Perempuan itu ditangkap sebelum pergi.
Ia baru berjalan dua puluh meter dari gerbang ketika dua petugas keluar dari kegelapan kebun dan menghadangnya dari dua arah. Ia tidak lari. Ia tidak berteriak. Ia hanya berhenti, menurunkan tudungnya sendiri, dan mengulurkan kedua tangan seperti orang yang sudah lama menunggu momen itu.
Bunga yang ia tinggalkan masih tergeletak di depan gerbang. Mawar putih, tiga tangkai, diikat pita murahan.
Namanya Tania.
Umurnya awal empat puluh, wajahnya lelah, dan kukunya pendek seperti orang yang terbiasa bekerja dengan tangan. Ia pernah bekerja sebagai pengasuh di rumah sakit — bangsal bayi, tujuh tahun, sampai berhenti tanpa alasan yang tercatat.
Mereka menginterogasinya di ruang belakang, bukan di kantor polisi. Albert ingin mendengarnya sendiri.
Tania mengaku tidak ingin menyakiti Arkan.
“Saya tidak pernah berniat menyentuhnya,” katanya. “Saya bahkan tidak pernah masuk pagar. Silakan periksa semua rekaman.”
“Lalu untuk apa kamu berdiri di sana setiap malam?” tanya Albert.
“Bukan setiap malam. Tiga kali.” Tania menunduk. “Saya cuma ingin memastikan bayi itu tidak dibawa keluar negeri.”
Akira, yang duduk di kursi paling jauh, mengangkat kepalanya.
“Kenapa keluar negeri?”
“Karena begitu anak dibawa keluar, dia hilang,” jawab Tania pelan. “Saya sudah melihatnya. Dua kali. Anak yang dibawa keluar tidak pernah kembali dengan nama yang sama.”
Ruangan itu hening. Kipas di sudut berputar pelan, menggerakkan udara yang terasa berat.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Albert.
“Seorang perempuan bernama Clara.” Tania mengangkat wajahnya. “Tapi dia bukan pemimpin sebenarnya.”
Albert dan Akira saling pandang.
“Clara sudah ditahan,” kata Albert.
“Saya tahu. Itu tidak mengubah apa-apa.” Tania menarik napas. “Clara cuma tangan. Dia menerima perintah seperti saya menerima perintah darinya.”
“Dari siapa?”
Tania ragu cukup lama sampai Albert mengira ia tidak akan menjawab.
“Dari seseorang yang dipanggil Ibu Agung.”
Nama itu jatuh ke tengah ruangan dan tidak menyentuh apa pun. Tidak ada yang bereaksi, karena tidak ada yang mengenalnya.
“Siapa itu?” tanya Akira.
“Saya tidak pernah melihatnya. Tidak ada yang pernah melihatnya. Kami cuma menerima pesan, dan pesan itu selalu benar tentang hal-hal yang seharusnya tidak dia ketahui.” Tania menggosok lengannya sendiri. “Itu yang membuat orang patuh. Bukan ancamannya. Rasa bahwa dia tahu.”
Nama tersebut tidak dikenal siapa pun di ruangan itu. Albert menuliskannya di kertas dan menggarisbawahinya dua kali.
“Kamu pernah dengar nama itu sebelum bekerja untuk Clara?” tanya Akira.
“Pernah. Waktu saya masih di rumah sakit.” Tania menunduk lagi. “Ada perawat senior yang bilang, kalau Ibu Agung sudah menandai seorang anak, jangan ikut campur. Waktu itu saya pikir itu cuma cerita untuk menakuti pegawai baru.”
“Sekarang?”
“Sekarang saya di sini.”
Malam itu Nara bekerja sampai subuh.
Ia menelusuri transaksi Tania dan menemukan pola yang rapi: setiap tanggal sepuluh, masuk uang dengan jumlah sama, dari rekening yang bukan rekening pribadi.
“Pengirimnya lembaga,” kata Nara paginya, sambil menggeser layar ke arah Albert. “Sebuah yayasan pendidikan. Dan lembaga ini pernah mendukung Ordo — namanya ada di daftar donatur yang kita ambil dari sekolah kosong itu.”
“Berarti mereka tidak menyewa orang,” kata Albert. “Mereka menggaji orang.”
“Lengkap dengan slip,” Nara menambahkan pahit. “Tania terdaftar sebagai tenaga pendamping.”
