Ledakan kecil di ruang bawah tanah rumah lama membuat semua orang panik.
Selama beberapa detik tidak ada yang tahu harus lari ke mana. Petugas berteriak agar semua keluar lewat pintu belakang, sementara dua orang lain justru turun ke tangga dengan senter di tangan. Akira mendengar suaranya sendiri memanggil nama Albert, dan baru sadar ia memanggil ketika Raka menahan bahunya.
Tidak ada yang terluka.
Itu yang pertama dipastikan: kepala demi kepala dihitung di halaman, termasuk Adrian yang berdiri diam di antara dua polisi, mantelnya berdebu.
Tetapi dinding di bawah runtuh, dan runtuhnya membuka ruang tersembunyi.
Albert turun bersama tim penyidik setengah jam kemudian, ketika asap sudah menipis. Ruangan itu sempit, tidak lebih besar dari kamar mandi, berbau kapur dan besi. Di dinding seberang, tertempel rapi dalam barisan lurus, ada foto-foto.
Foto-foto Arkan.
Diambil sejak bayi itu masih berada di rumah sakit. Arkan dalam inkubator. Arkan digendong perawat. Arkan di kursi mobil, hari pertama pulang. Di bawah tiap foto ada tanggal yang ditulis tangan, dan di beberapa tanggal ada tanda centang kecil.
Albert tidak menyentuh apa pun. Ia hanya berdiri di sana sampai lampu penyidik dipasang, dan rahangnya mengeras.
Ketika ia naik dan menceritakannya, Akira memeluk bayinya dengan kuat. Terlalu kuat, sampai Arkan menggeliat dan protes. Ia melonggarkan pelukan, tetapi tidak melepaskannya sepanjang perjalanan pulang.
“Mereka melihatnya sebelum aku sempat memberinya nama,” bisik Akira.
“Aku tahu.”
“Berapa lama, Albert? Berapa lama mereka sudah menonton?”
Albert tidak menjawab, karena jawabannya ada di bawah foto paling kiri: tanggal ketika Arkan baru berumur satu hari.
Malam itu juga, Albert meminta polisi memindahkan mereka ke rumah aman yang lebih jauh — sebuah rumah dua lantai di pinggir kota, dikelilingi kebun kosong, dengan satu jalan masuk yang bisa diawasi dari mana saja.
Adrian dibawa ke kantor penyidik, tetapi sebelum masuk mobil, ia sempat bicara.
Adrian mengatakan bahwa Ordo Baru memiliki kelompok lapangan bernama Penjaga Bayi.
“Nama itu terdengar lembut, memang,” katanya. “Tapi tugas mereka bukan menjaga. Mereka mengawasi anak-anak yang dianggap penting. Mencatat kapan anak itu sakit, kapan pindah rumah, siapa yang menggendongnya.”
“Berapa orang?” tanya Albert.
“Tidak pernah banyak. Mereka tidak perlu banyak.” Adrian menoleh sedikit. “Mereka akan datang melalui orang yang paling tidak dicurigai.”
Kalimat itu menempel di kepala Albert sepanjang malam.
Keesokan harinya, Albert memeriksa semua staf keamanan dan keluarga.
Ia membuka berkas setiap orang yang pernah masuk ke rumah aman: tiga belas petugas, dua sopir, seorang tukang kebun, perawat bayi, juru masak, dan seluruh nama yang ia sebut keluarga. Nara menelusuri rekening, pesan, dan pola perjalanan mereka.
Tidak ada yang mengetahui siapa pengkhianatnya.
Semua bersih. Terlalu bersih, dan itu justru membuat Albert tidak bisa tidur.
“Orang yang paling tidak dicurigai,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Artinya bukan orang yang mencurigakan dan pintar menyembunyikan. Artinya orang yang memang tidak melakukan apa-apa, lalu dipakai.”
Nara mengangkat wajah dari layarnya. “Kalau begitu daftar ini tidak akan pernah menunjuk siapa-siapa.”
“Daftar ini bukan untuk menunjuk. Daftar ini untuk tahu siapa yang harus kita jaga.”
“Kamu mau memeriksa aku juga?” tanya Akira pelan, ketika melihat berkas dengan namanya sendiri di tumpukan.
