Hadiah tanpa nama itu tidak dibuka di rumah.
Leon membungkusnya dua lapis, menaruhnya di bagasi mobil terpisah, dan hadiah itu dibawa ke laboratorium forensik pagi-pagi sekali, sebelum jalanan ramai.
Mainan kayu ternyata memiliki ruang kecil.
Bentuknya kereta dorong sederhana, dipahat halus, tanpa cat kimia — mainan yang dibuat orang yang tahu bayi suka memasukkan apa pun ke mulut. Petugas laboratorium membelahnya dengan gergaji kecil, dan di dalam badan kereta itu ada rongga seukuran kotak korek api.
Di dalamnya: chip pelacak dan potongan peta.
Chipnya mati. Sengaja dimatikan, kata petugas, bukan kehabisan daya. Petanya dicetak di kertas tipis, dilipat delapan kali, dan hanya menampilkan sepotong wilayah tanpa nama jalan.
Nara membutuhkan waktu enam jam untuk mencocokkannya.
“Ini bukan peta kota sekarang,” katanya akhirnya. “Ini peta lama. Blok-bloknya sudah berubah. Tapi ada tiga titik yang tidak pernah pindah: sungai, jembatan, dan satu bangunan besar di ujungnya.”
Ia memutar layar.
Nara menemukan bahwa peta mengarah ke sebuah rumah sakit bersalin tua.
Akira berdiri di belakang kursi Nara ketika nama bangunan itu muncul. Ia membacanya, dan tubuhnya langsung terasa ringan dengan cara yang tidak enak.
Ia mengenal nama itu.
Akira merasa ketakutan karena tempat itu adalah lokasi kelahirannya.
“Bu,” katanya malam itu di dapur, suaranya datar. “Aku lahir di sana.”
Sofia berhenti mengaduk.
“Iya.”
“Ibu tidak pernah cerita.”
“Ibu tidak pernah merasa perlu.” Sofia meletakkan sendok, menyeka tangannya ke celemek. “Ibu sempat dirawat di sana hampir dua minggu setelah melahirkan kamu. Ibu sakit waktu itu. Demam tinggi. Yang Ibu ingat cuma langit-langit dan suara bayi dari ruangan sebelah.”
“Dua minggu?” Akira menatapnya. “Dua minggu Ibu tidak sadar penuh, dan aku ada di ruangan lain?”
Sofia tidak menjawab, karena keduanya sudah memikirkan hal yang sama.
“Aurelia mungkin ingin kita datang,” kata Richard keesokan harinya, ketika semua berkumpul di ruang kerja.
“Atau ingin memancing kita,” jawab Yura.
“Dua-duanya benar,” kata Albert. “Pertanyaannya bukan itu. Pertanyaannya: apa yang dia simpan di sana yang cukup berharga sampai dia rela memberitahu kita sendiri?”
“Kalau itu jebakan?” tanya Yura.
“Jebakan pun tetap memberi tahu kita satu hal,” jawab Albert. “Tempat itu penting buat dia. Orang tidak memancing pakai umpan sembarangan.”
Richard mengetuk meja pelan. “Kita datang, tapi bukan dengan cara yang dia bayangkan. Siang hari. Ramai. Dan Arkan tidak ikut.”
“Arkan tidak ikut,” ulang Akira tegas. “Itu syarat pertama.”
Mereka memutuskan memeriksa tempat itu dengan pengawalan.
Dua mobil polisi, satu tim penyidik, dan Raka di depan. Akira ikut. Albert sempat ingin melarang, lalu teringat kalimat istrinya enam bulan lalu tentang dipercaya, dan hanya mengangguk.
Arkan ditinggal bersama Sofia dan dua penjaga.
Rumah sakit bersalin itu sudah lama ditutup.
Bangunannya empat lantai, catnya mengelupas dalam lembaran besar, dan halamannya ditumbuhi rumput setinggi lutut. Papan namanya masih ada, hurufnya tinggal separuh. Di dalam, udara berbau kapur, kotoran burung, dan besi berkarat.
Lorongnya panjang. Ranjang-ranjang dorong masih berbaris di dinding, kainnya sudah menghitam.
Akira berjalan pelan, dan setiap langkah terasa seperti menginjak sesuatu yang bukan miliknya. Di sinilah ia menangis untuk pertama kalinya. Di sinilah ibunya terbaring demam.
