Semua buku dari ruang arsip itu diangkut ke kota malam itu juga: sebelas kardus, dibongkar di ruang penyidik dengan sarung tangan dan lampu meja.
Butuh dua hari sampai mereka menemukan halaman yang paling ingin dan paling tidak ingin mereka temukan.
Dokumen lama menunjukkan Arkan sebenarnya memiliki saudara kembar yang meninggal saat lahir.
Tertulis di kolom keterangan, singkat sekali: bayi kedua, laki-laki, meninggal beberapa menit setelah lahir. Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan dokter.
Namun catatan itu telah diubah beberapa kali.
Nara menunjukkannya di bawah lampu khusus. Ada bekas hapusan di dua tempat, tinta yang berbeda usia di baris yang sama, dan satu angka yang ditulis ulang di atas angka lama.
“Ini bukan kesalahan tulis,” katanya. “Ini orang yang berkali-kali mengubah cerita yang sama sampai dia puas.”
Akira menolak percaya.
Ia berdiri sepanjang penjelasan itu, tidak mau duduk, tangannya melipat di depan dada.
“Aku melahirkannya,” katanya. “Aku sadar penuh. Aku mendengar satu tangisan. Satu. Kalau ada bayi kedua, aku akan tahu.”
“Kamu baru saja keluar dari operasi, Akira,” kata Richard hati-hati.
“Aku tahu apa yang aku dengar.” Suaranya naik, lalu ia menurunkannya sendiri. “Dan kalaupun aku salah — kalau memang ada — kenapa buku itu ada di rumah sakit yang bahkan bukan tempat Arkan lahir?”
Ruangan itu diam.
“Itu pertanyaan yang benar,” kata Nara akhirnya.
Akira meminta pemeriksaan DNA dilakukan terhadap bayi dalam foto.
“Cari anak di foto itu,” katanya. “Kalau dia memang ada, dia punya nama, punya alamat, punya orang tua. Aku tidak mau ditakuti oleh selembar kertas.”
Penyelidikan berjalan sembilan hari.
Foto itu dicocokkan dengan catatan adopsi lama, lalu dengan data sekolah, lalu dengan kartu keluarga di tiga kabupaten. Livia yang menemukan kecocokannya, di sebuah kota kecil enam jam dari ibu kota.
Penyelidikan mengarah ke sebuah keluarga yang mengadopsi bayi bernama Aruna.
Anak itu tinggal di rumah panggung sederhana dekat pasar, dirawat oleh pasangan tua yang membuka warung nasi di depan rumahnya. Umurnya sama dengan Arkan. Ia baru bisa berjalan beberapa langkah, dan senang sekali memukul panci.
Akira ikut ke sana. Ia tidak bicara sepanjang perjalanan enam jam itu, hanya menatap sawah yang berganti jadi ruko, lalu jadi sawah lagi.
“Kamu sudah menyiapkan diri kalau hasilnya iya?” tanya Albert di kilometer terakhir.
“Aku sudah menyiapkan diri kalau hasilnya iya,” jawab Akira. “Yang belum aku siapkan, kalau hasilnya tidak. Karena kalau tidak, berarti selama ini aku ditipu dengan sangat rapi, dan aku tidak tahu apa lagi yang palsu.”
Ketika ia melihat Aruna untuk pertama kalinya — digendong nenek tua itu di depan warung, memakai kaus kebesaran, pipinya penuh — Akira harus berpegangan pada pintu mobil.
Anak itu punya tanda lahir yang sama di leher kiri.
Sampel diambil hari itu juga, dengan izin pasangan tua tersebut, yang justru lebih tenang daripada semua orang di ruangan.
Hasilnya keluar tiga hari kemudian.
Hasil DNA menunjukkan Aruna bukan kembar biologis Arkan.
Bahkan bukan kerabat. Tidak ada hubungan darah sama sekali, tidak dari pihak Albert, tidak dari pihak Akira.
“Tanda lahirnya?” tanya Albert.
“Kebetulan,” jawab dokter forensik. “Tanda seperti itu tidak jarang. Yang membuatnya terasa luar biasa bukan tandanya, tapi karena ada orang yang sengaja mengarahkan mata Bapak ke sana.”
