Nama itu disebut lagi keesokan paginya, di ruang makan, di antara suara sendok dan cangkir.
“Ibu Agung,” kata Albert. “Ada yang pernah dengar?”
Selina mendengar nama Ibu Agung dan langsung pucat.
Cangkir di tangannya turun terlalu cepat ke meja, berbunyi keras, dan kopi tumpah sedikit ke taplak. Ia tidak segera membersihkannya. Wajahnya kehilangan warna seperti orang yang tiba-tiba merasa kedinginan di ruangan hangat.
“Selina?” panggil Akira.
“Dari mana kamu dengar nama itu?”
“Dari perempuan yang kami tangkap semalam.”
Selina menutup matanya sebentar, lalu membuka lagi.
“Itu bukan nama,” katanya. “Itu gelar.”
Ia mengatakan itu adalah gelar yang dipakai pendiri pertama jaringan, perempuan bernama Aurelia.
“Waktu saya masih kecil, orang tua saya tidak pernah menyebut namanya langsung,” lanjut Selina. “Mereka bilang ‘beliau’. Kalau ada surat datang, ibu saya berdiri dulu sebelum membukanya. Saya pikir itu kebiasaan aneh keluarga kami saja.”
“Aurelia sudah meninggal,” kata Marcus. “Itu ada di catatan lama.”
“Semua orang di jaringan itu meninggal di atas kertas,” jawab Selina. “Adrian juga.”
Kalimat itu membuat meja makan sunyi.
Aurelia dianggap meninggal puluhan tahun lalu, tetapi Selina pernah menerima pesan darinya.
“Kapan?” tanya Albert, suaranya rendah.
“Delapan tahun lalu. Waktu saya hampir keluar dari semua ini.” Selina menggosok pergelangan tangannya. “Isinya cuma tiga kalimat. Dia menyebut nama sekolah tempat keponakan saya belajar, jam pulangnya, dan warna tas yang dipakainya hari itu. Tidak ada ancaman. Tidak perlu.”
Akira meletakkan sendoknya.
“Dia bukan manusia biasa dalam cerita mereka,” kata Selina. “Ia menjadi simbol yang membuat anggota jaringan patuh. Kalau ada yang membantah, orang tidak bilang ‘nanti dihukum’. Orang bilang ‘beliau tahu’. Itu saja sudah cukup.”
Richard menolak mempercayai legenda.
“Kalau dia manusia, dia punya alamat,” katanya sambil berdiri. “Kalau dia punya alamat, dia punya tagihan listrik. Kalau punya tagihan, dia punya jejak. Saya tidak akan mengejar hantu.”
“Saya tidak bilang dia hantu,” balas Selina. “Saya bilang mereka membuatnya jadi hantu. Itu dua hal berbeda.”
“Kalau begitu kita cari manusianya.”
Mereka mencari bukti selama tiga hari penuh.
Nara membongkar arsip yayasan yang menggaji Tania. Livia menelusuri nama Aurelia di catatan sipil lama, di izin usaha yang sudah mati, di dokumen tanah yang belum sempat didigitalkan. Sebagian besar buntu.
Lalu Richard menemukan satu berkas di gudang arsip daerah, di map yang catnya sudah kuning.
Aurelia pernah memiliki panti bayi.
Namanya tertulis sebagai pendiri sekaligus pengurus. Panti itu beroperasi lebih dari dua puluh tahun, menampung bayi-bayi yang “dititipkan”, lalu ditutup setelah kebakaran. Laporan kebakarannya setengah halaman, tidak menyebut korban, tidak menyebut penyebab.
“Setengah halaman,” gumam Richard. “Untuk bangunan sebesar itu.”
“Ada kelanjutannya?” tanya Akira.
“Tidak ada. Tidak ada daftar korban, tidak ada penyelidikan, tidak ada berita.” Richard membalik halaman itu dan membaliknya lagi, seolah ada yang menempel di baliknya. “Kebakaran besar biasanya meninggalkan kertas setumpuk. Ini meninggalkan satu lembar dan satu tanda tangan.”
“Tanda tangan siapa?”
Richard mengangkat map itu ke arah cahaya. Nama di bawah tanda tangan itu tidak terbaca lagi, tintanya sudah hilang, tetapi bentuk hurufnya panjang dan miring, ditulis oleh tangan yang tidak terburu-buru.