Ia berhenti di depan sebuah pintu kaca yang sudah pecah, dan entah kenapa tahu itu ruang menyusui. Papan kecil di atasnya masih menggantung miring, hurufnya tinggal tiga.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Albert.
“Aku tidak tahu,” jawab Akira jujur. “Rasanya seperti pulang ke rumah orang yang tidak pernah kita kenal.”
Tetapi ruang arsip masih menyimpan data kelahiran.
Ruangan itu di lantai dua, pintunya terkunci, dan engselnya berkarat sampai harus dicongkel. Di dalamnya rak-rak kayu, penuh buku besar dan map. Sebagian rusak karena lembap, sebagian masih utuh.
Penyidik bekerja selama dua jam.
Lalu salah satu dari mereka memanggil Albert.
Di sana, mereka menemukan catatan bahwa Arkan memiliki nomor identitas yang berbeda dari catatan resmi.
“Ini bukan rumah sakit tempat anak Bapak lahir,” kata penyidik itu, “tapi namanya ada di sini. Dengan nomor lain.”
Albert mengambil buku itu.
Baris nama Arkan tertulis dengan tinta biru, tanggal lahirnya benar, tetapi nomor di kolom identitas tidak cocok dengan akta mana pun yang mereka punya.
“Seseorang telah mendaftarkan kelahirannya dalam sistem lama Ordo,” kata Nara lewat sambungan suara, setelah nomor itu dibacakan. “Formatnya sama dengan nomor-nomor di buku pulau itu. Mereka punya sistem pencatatan sendiri, jalan paralel dengan negara.”
“Berarti di mata mereka,” kata Akira pelan, “anakku sudah terdaftar sebagai milik siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Raka yang menemukan hal berikutnya.
Ia sedang memeriksa laci logam di bawah rak, yang isinya foto-foto bayi berukuran kecil, dijepit dengan klip berkarat, diberi tanggal di belakangnya.
Raka menemukan foto bayi lain yang lahir pada hari yang sama.
Ia menyejajarkan foto itu dengan foto Arkan yang selalu Akira bawa di dompetnya.
Wajah bayi memang mirip-mirip semua. Bukan wajahnya yang membuat Raka berhenti.
Bayi itu memiliki tanda lahir yang sama dengan Arkan — bercak kecokelatan kecil, di tempat yang sama, di sisi kiri leher, bentuknya seperti tetesan.
Akira mengambil foto itu dengan tangan dingin.
“Ini tidak mungkin,” katanya. “Tanda lahir tidak menurun persis begitu.”
“Mereka mungkin menukar data bayi,” kata Raka.
“Data,” ulang Akira. “Atau bayinya?”
“Saya tidak bilang begitu, Nyonya.”
“Tapi itu yang kamu pikirkan.”
Albert mengambil foto dari tangan istrinya dan menyimpannya di map bukti. Rahangnya kaku.
“Kita bawa semuanya. Semua buku di rak ini, semua foto. Kita periksa di kota, bukan di sini.”
Sebelum mereka memeriksa lebih jauh, alarm berbunyi.
Bukan alarm gedung — gedung itu sudah mati bertahun-tahun. Yang berbunyi adalah sensor gerak yang dipasang tim mereka sendiri di pintu-pintu masuk.
Panel di tangan petugas menunjukkan titik merah.
Seseorang memasuki rumah sakit melalui lantai bawah.
Semua lampu senter berbalik arah. Raka memberi isyarat, dan tim bergerak turun dalam dua kelompok, menyusuri tangga darurat yang penuh pecahan ubin.
Lantai bawah lebih gelap dari lantai mana pun. Pipa-pipa menggantung dari plafon. Di ujung koridor ada pintu dorong ganda, dan salah satu daunnya masih bergoyang pelan, seperti baru saja dilewati seseorang.
Mereka mendorongnya.
Mereka menemukan ruangan bayi yang masih memiliki peralatan lama — inkubator berderet, timbangan kuningan, keranjang-keranjang bayi dari rotan yang catnya sudah hilang.
Tidak ada siapa pun di dalamnya.
Senter Albert bergerak ke dinding seberang, dan berhenti.
Di dinding tertulis nama Aurelia, besar-besar, dengan cat hitam yang belum sepenuhnya kering.
Dan di bawahnya, satu kalimat:
“Semua anak memiliki pasangan.”