Gambar Arkan itu digambar dengan pensil, bukan dicetak. Seseorang duduk cukup lama untuk membuatnya.
Albert masih berdiri di kamar itu ketika seorang petugas menendang karpet di koridor tanpa sengaja dan merasakan lantai di bawahnya berbunyi kosong.
Mereka menemukan ruang bawah tanah setengah jam kemudian.
Tangganya sempit, dindingnya batu, dan udaranya lebih dingin sepuluh derajat dari lantai atas. Ketika lampu sorot dinyalakan, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Ruangan itu dipenuhi dokumen kelahiran.
Rak-rak logam berbaris dari dinding ke dinding, penuh map yang diberi label tahun. Di meja panjang di tengah ruangan, ada buku-buku besar yang terbuka, kaca pembesar, dan satu kotak kartu indeks yang disusun menurut nama keluarga.
Aurelia mencatat hubungan darah banyak keluarga.
Bukan sekadar silsilah. Ada catatan tentang penyakit turunan, tinggi badan, kemampuan sekolah, bahkan sifat: “tenang”, “mudah takut”, “keras kepala”. Di sebelah beberapa nama ada tanda silang. Di sebelah nama lain ada lingkaran.
Dan ia memilih anak-anak untuk dijadikan penerus jaringan — nama-nama yang dilingkari itu dipindahkan ke buku terpisah, lengkap dengan rencana pendidikan sampai usia dua puluh lima tahun.
“Mereka memilihnya seperti orang memilih bibit,” kata Richard.
Albert membuka buku paling baru di ujung meja. Halaman-halaman awal berisi anak-anak yang lahir sepuluh tahun lalu. Ia membalik terus, sampai kertasnya masih putih dan tintanya masih hitam pekat.
Salah satu dokumen memuat nama Arkan.
Lengkap. Tanggal lahir, berat badan, nama rumah sakit, nama kedua orang tua. Padahal ia baru lahir. Padahal buku itu berada di sebuah pulau yang tidak punya sinyal telepon.
Tangan Albert berhenti di halaman itu.
“Bagaimana bisa?” tanyanya, lebih ke udara daripada ke siapa pun.
Nara, yang ikut lewat sambungan video dari kota, meminta petugas mengarahkan kamera ke halaman sebelumnya. Ia memperhatikan kolom-kolom di sisi kanan cukup lama.
“Mereka tidak meramal masa depan,” kata Nara. “Mereka mengumpulkan data genetik dari keluarga.”
“Maksudmu?”
“Lihat kolom ini. Ini bukan ramalan, ini perhitungan. Mereka punya data dua keluarga sejak tiga generasi. Begitu tahu siapa menikah dengan siapa, mereka sudah bisa menulis profil anaknya sebelum anak itu lahir — tinggal menunggu tanggalnya untuk diisi.” Nara berhenti sebentar. “Yang menakutkan bukan kemampuannya. Yang menakutkan adalah kesabarannya.”
Albert menutup buku itu pelan.
“Berarti mereka sudah menunggu Arkan sejak aku dan Akira bahkan belum saling kenal.”
“Lebih buruk dari itu,” kata Nara pelan. “Kalau perhitungan ini benar, pertemuan kalian pun bukan kejutan buat mereka. Mereka cuma tidak menyangka kamu akan jatuh cinta.”
Albert menatap layar kecil di tangan petugas, tempat wajah Nara bergerak putus-putus.
“Itu yang tidak ada di kolom mana pun,” lanjut Nara. “Tidak ada tempat untuk mencatat hal seperti itu.”
Suara Richard memanggil dari sisi lain ruangan memotong pikirannya.
Richard menemukan pintu rahasia di balik rak paling ujung — rak yang ternyata bisa digeser karena rodanya tersembunyi di bawah. Di baliknya, lorong batu menurun, berbau garam dan lumut.
Lorong itu mengarah ke dermaga bawah tanah.
Gua alami yang diperlebar, dengan lantai semen dan tambatan besi. Air laut masuk sampai setengah ruangan, hijau gelap, dan di permukaannya masih ada riak besar yang belum sempat tenang.