Sementara penyelidikan berjalan, ada hal lain yang tidak bisa ditunda.
Akira mulai mengalami kesulitan menyusui.
Ia menyadarinya sejak dua hari lalu, tetapi baru mengakuinya ketika Arkan menangis lapar hampir satu jam dan tidak ada yang bisa ia berikan. Bayi itu menolak botol, lalu menangis lagi, dan Akira ikut menangis di kamar mandi supaya tidak ada yang melihat.
Dokter datang siang itu.
“Tidak ada masalah medis,” katanya setelah memeriksa. “Tubuh Ibu sedang dalam keadaan siaga terus-menerus. Kalau tubuh merasa sedang dikejar, dia akan menahan hal-hal yang tidak mendesak. Termasuk ini.”
“Jadi saya harus bagaimana?”
“Istirahat. Tidur enam jam berturut-turut, bukan dicicil. Makan teratur. Dan sebisa mungkin jangan bangun tiap kali ada suara.”
Akira tertawa kecil tanpa humor sama sekali.
“Dok, semalam ada orang berdiri di depan pagar rumah ini,” katanya. “Bagaimana caranya saya tidak bangun tiap ada suara?”
Dokter itu menutup tasnya pelan. “Saya tidak bisa menjawab itu. Tapi saya bisa bilang satu hal: badan Ibu tidak bisa menjaga dua orang sekaligus kalau Ibu tidak mengizinkan siapa pun menjaga Ibu.”
Dokter menyarankan ia banyak beristirahat, tetapi ancaman membuatnya sulit tenang. Setiap kali Akira memejamkan mata, yang muncul adalah barisan foto di dinding ruang bawah tanah itu, lengkap dengan tanda centangnya.
Sofia yang pertama kali mengatakannya dengan suara keras.
“Biar Ibu yang menjaga Arkan beberapa hari,” katanya sore itu, sambil menyingkirkan gelas kotor dari meja. “Di kamar Ibu. Dua pintu dari kamarmu. Kamu bisa melihatnya kapan saja.”
Akira ragu.
Ia ragu bukan karena tidak percaya ibunya. Ia ragu karena melepaskan Arkan dari dekapannya terasa seperti membuka pagar sendiri.
“Aku tidak bisa,” katanya.
“Kamu bisa. Kamu cuma belum mau.”
“Bu—”
“Akira.” Sofia duduk di depannya. “Ibu pernah jadi perempuan yang menolak semua bantuan karena merasa harus membuktikan sesuatu. Ibu kehilangan banyak tahun untuk itu. Jangan ulangi.”
Akira menatap wajah ibunya, lalu menatap Arkan yang tertidur di pangkuannya, napasnya hangat di lengannya. Lalu ia menyadari sesuatu yang tidak enak diakui: ia tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur lebih dari dua jam.
“Dua pintu saja,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.
“Dua pintu,” ulang Sofia. “Dan Ibu tidak akan mengunci kamarnya.”
Akhirnya ia mengangguk.
Malamnya, setelah Arkan dipindahkan ke kamar Sofia, Albert menemukan istrinya berdiri di koridor, menatap pintu yang tertutup.
“Kamu marah?” tanya Albert.
“Tidak.”
“Tapi ada sesuatu.”
Akira berbalik. Ia diam beberapa saat, memilih kata-katanya.
Albert mendahuluinya.
“Aku minta maaf,” katanya. “Aku terlalu sering memutuskan semuanya sendiri. Pindah rumah, jam keluar, siapa yang boleh masuk. Aku bahkan memutuskan kapan kamu boleh tahu sesuatu. Aku pikir itu melindungimu.”
“Itu memang melindungiku,” kata Akira. “Tapi cuma setengah.”
“Setengahnya lagi?”
“Aku bukan satu-satunya yang harus dilindungi,” kata Akira. “Aku juga harus dipercaya.”
Albert terdiam.
“Aku ibunya, Albert. Kalau suatu hari kamu tidak ada di ruangan itu dan aku yang harus memutuskan, aku tidak boleh jadi orang yang paling terakhir tahu apa-apa.”
Albert mengangguk pelan, lalu mengangguk lagi, lebih yakin.
“Baik,” katanya. “Mulai sekarang semua laporan masuk ke kita berdua. Tidak ada yang disaring dulu olehku.”
“Termasuk yang buruk.”
“Termasuk yang buruk.”
Mereka sepakat mengambil keputusan bersama.