“Aku memeriksa semua orang. Termasuk aku.”
Akira menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Bagus. Jangan ada yang dikecualikan. Termasuk ibuku.”
Malam itu, sebuah paket dikirim ke rumah aman.
Kurirnya memakai seragam jasa pengiriman biasa, berhenti di gerbang, menyerahkan kotak, lalu pergi. Alamat pengirim kosong. Nama penerima ditulis dengan huruf kapital rapi: ARKAN.
Isinya mainan bayi — kerincingan plastik berbentuk beruang, warnanya lembut, masih terbungkus.
Leon membukanya di meja logam di ruang keamanan, bukan di ruang keluarga. Ia memutar mainan itu di tangannya, lalu berhenti.
“Beratnya tidak wajar,” katanya.
Ia membelahnya dengan obeng kecil. Di dalam badan beruang itu ada sesuatu seukuran kuku ibu jari, dengan kabel halus melingkar: alat pelacak.
Leon menemukan alat itu sebelum Arkan menyentuhnya.
Akira berdiri di ambang pintu, menonton dari jauh, tangannya menutup mulut sendiri.
“Kalau aku yang menerimanya,” katanya kemudian, suaranya nyaris hilang, “aku pasti langsung memberikannya ke Arkan. Mainannya lucu, Albert. Aku pasti langsung memberikannya.”
“Tapi kamu tidak menerimanya. Leon yang menerimanya. Itu gunanya aturan yang kita buat.”
Akira mengangguk, tetapi tangannya masih gemetar ketika mengambil gelas air.
Sejak malam itu, rumah berubah lagi.
Yura mulai takut tidur.
Kamarnya bersebelahan dengan kamar Arkan, dan setiap suara kendaraan di jalan membuatnya terbangun. Ia akan duduk di tempat tidur, mendengarkan, lalu berjalan ke koridor hanya untuk memastikan pintu kamar bayi itu masih tertutup seperti tadi.
Albert menemukannya pukul dua pagi, duduk di lantai koridor dengan selimut di bahu.
“Belum tidur?”
Yura menggeleng. “Tadi ada mobil lewat dua kali. Yang kedua pelan sekali.”
“Itu mobil patroli kita sendiri.”
“Aku tahu.” Yura menekuk lutut. “Tapi aku tetap bangun.”
Albert duduk di sampingnya, punggung bersandar ke dinding, tidak memaksa siapa pun kembali ke kamar.
Albert berusaha menenangkannya. “Arkan aman di sini.”
“Aku ingin hidup normal.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa nada mengeluh, dan justru karena itu terdengar berat. Albert menatap lantai koridor cukup lama sebelum menjawab.
“Kita akan mendapatkannya kembali.”
“Kapan?”
“Aku tidak bisa menjanjikan tanggal. Aku cuma bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan berhenti sebelum itu terjadi.”
Yura menoleh. “Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena itu satu-satunya kalimat yang belum pernah aku langgar.”
Mereka duduk diam beberapa menit. Dari balik pintu terdengar Arkan menggeliat dalam tidurnya, lalu hening lagi.
Yura akhirnya kembali ke kamarnya menjelang pukul tiga. Albert tidak tidur sama sekali. Ia turun ke ruang keamanan, menuangkan kopi, dan duduk di depan layar-layar kamera bersama Leon yang bertugas malam itu.
Rumah tampak tenang di layar. Kebun kosong, jalan masuk kosong, pagar utuh. Angin menggerakkan ranting di sudut kiri bawah.
Lalu, pukul empat lewat dua puluh, ada gerakan.
Kamera keamanan menunjukkan seorang perempuan berdiri di luar pagar.
Ia tidak mencoba masuk. Ia tidak melihat ke arah kamera. Ia berdiri saja di sana, diam, seperti orang yang menunggu bus di jam yang salah. Wajahnya tertutup tudung dan masker, tinggi badannya sedang, langkahnya tenang ketika akhirnya ia mendekat ke gerbang.
Albert sudah berdiri sebelum Leon sempat bicara.
Perempuan itu membungkuk sebentar, lalu pergi.
Ia meninggalkan bunga di depan gerbang.