Kalimat Clara itu dibawa pulang oleh Albert seperti batu di saku.
Nara yang pertama kali menjelaskan artinya, di ruang kerja, di depan papan putih yang penuh garis dan nama.
“Ordo Baru tidak lagi membutuhkan perintah langsung,” katanya.
“Maksudmu tidak ada yang menyuruh?” tanya Marcus.
“Ada, tapi jarang. Dan justru itu kekuatannya.” Nara menggambar lingkaran besar di papan. “Anggotanya percaya bahwa setiap tindakan akan dinilai oleh jaringan. Bukan dinilai oleh satu orang — oleh jaringan. Sesuatu yang tidak punya wajah, tidak punya kantor, dan tidak pernah tidur.”
Ia menambahkan lingkaran-lingkaran kecil di sekelilingnya.
“Dan mereka percaya keluarga mereka terancam kalau tidak patuh. Tidak perlu ada ancaman nyata setiap hari. Cukup satu contoh, sekali, lalu diceritakan turun-temurun.”
“Seperti Tania,” kata Akira pelan.
“Tania bahkan lebih parah. Anaknya memang diambil. Tapi untuk seratus orang lain yang mendengar cerita Tania, tidak perlu ada yang diambil lagi. Cerita itu sendiri sudah jadi rantainya.”
Albert bersandar di kursinya.
“Lalu di mana Aurelia dalam gambar ini?”
Nara menunjuk celah di antara lingkaran-lingkaran itu.
“Di sini. Dia tidak memerintah. Dia memanfaatkan sistem tersebut.”
Ia menjelaskan caranya: pesan anonim yang dikirim ke orang yang tepat pada waktu yang tepat, bukti yang dipalsukan agar orang mencurigai orang lain, dan foto-foto yang dibuat seolah seseorang sudah diawasi bertahun-tahun.
“Dia tidak perlu punya seribu orang,” kata Nara. “Dia cuma perlu seribu orang yang merasa sedang diawasi.”
Ruangan itu sunyi lama.
Lalu Richard berdiri.
“Kalau begitu kita tidak bisa melawannya dengan menangkap orang satu per satu,” katanya. “Kita harus merusak ceritanya.”
Dua minggu kemudian, konferensi pers itu digelar.
Bukan di gedung mewah, melainkan di aula pengadilan yang sama tempat Clara ditangkap. Wartawan datang lebih banyak dari yang diperkirakan.
Richard dan Akira membuat pernyataan publik bahwa Arkan tidak memiliki hak istimewa atau darah khusus.
Akira yang membacakannya. Ia tidak memakai kertas.
“Anak saya bernama Arkan,” katanya. “Umurnya satu tahun. Dia belum bisa bicara, belum bisa berjalan jauh, dan hal paling hebat yang bisa dia lakukan adalah menjatuhkan sendok.”
Beberapa wartawan tertawa kecil.
“Ada orang-orang yang menulis namanya di buku sebelum dia lahir. Mereka bilang dia punya darah khusus, garis keturunan yang bisa memimpin, sesuatu yang membuatnya berbeda dari anak-anak lain. Saya berdiri di sini untuk mengatakan itu bohong.”
Ia berhenti sebentar.
“Tidak ada darah khusus. Tidak ada anak yang lahir untuk memimpin siapa pun. Yang ada cuma orang dewasa yang butuh alasan untuk menyuruh orang lain patuh.”
Richard melanjutkan dengan angka-angka: berapa anak yang namanya tercatat di buku Aurelia, berapa yang sudah ditemukan, berapa yang masih dicari.
Mereka meminta jaringan berhenti menggunakan anak-anak sebagai simbol.
“Kalau ada di antara kalian yang menonton ini,” kata Akira di akhir, “dan kalian patuh karena takut anak kalian dijadikan contoh berikutnya — datanglah. Bawa ceritanya. Kami tidak bisa menjanjikan semuanya mudah. Kami cuma bisa menjanjikan kalian tidak akan menghadapinya sendirian.”
Siaran itu diputar ulang berkali-kali selama tiga hari.
Lalu orang-orang mulai datang.
Beberapa anggota Ordo menyerahkan diri — mula-mula dua orang, lalu lima, lalu belasan.
