Di halaman terakhir daftar yang diserahkan Mira, ada satu alamat yang tidak punya nama di sebelahnya. Hanya kode wilayah dan satu kata: pusat.
Tempat itu ternyata sebuah gedung sekolah.
Bangunan dua lantai bercat krem yang sudah lama tidak dipakai, dengan papan nama yang catnya mengelupas dan lapangan upacara yang ditumbuhi rumput setinggi lutut. Pagarnya digembok. Dari luar, tidak ada yang perlu dicurigai.
Polisi masuk pukul sepuluh pagi. Albert ikut, berdiri di belakang barisan, dengan Leon di sisinya.
Ruang-ruang kelas di lantai atas kosong. Papan tulis masih menempel, bangku-bangku ditumpuk di sudut, debu setebal jari.
Yang mereka cari ada di bawah.
Pintu menuju ke sana disamarkan sebagai gudang alat kebersihan. Di baliknya, tangga beton turun ke lorong yang diterangi lampu putih—terang, bersih, dan jelas masih dipakai sampai beberapa hari lalu.
Di bawah sana ada enam ruang kelas.
Bukan kelas biasa. Tidak ada jendela. Meja-mejanya menghadap satu arah. Di dinding tergantung jadwal harian: bangun pukul empat, latihan fisik, pelajaran bahasa, pelajaran sejarah, pelajaran kesetiaan.
Di salah satu ruangan, Albert menemukan deretan loker kecil. Setiap loker punya nomor, bukan nama.
Ia berdiri di sana terlalu lama sampai Leon harus memanggilnya dua kali.
Richard yang menemukan arsipnya, di ruang paling ujung, di dalam lemari besi yang pintunya bahkan tidak dikunci.
Map-map berjajar, disusun menurut tahun. Dan di rak paling baru, di antara berkas-berkas lain, ada satu map bersampul putih bersih.
Richard mengangkatnya, membaca sampulnya, lalu menoleh ke Albert dengan wajah yang membuat Albert langsung tahu.
Di sampul itu tertulis satu kata.
Arkan.
Isinya membuat semua orang di ruangan itu bungkam.
Profil lengkap. Tanggal perkiraan lahir, rumah sakit yang kemungkinan dipakai, nama dokter kandungan, riwayat kesehatan Akira, riwayat kesehatan Albert. Rencana pendidikan sampai usia delapan belas tahun, dibagi per tahap. Bahkan ada daftar tiga nama pengasuh yang disiapkan, lengkap dengan latar belakang mereka.
Semua itu ditulis sebelum Arkan lahir.
Sebagian bahkan ditulis sebelum Akira tahu dirinya hamil.
Akira membaca salinannya malam itu di rumah aman, dengan Arkan tidur di dadanya, dan tangannya gemetar sampai kertas itu berbunyi.
“Mereka sudah merencanakan semuanya,” katanya.
Albert mengambil map itu dari tangannya dan menutupnya.
“Rencana bukan kenyataan,” katanya. “Mereka juga merencanakan ambil dia di rumah sakit. Tidak kejadian.”
Nara datang dua hari kemudian dengan laptop dan kantung mata yang menghitam.
“Server di bawah sekolah itu sempat dihapus,” katanya. “Tapi mereka terburu-buru. Ada satu berkas yang tertinggal di memori sementara.”
Ia memutarnya.
Sebuah rekaman video. Ruangan putih, satu kamera statis. Seorang perempuan berdiri di depan layar proyektor, berpakaian rapi, rambut diikat ke belakang. Usianya mungkin empat puluhan. Suaranya tenang, jelas, dan sama sekali tidak terdengar gila—itu bagian yang paling mengganggu.
“Anak ini,” kata Clara di rekaman itu sambil menunjuk gambar di layar, “bukan sekadar bayi. Dia titik temu. Dua keluarga yang selama tujuh belas tahun saling menghancurkan, berakhir dalam satu tubuh. Generasi kita gagal karena kita bertengkar. Generasi berikutnya akan dipimpin oleh anak yang tidak punya alasan untuk bertengkar.”
Kamera bergerak sedikit. Terdengar suara orang bertanya di luar layar.
“Kapan?”
“Saat sidang lanjutan,” jawab Clara. “Ayah dan ibunya wajib hadir. Mereka akan meninggalkan anak itu bersama pengasuh dan penjaga, dan pada hari itu perhatian semua orang ada di ruang pengadilan.”
