Akira tidak menceritakan bisikan itu kepada siapa pun sampai malam.
Ia menunggu sampai Arkan tidur, sampai rumah sepi, sampai Albert duduk di tepi ranjang melepas jam tangannya. Baru kemudian ia mengulanginya, kata demi kata.
“Masih ada satu orang yang memegang semua kunci.”
Albert berhenti bergerak.
“Dia bisa saja berbohong,” katanya. “Itu yang dia lakukan seumur hidupnya. Menanam ketakutan.”
“Bisa saja.” Akira menatap langit-langit. “Tapi kalau dia berbohong, kenapa dia menunggu sampai borgolnya terpasang? Orang berbohong untuk menyelamatkan diri, Albert. Kalimat itu tidak menyelamatkan apa pun.”
Mereka mulai membongkar catatan Aurelia keesokan harinya.
Dua belas buku disita dari rumah pegunungan. Sebelas berisi nama keluarga. Satu buku, yang paling tipis dan paling baru, berisi angka.
Dan di buku itu, muncul sebuah sebutan: Nona K.
Seseorang bernama Nona K disebut dalam catatan Aurelia.
Tidak ada foto. Tidak ada nama lengkap, tidak ada alamat, tidak ada tanggal lahir. Hanya dua huruf dan daftar transaksi.
“Dia yang membayar semuanya,” kata Nara sambil menunjuk baris demi baris. “Operasi di rumah aman. Orang-orang bertopeng di ulang tahun Arkan. Sewa rumah tempat keluarga Wira ditahan. Bahkan bunga mawar putih yang ditinggalkan Tania di gerbang — ada nota kecilnya di sini.”
“Aurelia tidak membayar?”
“Aurelia tidak punya uang, Pak.” Nara mengangkat wajahnya. “Dia punya sistem. Uangnya dari orang lain.”
Butuh empat hari untuk melacak jalur uang itu, dan hasilnya membuat Albert berdiri dari kursinya.
Nara menemukan bahwa Nona K menggunakan jaringan finansial milik perusahaan Albert.
Bukan uang perusahaan. Jalurnya. Rekening-rekening perantara lama yang dulu Albert buat untuk keperluan yang tidak ingin ia ingat lagi — masa ketika ia masih menyusun rencana balas dendam, ketika ia butuh memindahkan uang tanpa jejak.
Rekening itu seharusnya sudah mati semua.
“Seseorang di perusahaan kembali mengakses rekening lama,” kata Nara. “Tiga bulan terakhir. Sedikit-sedikit, tidak pernah besar, selalu di luar jam kerja.”
Albert memeriksa semua pegawai malam itu juga.
Ia tidak tidur. Ia membuka daftar akses sistem keuangan sejak lima tahun lalu, mencocokkan nama, jabatan, dan tanggal berhenti. Satu per satu ia coret.
Sampai tersisa satu akun yang seharusnya sudah tidak ada.
Akun itu milik mantan sekretarisnya, Nina.
Albert menatap nama itu lama sekali.
Nina pernah membantu mengurus jadwal dan dokumen Albert saat ia merencanakan balas dendam. Perempuan itu tahu ke mana Albert pergi setiap Selasa, siapa yang ia temui, berkas mana yang tidak boleh masuk sistem. Ia yang menyiapkan map pertama tentang keluarga Sofia.
“Dia menghilang setelah aku menikah dengan Akira,” kata Albert pagi harinya. “Mengundurkan diri lewat surat. Aku bahkan tidak sempat bertanya kenapa. Waktu itu aku pikir dia cuma tidak nyaman.”
“Kamu tidak curiga sama sekali?” tanya Richard.
“Aku sedang sibuk berhenti menjadi orang jahat,” jawab Albert pahit. “Aku tidak memperhatikan siapa yang pergi.”
Akira menyentuh punggung tangannya. “Jangan begitu.”
“Kenapa tidak? Itu kebenarannya.” Albert menggeleng. “Selama ini aku pikir masa laluku yang paling berbahaya adalah apa yang aku lakukan. Ternyata yang paling berbahaya adalah orang-orang yang membantuku melakukannya.”
Penyidik melacak Nina ke sebuah apartemen di lantai dua belas, sebuah bangunan biasa di pusat kota, tempat orang datang dan pergi tanpa saling mengenal.
Ia tidak berada di sana.
