Hujan baru berhenti ketika mobil mereka berbelok masuk ke halaman rumah lama keluarga Akira. Ban menggilas genangan air, dan bunyi cipratannya terdengar terlalu keras di telinga Akira, seperti sesuatu yang seharusnya tidak boleh mengganggu rumah itu.
Rumah itu sudah kosong sejak Sofia menghilang. Cat pagarnya mengelupas dalam lembaran-lembaran kecil. Rumput di halaman tumbuh sampai setinggi betis, menelan jalan setapak yang dulu setiap pagi disapu sampai bersih.
“Kamu yakin mau masuk?” tanya Richard sambil mematikan mesin.
Akira mengangguk. “Aku tumbuh di rumah ini. Kalau ada yang harus masuk lebih dulu, itu aku.”
Albert turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Akira. Tangannya sempat menahan daun pintu itu beberapa detik lebih lama dari yang perlu, seolah memberi Akira kesempatan untuk berubah pikiran.
Akira tidak berubah pikiran.
Pintu depan tidak terkunci. Bau di dalam menyerang mereka begitu pintu terbuka — bau kayu lembap, debu, dan sesuatu yang manis-basi seperti bunga yang lupa dibuang. Akira menahan napas sebentar. Ia hafal bau rumah ini waktu masih ditinggali. Bau ini bukan bau itu.
Rani menunggu di ruang tamu.
Perempuan itu duduk di kursi rotan yang dulu selalu ditempati Sofia, dengan beberapa kotak dokumen tersusun di lantai dekat kakinya. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Ia berdiri begitu melihat Akira, lalu tampak tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya sendiri.
“Kamu sudah besar,” kata Rani pelan.
Akira tidak membalas. Ia hanya duduk di seberang perempuan itu. Albert berdiri di belakang kursinya, tidak duduk, tidak juga menjauh.
Rani menarik napas panjang.
“Aku bekerja untuk keluargamu sejak kamu masih kecil,” katanya. “Aku tahu pamanmu melakukan banyak hal, tetapi aku tidak berani melawan.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sunyi. Di luar, air dari talang menetes ke bak semen dengan irama yang tetap.
“Banyak hal,” ulang Akira. “Bisa kamu sebut satu saja?”
Rani menunduk. “Bisa. Tapi kalau aku mulai, aku tidak akan bisa berhenti, dan kamu mungkin sudah membenciku sebelum aku selesai.”
“Aku sudah datang sejauh ini. Aku tidak akan pergi sebelum kamu selesai.”
Perempuan itu membuka kotak yang paling atas. Isinya buku catatan bersampul cokelat, kuitansi, dan beberapa amplop yang ujungnya sudah menguning.
Rani mengaku bahwa setelah Sofia pergi, ia diminta mengawasi Akira. Bukan menjaga — mengawasi. Ia mencatat jam berapa Akira berangkat, dengan siapa Akira pulang, siapa yang datang menjenguk, dan berapa lama tamu itu tinggal. Semua itu ia laporkan setiap minggu kepada seseorang yang memakai nama Nona K.
Akira merasa ada yang dingin turun ke perutnya.
“Selama berapa tahun?”
“Sampai kamu menikah,” jawab Rani. “Setelah itu mereka bilang tidak perlu lagi. Katanya sudah ada orang yang lebih dekat.”
Albert menegang di belakang kursi. Akira tahu persis apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu, karena ia memikirkan hal yang sama: orang yang lebih dekat itu Albert sendiri.
“Kenapa kamu membantu mereka?” tanya Akira.
Rani mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sore itu matanya basah.
“Karena keluargaku juga terancam. Nona K membayar biaya pengobatan anakku.”
Ruangan hening lagi.
“Anakku sakit sejak umur empat tahun,” lanjut Rani. “Setiap minggu harus cuci darah. Gajiku tidak akan pernah cukup, bahkan kalau aku bekerja di tiga rumah sekaligus. Lalu datang surat. Isinya bukti pembayaran rumah sakit, sudah lunas satu tahun di depan. Di bawahnya cuma ada satu kalimat: kabari kami kalau ada yang mendekati Akira.”
