Pukul delapan lewat empat puluh, koridor pengadilan sudah penuh.
Akira berdiri di dekat jendela lantai dua, menatap halaman yang dipadati mobil siaran. Arkan tertidur di gendongan kainnya, dadanya naik turun pelan, tidak tahu bahwa namanya tertulis di puluhan berkas di ruangan sebelah.
“Kamu masih bisa mundur,” kata Albert di belakangnya.
“Tidak bisa.” Akira menoleh. “Kalau aku mundur, mereka akan bilang kita menyembunyikan sesuatu.”
Albert tidak membantah. Ia hanya merapikan selimut kecil yang melorot dari bahu Arkan, lalu mengangguk pada Raka yang berdiri di ujung koridor.
Pengadilan membuka sidang khusus untuk kasus Ordo Baru pagi itu. Clara belum tertangkap, tetapi bukti tentang rencananya mulai terbuka. Kotak demi kotak arsip diangkat petugas ke meja panjang di depan majelis: daftar nama anak-anak, catatan pelatihan, rekaman suara, dan profil Arkan yang dibuat jauh sebelum bayi itu lahir.
Ruangan itu dingin oleh pendingin yang bekerja terlalu keras. Bau kertas tua bercampur bau kopi dari gelas-gelas plastik di meja panitera.
Albert dan Akira memberikan kesaksian bersama.
Mereka duduk berdampingan di kursi saksi. Albert bicara lebih dulu, suaranya rata, tanpa pembelaan.
“Saya dibesarkan untuk percaya bahwa keluarga Sofia menghancurkan ibu saya,” katanya. “Saya percaya itu selama dua puluh tahun. Saya membangun hidup saya di atas kepercayaan itu.”
Hakim bertanya siapa yang menanamkannya.
“Orang-orang yang sekarang ada di dalam berkas ini,” jawab Albert. “Mereka tidak pernah menyuruh saya membenci. Mereka hanya memastikan saya tidak pernah bertemu kebenaran.”
Giliran Akira, tangannya gemetar di atas mikrofon.
“Saya kehilangan banyak hal karena kebohongan itu,” katanya pelan. “Tapi yang paling saya takutkan bukan masa lalu. Yang saya takutkan adalah anak saya sudah punya berkas sebelum ia punya nama.”
Ruang sidang sunyi. Seorang wartawan berhenti mengetik.
Mereka menjelaskan bagaimana keluarga mereka dikendalikan oleh kebohongan selama bertahun-tahun — surat yang dipalsukan, foto yang dipotong, kematian yang dibiarkan disalahpahami agar dendam terus menyala.
Setelah itu, Mia, Sofia, Elena, dan Raka juga bersaksi.
Mia bercerita tentang uang yang dulu ia terima untuk diam. Sofia bicara tentang tahun-tahun ketika ia dituduh sebagai perempuan yang merebut kebahagiaan orang lain, sementara ia sendiri tidak pernah tahu ada jaringan yang mengatur pertemuannya dengan siapa pun. Elena menyebut dua nama pejabat lama. Raka membacakan daftar tugas yang pernah ia terima ketika masih menjadi pengawal.
Kesaksian mereka membuat publik memahami bahwa korban bukan hanya satu keluarga. Di layar ruang tunggu, siaran langsung menampilkan wajah-wajah orang yang selama ini hanya jadi rumor.
Sidang berjalan sampai menjelang siang.
Lalu listrik gedung mati.
Lampu padam serentak, pendingin berhenti, dan ruangan langsung dipenuhi gema suara orang yang berdiri bersamaan. Lampu darurat menyala kuning lemah di sudut-sudut plafon.
“Tetap di tempat!” seru petugas.
Akira sudah lebih dulu bergerak. Ia menekan Arkan ke dadanya dan setengah berlari ke pintu samping yang mengarah ke ruang aman saksi, dikawal dua polisi wanita. Bayi itu terbangun dan menangis, tangisnya tipis dan panjang di lorong yang gelap.
Di ruang aman, Akira duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding beton. Ia menepuk-nepuk punggung Arkan dengan ritme yang sama seperti setiap malam di rumah, meski tangannya sendiri dingin.
“Sst. Ibu di sini. Ibu di sini.”
Ia mendengar langkah orang berlari di atas plafon, mendengar pintu-pintu dibanting, dan memaksa dirinya tidak membayangkan apa pun. Membayangkan hanya membuat kakinya ingin lari, dan lari sambil menggendong bayi adalah cara tercepat untuk jatuh.