Rekaman berhenti di situ.
Albert menutup laptop itu sendiri.
Pengawalan diperkuat dua kali lipat. Jadwal sidang dirahasiakan. Rute diubah setiap hari. Setiap petugas yang masuk rumah aman harus dikenali langsung oleh Leon, bukan lewat kartu.
Tetapi Clara tidak mengirim orang pada hari sidang.
Ia mengirimnya tiga hari lebih awal, pukul sebelas siang, dengan seragam petugas pemeliharaan listrik dan surat tugas yang lengkap sampai ke nomor registrasinya.
Dua orang. Tenang, sopan, membawa peralatan yang benar.
Yang tidak mereka perhitungkan adalah Raka.
Anak buah Leon itu dulu delapan tahun bekerja di bagian pemeliharaan gedung sebelum pindah ke keamanan. Ia melihat mereka dari jendela pos jaga dan berhenti mengunyah rotinya.
“Pak Leon,” katanya lewat radio. “Sepatunya salah.”
“Apa?”
“Petugas listrik tidak pakai sepatu berhak karet tipis begitu. Dan tas mereka tidak ada tester tegangannya.”
Alarm dibunyikan dalam sepuluh detik.
Kedua orang itu tidak sempat melewati gerbang kedua. Mereka berbalik, berlari ke mobil, dan pergi sebelum polisi sempat memblokir jalan.
Tidak ada yang terluka. Arkan bahkan tidak terbangun.
Tetapi saat Leon memeriksa ulang, ia menemukan satu hal hilang dari ruang penyimpanan di dekat gerbang: satu kotak arsip. Kotak yang baru dipindahkan dari rumah lama dua hari sebelumnya dan belum sempat dibuka siapa pun.
“Isinya apa?” tanya Akira.
Albert sudah tahu jawabannya sebelum daftar isi dibacakan.
“Surat-surat ayahku,” katanya.
Salinan digitalnya masih ada, karena Nara memindai semuanya sebelum dipindahkan. Mereka membukanya malam itu.
Sebagian besar surat biasa. Lalu ada satu yang ditulis tangan, ditujukan kepada seseorang tanpa nama, dan di paragraf ketiga ayah Albert menulis tentang cucu yang belum lahir—tentang “garis yang harus diputus”.
Surat itu menyebut bahwa keluarga mereka dulu dipercaya memiliki garis keturunan khusus. Bahwa selama puluhan tahun, nama Erdinata dipakai untuk membuat orang-orang di jaringan itu patuh, karena mereka percaya perintah dari darah tertentu tidak boleh ditolak.
Akira menatap layar dengan wajah pucat. “Jadi... benar?”
“Tidak,” kata Albert.
“Albert—”
“Tidak.” Ia menutup berkas itu. “Aku tidak mau mendengar cerita tentang darah istimewa. Kalau ada yang bilang keluargaku punya garis keturunan khusus, tunjukkan datanya. Tunjukkan penelitiannya. Tunjukkan satu hal yang bisa diukur. Kalau tidak ada, itu dongeng.”
Pak Surya, yang sejak tadi diam di ujung meja, akhirnya bicara.
“Dia benar,” katanya. “Kami sudah menelusuri ini sejak berkas Damian dibuka. Tidak ada apa pun di balik cerita itu. Tidak ada penelitian, tidak ada catatan medis, tidak ada apa-apa.”
“Lalu dari mana asalnya?” tanya Akira.
“Dari kakek buyutnya.” Pak Surya menunjuk Albert dengan dagunya. “Keluarga-keluarga lama membuat cerita itu supaya orang-orang yang bekerja untuk mereka tidak pernah berpikir untuk pergi. Kalau kamu percaya sedang melayani darah yang istimewa, kamu tidak akan merasa sedang diperbudak. Itu propaganda, bukan warisan.”
Ruangan itu hening. Di kamar sebelah, Arkan merengek sebentar, lalu tenang lagi.
“Masalahnya,” kata Pak Surya pelan, “Clara tahu persis itu dongeng.”
Albert mengangkat kepala. “Apa maksudmu?”
“Dia tidak percaya pada darah, Albert. Dia percaya pada orang-orang yang percaya.” Pak Surya menyandarkan punggung. “Dia memakai dongeng itu bukan untuk dirinya sendiri. Dia memakainya supaya seluruh anggota Ordo tunduk kepada anakmu.”