Rekening yang dipakai membayar dua penjaga itu ternyata pernah dipakai untuk hal lain: membayar tagihan listrik sebuah rumah di pegunungan, selama sembilan tahun berturut-turut, tanpa pernah telat sekali pun.
Aurelia terlacak di sebuah rumah tua di pegunungan.
Livia menemukannya dalam dua hari. Nara memastikannya dalam satu malam. Rumah itu berdiri di ketinggian seribu dua ratus meter, di ujung jalan tanah yang hanya bisa dilewati satu mobil, dikelilingi pohon pinus yang tumbuh terlalu rapat.
“Kita berangkat besok subuh,” kata Raka.
Richard ingin ikut operasi.
“Saya sudah mengejar perempuan ini sejak sebelum anak itu lahir,” katanya. “Saya ingin melihat wajahnya.”
“Kamu tetap di belakang,” kata Akira.
“Akira—”
“Bukan karena aku meragukanmu.” Akira menatapnya. “Karena kalau semua orang yang tahu segalanya berada di gunung yang sama, dan sesuatu terjadi, Arkan tidak punya siapa-siapa lagi yang paham urusan ini. Seseorang harus tinggal. Dan aku ingin orang itu kamu.”
Richard membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Akhirnya ia mengangguk, dan Akira memintanya tetap di belakang agar Arkan aman.
Subuh itu dingin sekali. Kabut menggantung setinggi lutut, dan napas setiap orang terlihat putih di udara.
Raka dan polisi memasuki rumah lebih dulu.
Pintu depannya tidak dikunci. Itu sudah cukup aneh.
Mereka menemukan banyak kamar kosong — sembilan kamar di lantai satu, semuanya dengan ranjang besi, semuanya rapi, semuanya berbau kayu dan kapur barus. Tidak ada satu pun barang pribadi. Tidak ada baju di lemari, tidak ada sikat gigi, tidak ada sepatu.
Dan dinding-dindingnya penuh nama keluarga.
Ditulis langsung ke plester, dari lantai sampai setinggi orang dewasa, dalam kolom-kolom rapi. Ratusan nama. Sebagian dicoret. Sebagian diberi lingkaran. Di beberapa tempat ada garis yang menghubungkan satu nama ke nama lain, seperti akar pohon yang digambar terbalik.
Albert berhenti di depan satu dinding di koridor tengah.
Di sana ada nama ibunya. Di sebelahnya, nama Sofia. Dihubungkan oleh satu garis pendek yang ditulis puluhan tahun lalu, jauh sebelum kedua perempuan itu tahu bahwa hidup mereka akan bertabrakan.
Akira menyentuh lengannya.
“Itu ditulis sebelum mereka lahir,” bisik Albert.
“Aku tahu.”
“Seumur hidup aku pikir ayahku yang memulai semuanya. Ternyata ayahku cuma salah satu nama di dinding orang lain.”
Akira menggenggam tangan suaminya dan tidak melepaskannya.
Lalu terdengar suara dari ruang tengah.
Bukan suara langkah. Suara kursi yang bergeser sedikit.
Aurelia muncul di ruang tengah dengan tenang.
Ia perempuan tua bertubuh kecil, punggungnya tegak, rambutnya putih seluruhnya dan disanggul rapi. Ia memakai kardigan abu-abu dan sandal rumah. Di tangannya ada cangkir.
Sepuluh senapan terarah padanya, dan ia bahkan tidak mengangkat alis.
Ia tidak melawan ketika ditangkap. Ia meletakkan cangkirnya di meja, meluruskan tangan ke depan, dan membiarkan borgol dipasang seperti orang yang sedang dicoba baju.
“Saya menunggu kalian,” katanya.
Suaranya persis suara yang mereka dengar di laut, di dalam kabut.
Akira maju satu langkah. Raka menahan bahunya, tetapi ia tetap maju.
“Kenapa?” tanya Akira. “Kenapa semua ini?”
Aurelia menatapnya lama, dari ujung kepala sampai kaki, seperti guru lama yang sedang menilai murid yang sudah bertahun-tahun tidak ditemui.
“Duduklah,” katanya. “Saya tidak akan lari. Kaki saya sudah tidak bisa dipakai lari sejak lima belas tahun lalu.”
Mereka duduk di ruang tengah yang dingin itu, dikelilingi polisi, dan Aurelia bercerita.
