua atau tiga tangan, tujuan akhirnya selalu sama. Satu rekening. Satu nama.
Albert membaca nama itu dua kali sebelum membacanya keras-keras.
“Karina.”
Kepala Pak Surya terangkat cepat. “Karina siapa?”
“Tidak ada marga. Cuma Karina.” Albert menyerahkan lembarannya. “Semua bermuara ke sini. Setiap rupiah.”
Pak Surya membacanya, lalu wajahnya berubah. Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang dari kesatuannya, bicara pendek-pendek, lalu menutup telepon dan menatap Akira dengan cara yang membuat Akira ingin berdiri.
“Ada apa?” tanya Akira.
“Nama itu ada di arsip lama ibu kamu,” kata Pak Surya. “Karina pernah bekerja satu kantor dengan Sofia. Mereka rekan, bertahun-tahun.”
“Lalu?”
“Lalu dia meninggal. Kecelakaan tunggal, dua belas tahun lalu. Berkasnya ditutup dalam tiga hari.”
Ruangan kecil itu terasa makin sempit. Kania menunduk memandangi kuitansi yang tadi ia hitung, seakan angka-angka itu tiba-tiba berubah arti.
“Orang yang sudah meninggal tidak menerima transfer,” kata Richard.
“Tidak,” kata Pak Surya sambil berdiri dan mengambil jaketnya. “Tidak menerima.”
Sore itu juga polisi membuka pemeriksaan di pemakaman tempat nama Karina terpahat. Batu nisannya bersih, terawat, ada bekas bunga yang belum lama diletakkan.
Mereka menggali sampai senja. Akira berdiri di balik garis polisi dengan jaket Albert di bahunya, mendengar sekop membentur tanah keras berulang-ulang sampai bunyinya terasa seperti dihitung.
Tidak ada peti. Tidak ada jenazah. Tanah di bawah nisan itu padat dan utuh, tidak pernah sekali pun dibuka.
Tidak ada siapa pun yang pernah dimakamkan di sana.