Kevin membutuhkan sembilan hari untuk membangun daftarnya.
Ia tidak mencari nama. Nama terlalu mudah diganti. Yang ia cari adalah lubang.
"Semua orang punya jejak masa kecil," katanya di rapat pagi itu, dengan mata merah dan tiga gelas kopi kosong di sampingnya. "Sekolah dasar, alamat lama, nama orang tua di ijazah. Orang-orang ini punya semuanya, tapi kalau saya cek ke sumber aslinya, sekolahnya tidak pernah punya mereka. Ijazahnya asli, sekolahnya betul ada, cuma muridnya tidak pernah ada."
"Berapa banyak?" tanya Richard.
Kevin memutar layarnya.
"Tiga puluh satu orang," katanya. "Semuanya berumur dua puluh delapan sampai tiga puluh sembilan. Semuanya punya lubang di rentang umur yang sama. Semuanya muncul kembali di dunia nyata antara umur tujuh belas dan delapan belas, lengkap dengan akta, ijazah, dan beasiswa."
Ruangan itu sunyi.
"Institusi pulau," kata Yura pelan.
"Angkatan pertama dan kedua," jawab Kevin. "Adrianus benar."
Satuan khusus butuh tiga minggu untuk mendekati mereka satu per satu, dan hasilnya tidak sesederhana yang dibayangkan siapa pun.
Sebelas orang langsung menangis ketika ditanya. Mereka mengaku, menceritakan semuanya, dan beberapa bahkan tampak lega akhirnya ada yang tahu. Seorang perempuan yang sekarang menjabat kepala divisi di perusahaan telekomunikasi bercerita selama empat jam tanpa berhenti tentang asrama, tentang pelajaran kode, tentang hari ia dinaikkan ke kapal dan diberi nama baru serta seorang "ibu" yang tidak pernah ia temui lagi setelah foto keluarga diambil.
Tetapi ada juga yang lain.
Sembilan orang menolak diwawancara dan langsung menunjuk pengacara. Empat orang menghilang dalam dua hari. Dan tiga orang, yang paling membuat Richard tidak bisa tidur, menjawab semua pertanyaan dengan tenang lalu balik bertanya kepada penyidik apakah keluarganya baik-baik saja.
"Mereka bukan cuma korban," kata Richard di rapat malam. "Sebagian dari mereka sekarang yang menjalankan."
"Kenapa?" tanya Yura. "Kalau mereka tahu mereka diambil dari ibunya, kenapa mereka membantu?"
"Karena Ordo tidak memakai ancaman kepada semua orang," jawab Kevin. Ia menggeser satu berkas ke tengah meja. "Untuk sebagian, mereka pakai rasa takut. Mereka tahu semua rahasia orang-orang ini sejak umur lima tahun. Satu telepon dan kariernya habis."
"Dan sebagian lagi?"
"Utang budi." Kevin mengetuk berkas itu. "Coba pikir dari sisi mereka. Anak umur tujuh belas, tiba-tiba punya akta, punya beasiswa ke luar negeri, punya rumah. Siapa yang memberikan semua itu? Bukan negara. Bukan ibunya, karena dia tidak ingat ibunya. Mereka. Seumur hidupnya cuma mereka."
Yura menutup mapnya dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat.
Ia yang menemukan nama itu dua hari kemudian, dan ia menemukannya di jam dua pagi karena tidak bisa tidur.
Ia sedang mencocokkan tiga puluh satu nama Kevin dengan arsip lama pusat bantuan, pekerjaan membosankan yang sebenarnya bisa dikerjakan mesin. Ketika satu nama muncul di dua daftar sekaligus, ia mengira dirinya salah lihat.
Ia mengeceknya empat kali sebelum membangunkan Richard.
"Richard."
"Hm."
"Bangun." Yura menyalakan lampu. "Dokter yang merawat ayahmu di rumah sakit dulu. Yang menandatangani semua laporan medis terakhir. Kamu ingat namanya?"
Richard duduk. Kantuknya hilang dalam satu detik.
"Kenapa?"
Yura memutar laptopnya.
Nama itu ada di urutan kesembilan dalam daftar Kevin.