Mereka membawa cerita yang hampir selalu sama bentuknya. Pelatihan sejak kecil di ruang-ruang bawah tanah, pelajaran yang tidak ada di sekolah mana pun, tes kesetiaan yang harus dilewati sebelum umur lima belas. Pemerasan ketika mereka dewasa: rekaman lama, foto lama, kesalahan yang sengaja dibiarkan terjadi agar bisa dipakai nanti.
Ancaman yang sudah mereka dengar sejak kecil, sampai tidak terasa lagi sebagai ancaman, hanya sebagai cara dunia bekerja.
Seorang laki-laki umur tiga puluh menangis di ruang penyidik karena baru menyadari ia tidak pernah memilih pekerjaannya sendiri.
Sofia mulai membuka pusat terapi untuk para korban.
Ia memakai bangunan bekas kantor di pinggir kota, mengecatnya kuning, dan menolak memasang papan nama besar. “Orang yang datang ke sini tidak ingin terlihat,” katanya.
Akira membantu mengurus anak-anak — mereka yang dibawa orang tuanya yang menyerahkan diri, atau yang dijemput dari rumah-rumah pelatihan. Ia belajar hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun: bahwa anak-anak itu tidak takut pada orang asing, tetapi panik kalau jadwal berubah lima menit saja.
Sementara Albert mendanai program hukum: pengacara untuk mereka yang menyerahkan diri, pendampingan untuk yang bersaksi, biaya pindah untuk keluarga yang rumahnya tidak lagi aman.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ada minggu-minggu yang terasa seperti bekerja, bukan bertahan.
Lalu, di tengah pekerjaan itu, Akira menemukan sesuatu.
Ia sedang memeriksa laporan penggunaan komputer pusat terapi — pekerjaan membosankan yang sebenarnya bisa diserahkan orang lain — ketika ia melihat pola pengiriman berkas setiap Kamis malam, selalu pukul sebelas lewat, selalu ke alamat penyimpanan yang sama.
Salah satu staf pusat terapi mengirim data ke luar.
Data anak-anak. Nama, umur, kondisi, jadwal terapi, alamat rumah baru.
Akira tidak memanggil polisi lebih dulu. Ia memanggil Nara, memastikan dua kali, baru kemudian memanggil orangnya.
Staf itu bernama Wira.
Umurnya dua puluh delapan, pendiam, salah satu yang paling rajin. Anak-anak menyukainya karena ia bisa membuat burung dari kertas.
Ia tidak membantah apa pun. Begitu Akira menyebutkan hari Kamis, bahunya turun.
“Saya mengirimnya,” katanya. “Semua yang Ibu lihat, saya yang kirim.”
“Kenapa?”
Wira menangis sebelum bisa menjawab. Butuh beberapa menit sampai kalimatnya utuh.
Ia mengaku mengikuti perintah Aurelia karena keluarganya masih disandera.
“Ibu saya dan adik saya,” katanya. “Sudah delapan bulan. Setiap Kamis saya kirim data, setiap Jumat saya dapat satu foto. Cuma foto. Kalau saya telat satu jam, fotonya tidak datang.”
Akira duduk di kursi seberangnya, dan untuk beberapa saat tidak sanggup marah.
“Kamu tahu alamatnya?”
“Saya tahu.” Wira mengangkat wajahnya. “Saya hafal. Saya sudah menghafalnya sejak bulan ketiga, kalau-kalau suatu hari ada yang mau mendengar.”
Wira menyerahkan alamat rumah tempat keluarganya ditahan.
Operasi dilakukan malam itu juga.
Polisi menyelamatkan mereka — perempuan tua dan seorang gadis lima belas tahun, dalam keadaan lemah tetapi hidup, di sebuah rumah kontrakan yang jendelanya dipaku dari dalam.
Dua penjaga tertangkap. Keduanya orang upahan yang tidak tahu siapa yang membayar, hanya tahu nomor rekening dan tanggal.
Di kamar depan rumah itu, penyidik menemukan kursi kayu menghadap jendela, dengan cangkir teh yang tinggal separuh di lantainya.
Tetapi Aurelia kembali berhasil menghilang.