Enam bulan berlalu.
Arkan tumbuh sehat. Ia sudah bisa berdiri sambil berpegangan pada kaki meja, sudah punya dua gigi bawah, dan sudah tahu caranya membuat seisi rumah tertawa hanya dengan menjatuhkan sendok berkali-kali.
Tetapi ancaman Aurelia tidak pernah berhenti.
Tidak ada serangan selama enam bulan itu, dan justru itu yang melelahkan. Yang datang hanya hal-hal kecil: mobil yang parkir terlalu lama di ujung jalan, panggilan tanpa suara, satu surat tanpa perangko yang isinya cuma tanggal.
Tanggal yang sama dengan hari ulang tahun Arkan.
“Kita tetap merayakannya,” kata Akira.
“Kamu yakin?” tanya Richard.
“Kalau kita tidak merayakan apa pun, mereka sudah menang tanpa datang.”
Richard dan Akira akhirnya memutuskan merayakan ulang tahun pertama Arkan secara sederhana di rumah aman. Tidak ada undangan, tidak ada foto yang boleh diunggah, tidak ada karangan bunga dari luar. Hanya kue kecil, balon yang ditiup sendiri oleh Sera sampai wajahnya merah, dan lampu-lampu kertas yang dipasang Livia di ruang tengah.
Semua keluarga hadir.
Marcus datang paling awal, membawa kursi goyang kayu yang ia buat sendiri. Sofia sibuk di dapur. Sera menyetrika baju kecil berwarna biru sampai tiga kali. Raka berdiri di dekat pintu seperti biasa, tetapi sesekali tersenyum. Livia mengatur lilin. Mama Richard duduk di sofa, memangku Arkan, menyanyikan lagu lama yang liriknya salah separuh.
Mereka berkumpul tanpa saling menyalahkan.
Itu hal yang paling aneh bagi Albert. Di ruangan itu ada orang-orang yang dulu ingin saling menghancurkan, dan sekarang mereka bertengkar soal siapa yang lupa membeli lilin angka satu.
“Aku pikir hari seperti ini tidak akan pernah ada,” katanya pelan pada Akira.
“Aku juga.”
Pukul lima sore, kue dikeluarkan.
Sebelum acara dimulai, listrik padam.
Seluruh ruangan gelap dalam sekejap. Balon-balon jadi bayangan. Mama Richard menarik Arkan ke dadanya secara refleks, dan lagu yang tadi ia nyanyikan berhenti di tengah kata.
Lalu terdengar bunyi panjang dari panel di koridor.
Sistem keamanan memperingatkan adanya penyusup di halaman.
“Semua ke posisi!” teriak Raka.
Albert sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Ia mengambil Arkan dari tangan Mama Richard, menarik lengan Akira, dan membawa mereka ke ruang bawah tanah — ruangan yang mereka siapkan enam bulan lalu dan berdoa tidak akan pernah dipakai.
Pintu bajanya menutup dengan bunyi berat.
Di atas, polisi menghadapi orang-orang bertopeng.
Mereka masuk dari tiga sisi kebun, jumlahnya belasan, memakai pakaian gelap tanpa tanda pengenal. Tidak ada tembakan pada menit-menit pertama; hanya benturan, teriakan, dan suara kaca pecah di sisi timur rumah.
Di dalam ruang bawah tanah, Akira memeluk Arkan yang menangis keras karena gelap dan suara ribut.
“Lihat Ibu,” bisik Akira sambil menyalakan lampu kecil di ponselnya. “Lihat Ibu, Sayang. Ini cuma mati lampu.”
Albert berdiri di depan pintu, menatap layar kecil yang menampilkan kamera, dan mengepalkan tangan sampai buku jarinya putih.
“Jangan keluar,” kata Akira.
“Aku tidak keluar.”
“Kamu sedang berpikir untuk keluar. Aku hafal punggungmu kalau kamu berpikir begitu.”
Albert menoleh. Di bawah cahaya lampu darurat, wajah istrinya tampak tenang, padahal tangannya menekan punggung Arkan dengan ritme yang terlalu cepat.
