Pesan otomatis itu tiba di puluhan ponsel pada pukul dua dini hari, dan isinya hanya dua kalimat.
Pesan Clara menuduh salah satu anggota keluarga membantu rencana penculikan Arkan. Tidak ada nama. Justru karena tidak ada nama, efeknya jauh lebih besar.
Pagi harinya, rumah aman terasa seperti tempat lain.
Semua orang mulai saling mencurigai. Sofia berhenti bicara ketika Sera masuk ke dapur. Raka berdiri lebih lama dari biasanya di depan pintu kamar Arkan. Marcus meletakkan ponselnya menghadap ke bawah setiap kali ada yang lewat.
“Ini yang mereka mau,” kata Akira pelan sambil menyiapkan botol susu. “Mereka tidak perlu masuk. Cukup membuat kita saling melihat seperti ini.”
“Aku tahu,” jawab Albert. “Tapi aku tetap harus memeriksanya.”
Albert memeriksa akses rumah aman.
Ia duduk berjam-jam bersama Nara di ruang kerja kecil di lantai bawah, membuka catatan setiap kartu yang pernah menyentuh pembaca pintu selama dua minggu terakhir. Layar memantulkan garis-garis waktu berwarna hijau, dan satu garis berwarna lain.
Satu kartu digunakan pada malam listrik mati, dan pemiliknya adalah Sera.
Albert menatap layar itu lama sekali sebelum menutupnya.
Akira tidak percaya.
“Tidak mungkin,” katanya, suaranya naik satu tingkat. “Sera selama ini melindungi Sofia. Waktu semua orang menjauh dari ibuku, dia yang tinggal. Dia tidak pernah menunjukkan niat buruk, Albert. Tidak sekali pun.”
“Aku tidak bilang dia bersalah. Aku bilang kartunya dipakai.”
“Itu terdengar sama.”
“Bagiku tidak.”
Mereka memanggil Sera ke ruang tengah sore itu. Perempuan itu datang dengan celemek yang belum dilepas, tangannya masih basah, dan duduk di ujung sofa seperti orang yang tahu akan ditanya sesuatu.
Sera mengaku menggunakan kartu tersebut untuk menemui seseorang di luar rumah.
“Saya keluar sekitar jam delapan malam,” katanya. “Ada orang yang bilang punya kabar tentang adik saya. Saya tidak bilang siapa-siapa karena saya pikir itu urusan saya sendiri.”
“Kamu bertemu siapa?” tanya Albert.
“Laki-laki tua. Saya tidak tahu namanya. Dia cuma bertanya apakah bayi itu sehat.”
Akira merasakan tengkuknya dingin.
Sera mengangkat wajahnya. “Kartu itu tidak pernah lepas dari tangan saya. Sumpah. Saya tidak tahu akses itu disalin.”
Nara memeriksa kartu tersebut malam itu juga dan menemukan jejak pembacaan ganda — kartu Sera pernah dipindai oleh alat lain, bukan oleh pintu rumah aman.
“Jadi dia tidak berbohong,” kata Akira.
“Dia tidak berbohong tentang kartunya,” jawab Nara hati-hati. “Soal siapa yang menemuinya, itu pertanyaan lain.”
Malam itu Akira mengetuk pintu kamar Sera dan duduk di tepi ranjang perempuan itu.
“Maaf sudah curiga,” katanya.
Sera tersenyum kecil, matanya merah. “Saya juga curiga sama diri saya sendiri, Nyonya. Saya sudah mikir seratus kali, kenapa saya percaya orang asing cuma karena dia nyebut nama adik saya.”
Mereka juga menemukan rekaman.
Kamera toko di seberang jalan merekam pertemuan itu dari jarak lima belas meter. Gambarnya kasar, tetapi cukup jelas: Sera berdiri di trotoar, dan di depannya seorang lelaki tua bertopi, punggungnya masih tegak untuk umurnya.
Ketika Nara memperbesar gambar wajahnya, Albert berdiri dari kursinya tanpa sadar.
Wajah itu mirip ayahnya.
Rahangnya, cara ia menahan dagu sedikit ke atas, bahkan cara tangannya menggantung di samping badan.
“Itu bukan ayahmu,” kata Marcus setelah melihatnya. “Itu sepupunya, Adrian.”
Ruangan sunyi.