Seseorang sengaja membuat data palsu agar keluarga Richard panik.
Akira duduk di kursi ruang tunggu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan cukup lama sampai Albert berlutut di depannya.
“Dia tidak ada,” bisik Akira. “Anak kedua itu tidak pernah ada.”
“Tidak pernah ada.”
“Mereka membuat aku berduka untuk orang yang tidak pernah ada, Albert.”
Albert tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang membuat itu lebih ringan.
Sore itu, pasangan tua yang merawat Aruna diperiksa dengan hormat, di ruangan yang diberi teh dan kursi empuk.
Mereka mengaku menerima bayi itu dari seorang perempuan bernama Clara.
“Beliau bilang ibunya tidak sanggup,” kata nenek itu. “Kami sudah tua, tidak punya anak. Kami tanya suratnya, beliau bilang akan diurus. Setahun kemudian suratnya benar-benar datang.”
“Ibu tidak curiga?” tanya Livia.
“Curiga.” Nenek itu tersenyum kecil. “Tapi bayi itu menangis di tangan saya. Mau saya apakan? Saya kembalikan ke jalan?”
Penyidik memeriksa seluruh riwayatnya, dan hasilnya jelas: anak tersebut bukan milik jaringan. Tidak terdaftar di buku mana pun, tidak punya nomor sistem lama, tidak pernah diawasi. Ia hanya bayi yang dititipkan, lalu dipakai fotonya bertahun-tahun kemudian.
“Aurelia menggunakan kebohongan tentang bayi kembar untuk memaksa keluarga menyerahkan anak,” kata Richard, ketika mereka kembali ke rumah aman. “Bukan cuma ke kita. Coba lihat pola ini di berkas lain — selalu ada ‘pasangan’, selalu ada anak kedua yang katanya hilang. Orang tua akan menyerahkan apa saja untuk cerita seperti itu.”
“Termasuk anaknya sendiri,” kata Marcus.
“Termasuk itu.”
“Dan tidak ada yang melapor,” tambah Livia. “Siapa yang mau mengaku bahwa dia menyerahkan satu anak demi anak yang lain?”
Akira merasa lega, tetapi tidak sepenuhnya tenang.
Malam itu ia berdiri lama di depan boks Arkan, menatap anaknya tidur dengan mulut sedikit terbuka.
“Kenapa?” tanya Albert dari ambang pintu.
“Karena semua ini terlalu rumit untuk sekadar menakut-nakuti.” Akira menoleh. “Dia menyiapkan buku, foto, tulisan di dinding, mainan kayu. Bertahun-tahun. Untuk apa? Kalau dia mau mengambil Arkan, dia punya seribu kesempatan. Dia tidak mengambilnya.”
“Lalu dia mau apa?”
“Itu yang aku tidak tahu. Dan itu yang membuatku tidak bisa tidur.”
Mereka masih belum tahu tujuan sebenarnya Aurelia.
Dua hari kemudian, Albert meminta izin menemui Clara di rumah tahanan.
Perempuan itu tampak lebih kurus. Rambutnya diikat asal-asalan, dan tawanya yang dulu di lorong pengadilan tidak ada lagi.
“Kamu pernah bertemu dia?” tanya Albert. “Aurelia. Langsung. Tatap muka.”
Clara mengangguk pelan.
“Sekali,” katanya. “Dua puluh tahun lalu. Cuma sekali seumur hidup saya.”
“Di mana?”
“Tidak penting.” Clara menatap meja. “Yang penting apa yang dia bilang. Saya memanggilnya pemimpin, dan dia marah. Dia bilang saya bodoh.”
“Kenapa?”
Clara mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya Albert melihat perempuan itu benar-benar takut.
“Perempuan tua itu menolak menyebut dirinya pemimpin,” katanya. “Dia bilang, kalau sistem masih butuh pemimpin, berarti sistemnya belum jadi.”
Clara menggosok lengannya, meski ruangan itu tidak dingin.
“Dia bilang sistemnya sudah bekerja sendiri sekarang. Lewat ketakutan.”