Di arsip panti, ada buku besar berisi daftar anak yang pernah masuk dan keluar. Ditulis tangan, dengan tinta yang sudah memudar.
Di sanalah mereka menemukan dua nama yang membuat ruangan itu berhenti.
Terdapat nama Sofia dan ibu Albert sebagai anak yang pernah dipindahkan.
Tanggalnya berdekatan. Tahun yang sama. Halaman yang sama.
Mungkin kedua keluarga mereka memang terhubung jauh sebelum konflik perusahaan — jauh sebelum dendam, jauh sebelum ada yang tahu apa itu saham dan warisan.
Akira membaca daftar itu dengan terkejut.
Jarinya berhenti di baris nama ibunya. Ia membacanya tiga kali, seolah huruf-hurufnya akan berubah kalau dilihat cukup lama.
“Bu,” katanya pelan ketika Sofia masuk ke ruangan. “Ibu pernah tinggal di panti?”
Sofia berhenti di tengah langkah.
“Sebentar. Waktu kecil sekali.” Ia mengambil kertas itu dan menatapnya. “Ibu tidak pernah cerita karena Ibu tidak ingat apa-apa. Yang Ibu ingat cuma lantai dingin dan bau sabun. Setelah itu Ibu sudah di rumah nenekmu.”
“Ibu pernah bertemu perempuan bernama Aurelia?”
Sofia diam lama.
“Ibu tidak tahu,” katanya jujur. “Ada perempuan yang suka duduk di kursi rotan di teras. Semua anak memanggilnya Ibu. Ibu tidak ingat wajahnya. Ibu cuma ingat dia mengelus kepala kami satu-satu, seperti menghitung.”
Akira merasa tengkuknya dingin untuk kedua kalinya minggu itu.
Sofia pernah bertemu Aurelia ketika masih kecil, tetapi tidak mengingatnya. Dan perempuan yang menghitung kepala anak-anak di teras itu kini menghitung anaknya.
“Jadi ini bukan mulai dari ayahku,” kata Albert, suaranya serak. “Ini sudah jalan sebelum ayahku lahir.”
“Perusahaan cuma alat,” kata Marcus. “Orang seperti Aurelia tidak mengumpulkan uang. Dia mengumpulkan garis keturunan.”
Livia yang akhirnya menemukan titik terangnya.
Ia melacak pembayaran pajak tanah yang masih dibayar rutin setiap tahun atas nama sebuah badan yang sudah tidak punya kantor. Tanahnya berada di sebuah pulau kecil, empat jam dari pelabuhan terdekat, tidak masuk rute kapal penumpang.
Livia menemukan lokasi rumah tua Aurelia di pulau kecil itu.
“Listriknya masih menyala,” katanya. “Pemakaiannya kecil, tapi tidak pernah nol. Tidak ada rumah kosong yang begitu.”
Polisi menyiapkan operasi selama dua hari. Dua perahu, satu tim, subuh hari.
Albert ingin ikut. Akira tidak melarangnya, tetapi menggenggam tangannya lebih lama dari biasanya sebelum pria itu naik ke perahu.
Mereka mendarat ketika langit masih abu-abu.
Rumah itu berdiri di atas batu karang, catnya putih yang sudah kelabu, jendelanya tinggi-tinggi. Ombak memukul dinding tebing di bawahnya dengan suara yang tidak pernah berhenti.
Namun rumah tersebut kosong.
Tidak ada orang. Tidak ada barang yang berantakan. Semua rapi — piring tersusun, kursi masuk ke meja, kain penutup sofa terpasang lurus. Rapi dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri, karena itu bukan rumah yang ditinggalkan buru-buru. Itu rumah yang ditinggalkan dengan tenang.
“Berapa lama kira-kira mereka pergi?” tanya Albert.
Salah satu penyidik menyentuh sisi teko di dapur dengan punggung tangannya.
“Tidak lama, Pak,” jawabnya. “Ini masih hangat.”
Seorang petugas memanggil dari lantai atas.
Albert naik. Koridornya panjang, lantainya berderit, dan di ujung ada satu pintu yang terbuka sedikit.
Di dalam kamar bayi, terdapat ranjang kecil yang seprainya masih bersih, mainan gantung yang bergerak pelan tertiup angin dari jendela yang terbuka.
Dan di dinding, gambar Arkan.