Akira menekan kedua telapak tangannya di pangkuan supaya tidak gemetar.
“Kamu bisa memberitahuku.”
“Kamu masih delapan belas tahun waktu itu,” kata Rani. “Apa yang bisa kamu lakukan? Mereka tahu nama sekolah anakku. Mereka menuliskannya di surat kedua, tanpa penjelasan apa pun. Cuma nama sekolahnya. Aku mengerti maksudnya.”
Richard menarik kursi dan duduk di samping. “Kamu pernah bertemu langsung dengan Nona K?”
“Tidak pernah.” Rani menggeleng cepat. “Semua lewat surat. Tapi ada satu kali, di tahun kedua, aku disuruh mengantar amplop ke sebuah rumah makan. Perempuan yang mengambilnya tidak mau turun dari mobil. Sopirnya yang menerima. Aku sempat memotretnya dari jauh.”
Ia merogoh kotak paling bawah dan mengeluarkan sebuah foto. Kertasnya sudah melengkung di sudut.
Akira menerima foto itu dengan tangan yang terasa asing. Di dalamnya seorang perempuan duduk di jok belakang mobil, setengah wajahnya tertutup bayangan dan sisa kaca yang tidak diturunkan penuh. Rambutnya digelung rapi. Yang terlihat jelas hanya dagu, leher, dan bahu.
“Ini Nona K?”
“Itu yang mereka sebut Nona K.”
Akira memandang foto itu lama. Ia tidak mengenal perempuan tersebut. Tidak ada satu pun bagian dari wajah setengah itu yang menyentuh ingatannya.
Albert mengambil foto tersebut dari tangan Akira. Ia menatapnya sebentar, lalu mengangkatnya lebih dekat ke lampu.
Wajahnya berubah.
“Kalungnya,” katanya.
Akira menoleh. “Kenapa dengan kalungnya?”
Di leher perempuan itu tergantung kalung dengan bandul pipih berbentuk daun, dengan satu sisi yang sedikit penyok. Albert pernah melihat kalung itu. Bukan di foto, bukan di laporan — di depan matanya sendiri, di leher seorang perempuan yang pernah berdiri di ruang tunggu kantornya dan mengaku hanya ingin mengantar bekal untuk Akira.
“Itu kalung Bibi Lastri,” kata Albert.
Nama itu membuat Akira berdiri tanpa sadar. Bibi Lastri. Pengasuh yang menyuapinya waktu kecil. Perempuan yang namanya muncul dalam catatan bank sebagai salah satu yang pernah mengakses rekening rahasia keluarga.
“Bukan,” potong Rani cepat. “Bibi Lastri bukan Nona K.”
“Kalungnya ada di leher perempuan itu,” kata Albert datar.
“Karena kalung itu bukan milik Bibi dari awal.” Rani menggeleng keras, seakan ingin menolak sesuatu yang telanjur masuk ke ruangan. “Aku ada di sana waktu kalung itu diberikan. Di dapur rumah ini. Bibi Lastri menerimanya sebagai hadiah, dan dia menangis waktu menerimanya karena dia pikir orang itu baik.”
Akira mendekat selangkah. “Diberikan oleh siapa?”
Rani diam beberapa detik. Di luar, tetesan air dari talang berhenti.
“Oleh Kania,” katanya akhirnya.
Akira mengernyit. Nama itu terasa jauh, seperti sesuatu yang pernah disebut sekali dalam percakapan orang dewasa, lalu ditutup buru-buru begitu ada anak kecil masuk ke ruangan. Ia mencoba menarik wajah dari ingatannya dan tidak menemukan apa-apa selain kabur.
“Kania siapa?”
“Sepupu jauhmu,” jawab Rani. “Dari pihak ibumu. Dia tinggal di luar kota, dan dia tidak pernah sekali pun datang ke rumah ini kecuali hari itu.”