“Adrian sudah meninggal,” kata Albert.
“Begitu yang tertulis.” Marcus menggeleng pelan. “Saya ikut ke pemakamannya waktu itu. Petinya ditutup. Saya tidak pernah bertanya kenapa.”
Adrian dianggap meninggal puluhan tahun lalu, tetapi ternyata menjadi penghubung Ordo Baru. Namanya muncul di tiga dokumen lama sebagai pengatur pertemuan antara keluarga-keluarga yang tidak mau saling bertemu langsung.
Dua hari kemudian, Adrian sendiri yang menghubungi mereka.
Ia mengirim pesan kepada Albert dan meminta pertemuan di rumah lama keluarga. Bukan lewat perantara, bukan lewat kode. Hanya satu pesan pendek dengan alamat yang sudah Albert hafal sejak kecil.
“Jangan pergi,” kata Sofia.
“Kalau aku tidak pergi, dia yang akan datang,” jawab Albert. “Aku lebih suka memilih tempatnya.”
Albert membawa Akira dan pengawalan.
Sepanjang perjalanan, Akira memandangi punggung tangan suaminya yang menggenggam setir terlalu erat.
“Kamu takut?” tanyanya.
“Aku takut dia benar soal sesuatu,” jawab Albert.
Rumah lama itu berdiri di ujung jalan yang dinaungi pohon-pohon tua. Catnya mengelupas, pagarnya berkarat, dan bau rumah itu — kayu lembap bercampur debu — membuat Albert berhenti sebentar di ambang pintu.
Adrian menunggu di ruang makan, duduk di kursi yang dulu dipakai ayah Albert.
“Kamu tumbuh mirip dia,” katanya. “Sayangnya juga sama keras kepalanya.”
“Kamu yang mengawasi anak saya?”
“Saya yang memastikan dia masih hidup.”
Di rumah tersebut, Adrian mengatakan bahwa ia tidak ingin menculik Arkan.
“Saya tidak pernah berniat begitu,” katanya. “Saya ingin mengambil anak itu. Bedanya jauh.”
“Bagi saya sama saja,” kata Albert.
“Karena kamu tidak tahu apa yang saya tahu.” Adrian meletakkan kedua tangannya di meja. “Jaringan akan membunuhnya kalau dia tetap bersama kamu. Bukan karena benci. Karena selama dia ada di dekatmu, dia jadi bukti bahwa mereka gagal. Dan mereka tidak pernah membiarkan bukti hidup terlalu lama.”
Akira menggenggam tangan Albert di bawah meja.
“Lalu kamu mau menyembunyikannya seumur hidup?” tanyanya.
“Saya mau dia hidup.”
“Tanpa ibunya.”
Adrian tidak menjawab itu. Ia menatap Akira beberapa saat, lalu memandang jendela yang buram oleh debu.
“Kalian semua terlalu banyak berbohong untuk disebut keluarga,” katanya.
Akira menjawab, “Keluarga bukan berarti tidak pernah salah. Keluarga berarti berusaha memperbaiki kesalahan.”
Adrian terdiam.
Lama sekali. Jam dinding tua di ruangan itu berdetak tujuh kali sebelum ia bergerak lagi. Lalu tangannya masuk ke saku mantel, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah lusuh di sudutnya, dan mendorongnya ke tengah meja.
Ia akhirnya menyerahkan daftar anggota Ordo yang belum tertangkap. Tiga puluh empat nama, lengkap dengan kota dan tahun masuk.
“Saya tidak minta pengampunan,” katanya. “Saya cuma minta kalian cepat.”
Polisi masuk dari pintu depan. Adrian berdiri sendiri, meletakkan kedua tangannya ke depan tanpa diminta.
Namun, sebelum polisi memborgolnya, terdengar ledakan dari ruang bawah tanah.
Lantai bergetar. Debu jatuh dari plafon seperti hujan halus. Gelas di lemari pecah menyentuh lantai, dan lampu satu-satunya di ruang makan berayun.
Raka menarik Akira ke bawah meja. Albert berlari ke arah tangga, lalu berhenti di anak tangga ketiga.
Asap keluar tipis dari bawah, dan di baliknya, dinding ruang bawah tanah tersingkap.
Di dinding muncul pesan baru:
“Arkan akan menjadi milik kami sebelum ulang tahun pertamanya.”