“Kita sudah sepakat,” lanjut Akira. “Keputusan diambil berdua. Dan keputusanku, kamu tetap di sini sampai Raka bilang aman.”
Albert menarik napas panjang, lalu duduk di lantai, punggung menempel ke pintu baja.
Damar menemukan jalan keluar tersembunyi di sisi belakang rumah — pintu servis lama yang tertutup rak. Ia membuka jalan itu dan membantu anak-anak lain menuju tempat aman: tiga anak tetangga rumah aman dan dua anak dari pusat terapi yang ikut diundang, semuanya digiring melalui kebun belakang ke mobil polisi yang menunggu di jalan bawah.
Raka mengejar pemimpin penyerang sampai ke sisi garasi.
Orang itu lebih kecil dari yang lain, gerakannya tidak seperti orang terlatih. Raka menjatuhkannya di atas rumput, menahan lengannya, lalu menarik topengnya.
Ia menemukan Tania di antara mereka.
“Kamu—” Raka berhenti. “Kamu sudah dibebaskan sebagai saksi. Kamu seharusnya ada di rumah aman saksi.”
Tania tidak melawan. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata.
“Mereka mengambil anak saya,” katanya, suaranya pecah. “Kemarin sore. Waktu dia pulang sekolah.”
Ia mengaku dipaksa karena anaknya diculik oleh Aurelia.
Albert keluar dari ruang bawah tanah setelah halaman diamankan. Ia berjongkok di depan Tania, dan untuk pertama kalinya perempuan itu memandangnya langsung.
“Dia akan mengambil Arkan jika kalian tidak menyerah,” kata Tania. “Itu yang dia bilang. Serahkan anak itu, dan anak saya pulang.”
Albert menolak.
“Tidak,” katanya. “Bukan karena anak kamu tidak penting. Justru karena penting. Kalau aku menyerahkan Arkan hari ini, besok ada ibu lain yang duduk di tempat kamu duduk sekarang.”
“Lalu anak saya bagaimana?”
“Kita ambil dia.”
Albert mengirim drone malam itu juga — empat unit, menyisir wilayah dalam radius sepuluh kilometer dari titik terakhir ponsel Tania. Nara memantau dari kota, mencocokkan sinyal alat pelacak yang masih menempel di tas sekolah anak itu.
Pukul delapan lewat, sinyalnya muncul.
Mereka menemukan sinyal di sebuah gereja tua di pinggir kota, bangunan yang sudah lama tidak dipakai, atapnya bocor di beberapa tempat.
Polisi bergerak ke sana. Tania duduk di lantai teras rumah aman sepanjang operasi, memeluk lututnya, dan tidak mau dipindahkan ke mana pun.
Empat puluh menit kemudian, radio berbunyi.
Mereka menyelamatkan anak tersebut. Laki-laki, tujuh tahun, ditemukan di ruang belakang, ketakutan tetapi tidak terluka.
Tania menjerit ketika mendengarnya, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu menangis tanpa suara.
Para penyerang mundur begitu kabar itu menyebar. Mereka meninggalkan dua orang yang tertangkap dan menghilang lewat kebun sebelah.
Tidak ada yang berhasil mendekati Arkan.
Pukul sepuluh malam, listrik menyala kembali.
Ruang tengah masih berantakan — balon yang pecah, kursi terbalik, serpihan kaca yang sudah disapu ke sudut. Sofia melihat kue di meja dapur, masih utuh di dalam kotaknya.
“Kita lanjutkan,” katanya.
Pesta ulang tahun tetap dilanjutkan.
Lilin angka satu dinyalakan di ruangan yang bau debunya belum hilang. Semua orang bernyanyi, pelan, agak serak, dan Arkan tertawa karena api lilin itu bergoyang.
Akira memotong kue dengan tangan gemetar, lalu memandang Albert.
“Kita berhasil melewati tahun pertama.”
“Dan kita akan melewati tahun berikutnya.”
Di luar rumah, di gerbang yang baru saja diperbaiki, seorang pengantar mengirim hadiah tanpa nama.
Di dalam kotak terdapat mainan kayu dan kartu:
“Selamat ulang tahun, Arkan. Ibu Agung menunggu.”