Kamarnya bersih. Lemari setengah kosong, kulkas sudah dimatikan, dan tempat tidurnya dirapikan sempurna. Petugas menemukan debu tipis di meja — dua atau tiga hari, tidak lebih.
Tetapi ia meninggalkan surat.
Amplop putih, diletakkan tepat di tengah meja makan, dengan satu nama di depannya: untuk Albert.
Albert membukanya di tempat itu juga, berdiri, dengan sarung tangan penyidik masih di tangannya.
“Saya bukan Nona K. Saya hanya menyimpan kunci karena diminta menjaga anak-anak. Orang yang benar-benar memegang kendali adalah seseorang yang dekat dengan Akira sejak sebelum Albert mengenalnya.”
Ia membacanya tiga kali sebelum menurunkan kertas itu.
Akira membaca surat itu satu jam kemudian, di ruang tengah rumah aman, dengan wajah pucat.
“Ini tidak mungkin,” katanya.
Tidak banyak orang yang mengetahui hidupnya sebelum bertemu Albert.
Ia menghitungnya di kepala, dan menghitungnya lagi, dan jumlahnya tidak pernah lebih dari sepuluh. Ibunya. Dua tetangga lama. Guru piano yang sudah meninggal. Teman kuliah yang pindah ke luar negeri. Orang-orang yang bekerja di rumah keluarganya dulu, waktu mereka masih punya rumah besar itu.
Dan di situ, ingatannya berhenti.
Ia teringat seorang teman lama bernama Rani.
Rani yang dulu bekerja di rumah keluarganya — membantu di dapur, mengantar Akira ke sekolah, menungguinya di teras kalau ibunya pulang malam. Rani yang umurnya hanya empat tahun lebih tua, yang meminjamkan buku-buku, yang tahu semua rahasia kecil Akira umur tiga belas.
Rani yang kemudian pindah tanpa kabar.
“Dia pergi waktu aku SMA,” kata Akira pelan. “Ibu bilang dia pulang kampung karena ibunya sakit. Aku menulis surat dua kali, tidak pernah dibalas. Aku pikir dia malu karena pekerjaannya.”
Albert menatapnya. “Kamu tidak pernah menceritakan dia.”
“Karena tidak ada yang perlu diceritakan.” Akira menggosok pelipisnya. “Dia cuma... ada. Sepanjang masa kecilku, dia ada.”
Ia berhenti, dan sesuatu di wajahnya berubah.
“Itu masalahnya,” katanya. “Dia ada di semua tempat, sampai aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang perlu dijelaskan. Dia tahu jam berapa aku pulang. Dia tahu aku takut gelap sampai umur berapa. Dia tahu nama ayahku yang tidak pernah kusebut di depan siapa pun.”
“Akira—”
“Dan aku tidak tahu apa-apa tentang dia,” potong Akira. “Tidak nama belakangnya. Tidak di mana rumahnya. Tidak siapa keluarganya. Aku baru sadar sekarang, Albert. Tiga belas tahun, dan aku tidak tahu apa-apa.”
Sofia, yang duduk di sudut ruangan, tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam gelasnya lebih erat.
Richard dan Akira mencari Rani melalui arsip lama.
Mereka mulai dari catatan gaji rumah tangga keluarga Sofia yang masih disimpan dalam kardus, lalu ke kartu keluarga, lalu ke data kependudukan. Namanya muncul, hilang, lalu muncul lagi di kota yang berbeda dengan alamat yang berbeda-beda setiap tiga tahun.
Nomor terakhirnya terdaftar lima bulan lalu.
“Masih aktif,” kata Nara.
Semua orang di ruangan itu menoleh.
Akira menatap nomor itu di layar selama hampir satu menit. Tangannya dingin. Albert berdiri di belakang kursinya, dan tidak mengatakan apa pun, karena ia tahu ini bukan keputusannya.
“Sambungkan,” kata Akira akhirnya.
Nada sambung berbunyi tiga kali. Empat kali.
Lalu terangkat.
Tidak ada suara nyaris satu detik penuh — hanya napas, dan bunyi jam dinding di kejauhan.
Ketika panggilan tersambung, suara Rani terdengar tenang.
“Aku tahu kalian akan mencariku. Datanglah ke rumah lama keluarga Akira. Aku akan menjelaskan semuanya.”