Salah satu polisi wanita berjongkok di depannya. “Ibu aman di sini. Dinding ini tidak tembus.”
“Suami saya?”
“Beliau ke arah lorong timur.”
Akira memejamkan mata. Tentu saja ke lorong timur.
Clara menyusup melalui jalur bawah tanah.
Ia tidak masuk lewat pintu mana pun yang dijaga. Ia naik dari ruang mesin lama di basement, mengenakan seragam petugas kebersihan, dan menculik seorang saksi — perempuan tua yang tadi pagi bersaksi tentang panti tempat anak-anak dikumpulkan.
Albert mengejar Clara melalui lorong pengadilan.
Ia mendengar langkah di depan, mendengar suara perempuan tua itu memanggil tolong, lalu berbelok di tikungan dan berhenti.
Clara menahan saksi dengan pisau.
Punggung perempuan tua itu ditekan ke dinding, mata pisau menempel di lehernya. Clara tidak terlihat panik. Rambutnya rapi, napasnya teratur, seolah semua ini sudah ia latih di kepalanya berkali-kali.
“Jangan mendekat, Albert,” katanya.
Albert berhenti. Ia mengangkat kedua tangannya.
“Lepaskan dia. Dia bukan bagian dari urusanmu.”
“Semua orang bagian dari urusan saya.” Clara memiringkan kepala. “Semua keluarga akan hancur kalau Arkan tidak diserahkan. Bukan ancaman. Itu cuma cara kerja yang sudah ada sebelum kamu lahir.”
“Kamu mau anak satu tahun mengurus cara kerja itu?”
“Saya mau dia tumbuh di tempat yang benar.”
Albert berbicara tenang, berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia menurunkan suaranya, memanggil nama Clara berulang kali, bertanya tentang ayahnya, tentang berapa lama ia bekerja untuk orang-orang yang bahkan tidak pernah ia temui langsung. Setiap kalimat membuat pandangan Clara bergeser sedikit ke arahnya, menjauh dari lorong sebelah kiri.
Leon dan Raka bergerak dari sisi lain.
Mereka datang tanpa suara, menempel di dinding, menunggu sampai jarak cukup. Ketika Clara mengangkat dagunya untuk menjawab pertanyaan terakhir Albert, Leon menarik tangan yang memegang pisau ke atas, dan Raka menjatuhkan tubuh perempuan itu ke lantai.
Pisau terlempar, berdenting dua kali, lalu diam.
Perempuan tua itu jatuh terduduk sambil menangis. Albert menariknya menjauh, menyerahkannya ke petugas medis yang berlari dari arah tangga.
Clara berhasil ditangkap, tetapi ia tertawa.
Ia tertawa sambil pipinya menempel di lantai dingin, sambil tangannya diborgol di belakang punggung, tawa yang tidak terdengar seperti orang kalah.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Albert.
Clara mengangkat wajahnya sedikit.
“Saya bukan pemimpin terakhir. Ada orang yang menunggu di dalam keluarga kalian sendiri.”
Albert menatapnya lama. Lampu darurat membuat separuh wajah perempuan itu tampak kuning, separuh lagi hilang dalam bayangan.
Listrik menyala kembali beberapa menit kemudian. Pendingin berdengung, layar-layar hidup lagi, dan ruang sidang perlahan terisi suara manusia yang mencoba kembali normal.
Akira keluar dari ruang aman dengan Arkan yang sudah berhenti menangis. Ia melihat Albert di ujung koridor dan tidak bertanya apa pun. Cukup dari cara pria itu berdiri, ia tahu sesuatu baru saja nyaris terjadi.
Polisi menyita seluruh perangkat Clara — dua ponsel, satu tablet, dan sebuah alat kecil berbentuk kunci yang tersembunyi di lipatan seragam.
Nara membukanya malam itu juga di kantor penyidik. Ia bekerja tanpa bicara selama hampir dua jam, wajahnya disinari layar, sementara Albert berdiri di belakangnya dengan kopi yang sudah dingin di tangan.
“Ada apa?” tanya Albert akhirnya.
Nara tidak langsung menjawab. Ia memutar layar ke arah pria itu dan menunjuk satu baris waktu — pukul sebelas lewat lima puluh dua, tepat saat listrik gedung mati.
Namun, satu pesan otomatis sudah dikirim kepada anggota Ordo.