Sebuah kapal baru saja pergi.
Tali tambatnya tergeletak basah. Ada bekas ban penahan di tepi dermaga, dan solar yang mengambang tipis, memantulkan warna pelangi di bawah cahaya senter.
“Baru,” kata Richard. “Paling lama sepuluh menit.”
Mereka berlari keluar melalui mulut gua. Di luar, kabut pagi mulai turun, tebal dan rendah, menempel di permukaan laut seperti kapas basah.
Dari kamera drone yang diterbangkan petugas, mereka melihat kapal itu — kapal kayu besar, catnya gelap, bergerak stabil ke arah utara.
Dan di geladak belakang, mereka melihat perempuan tua berdiri.
Wajahnya tidak jelas. Drone terlalu tinggi, kabut terlalu tebal, dan perempuan itu mengenakan kain panjang yang menutup kepalanya. Tetapi ia berdiri tegak, satu tangan memegang pagar kapal, dan tidak sekali pun menoleh ke belakang.
“Geraknya sesuai,” kata Selina lewat radio, suaranya bergetar. “Cara dia berdiri. Punggungnya. Itu dia.”
Mereka mengejar dengan kapal polisi.
Mesin dipacu, lambung kapal membentur ombak keras-keras, dan air asin menghantam wajah Albert setiap kali haluan turun. Jarak sempat berkurang — tujuh ratus meter, lima ratus, empat ratus.
Lalu pengeras suara kapal itu hidup.
Aurelia mengirim pesan melalui pengeras suara. Suaranya tua, tenang, dan terdengar sangat jelas di atas laut yang bising, seperti orang yang sedang berbicara di ruangan kecil.
“Kalian membawa darah kami. Kalian tidak bisa lari dari sejarah.”
Albert menggenggam radio di tangannya. Di ujung sambungan, di pos komando di pelabuhan, Akira mendengar setiap katanya.
Petugas radio menoleh pada Albert. Albert mengangguk, dan petugas itu menyambungkan saluran ke pengeras suara kapal polisi.
Akira menjawab, “Sejarah bukan alasan untuk menculik anak-anak.”
Suaranya melintasi air, memantul di kabut, dan untuk sesaat tidak ada apa pun selain deru mesin.
Kemudian pengeras suara di kapal kayu itu hidup sekali lagi, hanya sebentar, dan yang terdengar bukan kalimat.
Yang terdengar tawa kecil seorang perempuan tua. Pendek, hampir seperti orang yang menemukan sesuatu yang lucu di halaman buku.
Albert merasakan tengkuknya dingin meski matahari sudah naik.
Tidak ada jawaban dari kapal itu.
Jarak kembali melebar. Kabut di depan menebal menjadi dinding putih yang tidak punya batas atas maupun bawah. Kapten kapal polisi menurunkan kecepatan, terpaksa, karena di perairan itu ada karang yang tidak terpetakan.
Kapal Aurelia memasuki kabut dan menghilang.
Drone kehilangan sinyal dua menit kemudian. Radar menunjukkan satu titik, lalu dua titik palsu, lalu tidak ada apa-apa.
Mereka berputar selama satu jam. Petugas menyisir ke timur, lalu ke barat, lalu kembali ke titik terakhir. Kabut itu tidak bergerak ke mana pun; ia hanya duduk di atas air, sabar, persis seperti pemilik rumah di pulau tadi.
Yang mereka temukan akhirnya bukan kapal.
Polisi hanya menemukan peti kosong yang mengapung di tepi kabut, kayunya baru, sudutnya diperkuat logam. Peti itu diangkat ke geladak dan dibuka di depan semua orang.
Di dalamnya ada selimut bayi.
Rajutan wol putih, lembut, masih wangi sabun cucian. Ukurannya pas untuk anak seumur Arkan. Albert mengangkatnya dengan kedua tangan, dan sesuatu di sudut kainnya membuat jarinya berhenti.
Di selimut itu terdapat tulisan tangan, disulam dengan benang biru, rapi dan tenang seperti suara perempuan tadi:
“Ulang tahun pertama Arkan.”