"Dia yang memberitahuku ayahku meninggal," kata Richard. Ia menatap layar itu tanpa berkedip. "Dia yang memegang bahuku di lorong rumah sakit dan bilang semuanya sudah diusahakan."
Yura duduk di tepi tempat tidur dan tidak menyentuhnya dulu.
"Kamu mau aku yang urus ini?" tanyanya.
"Tidak." Richard menggeleng pelan. "Aku yang harus dengar sendiri."
Dokter itu sudah lama tidak tinggal di kota lama. Ia pindah delapan tahun lalu, membuka praktik kecil di kota sebelah provinsi, dan menolak setiap upaya menghubunginya. Pintu rumahnya tidak dibuka. Teleponnya berganti nomor dua kali dalam sebulan.
Penyidik mendatanginya untuk ketiga kalinya dengan membawa satu benda.
Bukan surat penangkapan. Sebuah amplop, disalin dari daftar rekening tulisan tangan yang diselamatkan Raka dari kebakaran biara, dengan tanda tangan Adrianus di sudut bawah.
Dokter itu membaca halaman pertama sambil berdiri di ambang pintu. Ia membaca halaman kedua sambil duduk di kursi teras. Ia tidak menyelesaikan halaman ketiga.
"Masuklah," katanya.
Ia bicara selama enam jam. Richard mendengarkan rekamannya keesokan hari, sendirian, di ruang rapat yang sengaja ia kunci.
Dokter itu mengaku menerima instruksi sejak 2003. Bukan ancaman. Bukan juga suap dalam bentuk yang bisa dilacak. Cuma telepon berkala dari orang yang menyebut diri mereka Ordo, yang meminta hal-hal kecil: mengubah satu keterangan, menunda satu rujukan, memastikan satu keluarga menerima kabar pada waktu tertentu.
Penyidik bertanya untuk apa semua itu.
"Mereka ingin memastikan anak-anak yang dipilih tetap memiliki akses kepada perusahaan besar," jawab dokter itu di rekaman. "Kalau ada ahli waris yang sakit, mereka mau tahu duluan. Kalau ada yang meninggal, mereka mau saham dan kursinya jatuh ke tangan yang benar. Itu saja tugas saya. Memberi tahu mereka lebih dulu."
Richard mematikan rekaman itu dan duduk lama sekali di ruangan kosong.
Selama ini ia mengira ia sedang berhadapan dengan dendam. Orang-orang lama yang saling membalas, generasi ayahnya yang belum selesai berkelahi. Ia mengira kalau semua orang tua itu ditangkap atau mati, perkaranya selesai dengan sendirinya.
Ternyata bukan.
Ordo tidak membalas apa-apa. Mereka tidak peduli pada ayahnya, pada paman Mia, pada Selina, pada siapa yang menang di masa lalu. Mereka sedang mengerjakan hal yang jauh lebih sabar: memastikan bahwa dua puluh tahun dari sekarang, orang-orang yang memegang perusahaan, rumah sakit, dan kursi pemerintahan adalah orang yang mereka besarkan sendiri.
Bukan merebut kekuasaan hari ini. Menguasai generasi berikutnya.
Sore itu di lantai satu, Damar duduk di karpet dengan setumpuk buku yang dibawa dari pulau. Petugas sudah memeriksa semuanya dua kali dan menyatakan tidak ada apa-apa; cuma buku pelajaran, buku cerita, dan beberapa album kosong.
Anak itu membalik halaman belakang sebuah buku bersampul cokelat, lalu diam.
"Kak Yura."
Yura menoleh dari mejanya. "Kenapa?"
Damar mengangkat buku itu dan menunjuk sudut kanan bawah halaman terakhir.
Sebuah gambar kecil, dicap dengan tinta yang sudah memudar. Bukan lingkaran terputus. Bentuknya lain: tiga garis yang bertemu di satu titik, dengan setengah lingkaran di bawahnya.
Yura meletakkan penanya dan mendekat.
"Kamu pernah lihat ini?"
"Sering," kata Damar. Suaranya biasa saja, seperti membicarakan cuaca. "Tiap kali para pengasuh rapat, gambar ini ada di kertas mereka."