Ia mengatakan bahwa ia membangun jaringan setelah keluarganya dirampok oleh orang-orang kaya.
“Tanah kami diambil dengan kertas,” katanya. “Bukan dengan senjata. Ayah saya menandatangani sesuatu yang tidak bisa dia baca, dan seminggu kemudian kami tidur di kandang. Ibu saya mati di musim hujan pertama. Adik saya menyusul.”
“Berapa umurmu waktu itu?” tanya Akira.
“Sebelas.” Aurelia meletakkan cangkirnya. “Umur yang bagus untuk belajar bahwa dunia tidak akan menolong siapa pun. Umur yang jelek untuk belajar itu sendirian.”
Ia meminum tehnya, tangannya sama sekali tidak gemetar.
“Saya belajar satu hal waktu itu. Orang yang merampok kami bukan orang jahat. Mereka cuma anak-anak dari keluarga besar yang tidak pernah diberi tahu bahwa kertas bisa membunuh orang.”
Ia percaya anak-anak dari keluarga besar harus dikendalikan agar tidak menjadi pelaku baru.
“Jadi saya mulai dari bayi,” lanjutnya. “Saya catat siapa lahir dari siapa. Saya pilih yang paling mungkin berkuasa. Saya pastikan mereka tumbuh tahu bahwa mereka diawasi. Anak yang tahu dirinya diawasi tidak akan tumbuh jadi perampok.”
“Kamu mengubah korban menjadi alat,” kata Akira.
“Saya memberi mereka tujuan.”
“Tujuan tanpa kebebasan bukan kehidupan.”
Untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajah perempuan tua itu. Bukan marah. Lebih mirip lelah.
Ia memasukkan tangannya yang terborgol ke saku kardigan, pelan-pelan, dan petugas di sampingnya langsung waspada. Tetapi yang keluar hanya selembar foto.
Aurelia menunjukkan foto bayi Arkan.
Foto itu sudah usang di sudutnya karena sering dipegang. Arkan berumur beberapa hari, matanya tertutup, tangannya mengepal di dekat dagu.
“Dari mana kamu dapat ini?” tanya Albert, suaranya serak.
“Dari seseorang di rumah sakit,” jawab Aurelia. “Selalu ada seseorang di rumah sakit. Itu bukan rahasia besar. Itu cuma kesabaran.”
Akira mengambil foto itu dari tangannya. Tangannya sendiri gemetar.
“Kamu mau mengambil anak saya.”
“Tidak.” Aurelia menggeleng, dan ia menggeleng dengan yakin. “Saya tidak ingin menculiknya. Saya ingin mengajarkan keluargamu bahwa kekuasaan selalu memiliki harga.”
“Dengan membuat seorang ibu tidak bisa tidur selama satu tahun?”
“Dengan membuat seorang ibu mengerti apa yang ibu saya rasakan,” kata Aurelia. “Bedanya, anakmu pulang setiap malam. Adik saya tidak.”
“Itu bukan pelajaran,” kata Akira. “Itu balas dendam yang diberi nama bagus.”
Aurelia tersenyum tipis sekali. “Semua hal yang bertahan lama diberi nama bagus, Nak. Termasuk keluargamu.”
Ruangan itu diam. Di luar, kabut mulai naik menutupi jendela.
Polisi membawanya ke kota siang itu juga.
Mereka menuntunnya melewati halaman berkerikil, pelan, karena perempuan itu berjalan pelan. Wartawan belum tahu apa-apa. Hanya ada suara sepatu, angin pinus, dan mesin mobil yang menyala.
Aurelia berhenti sebentar di tengah halaman dan menengadah, menatap pucuk-pucuk pinus yang bergerak.
“Rumah ini akan dibongkar, ya?” tanyanya.
“Dindingnya akan difoto dulu,” jawab Raka. “Semua namanya.”
“Bagus. Sayang kalau hilang.” Ia melanjutkan langkahnya. “Itu satu-satunya tempat di dunia yang mencatat mereka sebagai manusia, bukan sebagai nomor.”
Namun, sebelum masuk kendaraan, Aurelia berhenti tepat di samping Akira.
Ia menoleh sedikit, dan berbisik cukup pelan sehingga hanya Akira yang mendengarnya, bahwa masih ada satu orang yang memegang semua kunci.