Kabar itu datang pukul sebelas malam, lewat telepon Raka yang suaranya lebih datar dari biasanya.
"Rumah Mama lo kebakaran."
Yura sempat berpikir ia salah dengar. Ia sedang duduk di lantai kamar, memilah berkas anak-anak yang baru masuk ke pusat bantuan, dan kalimat itu masuk seperti sesuatu yang ditujukan untuk orang lain.
"Kebakaran," Yura mengulang. "Maksud lo, kompor?"
"Bukan kompor," kata Raka. "Datang aja."
Richard yang menyetir. Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Yura memandangi kaca jendela yang berembun, dan setiap lampu jalan yang lewat terasa seperti hitungan mundur.
Api sudah padam ketika mereka sampai. Asapnya belum.
Bau itu yang pertama menghantam Yura begitu pintu mobil dibuka: bau kayu basah yang hangus, bau kain terbakar, bau sesuatu yang dulu adalah rumah. Selang pemadam melintang di gang. Air menggenang bercampur abu, hitam dan licin. Tetangga berdiri berkelompok dengan sarung dan jaket tidur, bicara pelan-pelan seperti orang di rumah duka.
"Enggak ada korban," kata Raka cepat, begitu melihat wajah Yura. "Enggak ada satu pun. Semua orang udah dipindah ke rumah aman dua minggu lalu. Rumahnya kosong waktu kejadian."
Yura mengangguk. Ia tahu itu. Ia sendiri yang menandatangani surat pemindahan. Tapi tubuhnya tetap butuh waktu untuk percaya.
Ia berjalan mendekat, melewati garis polisi yang diangkat seorang petugas untuknya. Dinding depan masih berdiri, hitam dan berlubang. Atapnya jatuh ke dalam. Di tempat yang dulu ruang tamu, ada gundukan kayu arang dan rangka sofa yang melengkung seperti tulang.
Di situlah dulu Mama menonton sinetron sambil melipat baju. Di situ dulu Yura dimarahi karena pulang terlalu malam. Di dinding itu dulu tergantung foto keluarga yang diambil di studio, yang warnanya sudah memudar jadi kekuningan.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Petugas pemadam menyebut sebagian dokumen dan barang di lemari depan ikut habis. Akta, rapor lama, album, surat-surat yang Mama simpan di kaleng biskuit. Hal-hal yang tidak masuk hitungan kerugian di berita acara mana pun, tapi tidak bisa dibeli lagi.
Yura berdiri di depan puing itu dan air matanya turun tanpa suara. Bukan tangis yang meledak. Hanya air yang mengalir, seperti sesuatu yang bocor dari dalam dan tidak bisa ditutup.
Richard datang dari belakang dan memeluknya. Tanpa berkata-kata. Tanpa mencoba menenangkan. Tangannya hanya melingkar, dan ia berdiri di situ selama Yura butuh.
"Mereka ingin membuat gue tidak punya tempat pulang," kata Yura akhirnya.
Suaranya serak. Richard tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai bahu Yura berhenti bergetar.
"Kalau begitu, kita bangun tempat baru."
Yura menoleh. "Segampang itu?"
"Enggak gampang," kata Richard. "Tapi bisa."
Mama Yura menangis sebentar ketika melihat fotonya lewat ponsel, lalu berhenti sendiri. "Untung enggak ada orang," katanya berulang-ulang, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Untung enggak ada orang, Yur."
Malam itu Yura menemani Mama di rumah aman sampai subuh. Kamarnya sempit, kasurnya tipis, dan di sudut ada koper yang belum dibongkar sejak hari pemindahan. Mereka duduk berdua di tepi ranjang.
"Kaleng biskuit yang di lemari depan," kata Mama tiba-tiba. "Isinya surat-surat Bapak kamu waktu masih kerja di pelabuhan."
Yura menggenggam tangan Mama. Tidak ada yang bisa ia katakan yang tidak terdengar bohong, jadi ia memilih tidak mengatakan apa-apa.
Tiga hari kemudian Richard membawa Yura ke sebuah rumah kecil di gang yang tenang, sepuluh menit jalan kaki dari pusat bantuan. Rumah itu bercat putih, punya teras sempit, dan pohon jambu di depan yang buahnya sudah mulai merah.
"Saya beli minggu lalu," kata Richard. "Untuk kamu dan Mama."
Yura berdiri di teras dan tidak masuk.
"Enggak," katanya. "Gue enggak mau."
"Kenapa?"
"Karena gue tahu ujungnya ke mana." Yura menoleh. "Gue terima rumah, terus suatu hari kita berantem, terus gue diam karena inget ini rumah dari lo. Gue enggak mau punya utang yang bentuknya begitu."
Richard diam cukup lama. Angin sore menggerakkan daun jambu di atas mereka.
"Ini bukan hadiah," katanya. "Ini tempat yang bisa kamu pilih untuk tinggal."
"Bedanya?"
"Hadiah bikin kamu harus berterima kasih seumur hidup. Ini enggak." Richard menyerahkan map tipis yang dibawanya. "Rumah ini atas nama perusahaan. Kamu sewa. Ada kontraknya, ada harganya, ada tanggal berakhirnya. Kalau suatu hari kamu enggak mau berhubungan sama saya lagi, kamu tetap punya tempat tinggal sampai kontraknya habis."
Yura membuka map itu. Angka sewanya kecil sekali, simbolis, tapi ada. Hitam di atas putih. Ada kolom untuk tanda tangannya.
Ia membaca dua kali. Lalu tertawa pendek, campur sesuatu yang lain.
"Lo belajar dari mana ngomong kayak gini?"
"Dari kamu," kata Richard. "Kamu marah setiap kali saya memutuskan sesuatu sendirian."
Yura menandatangani kontrak itu sore itu juga, di teras, di atas map yang ditaruh di pahanya.
Hasil pemeriksaan polisi keluar seminggu kemudian. Di sisa puing ditemukan jejak bahan bakar yang disiramkan di tiga titik berbeda — dapur, ruang tamu, dan kamar depan. Bukan korsleting. Bukan kelalaian. Seseorang masuk, menyiram, lalu pergi.
Dan orang itu ceroboh. Di selokan depan rumah, dua rumah dari lokasi, petugas menemukan kartu akses kantor yang terjatuh. Namanya masih terbaca.
Pemiliknya seorang pejabat di departemen perizinan. Orang yang selama ini menandatangani izin bangunan, izin yayasan, izin operasional. Termasuk izin-izin yang berkali-kali tertahan tanpa alasan jelas di meja pusat bantuan.
Ia tidak melawan ketika dijemput. Penyidik mencocokkan namanya dengan berkas yang sudah mereka kumpulkan berbulan-bulan, dan cocok: lelaki itu anggota Ordo, ditempatkan di departemen perizinan sejak sepuluh tahun lalu.
Di ruang pemeriksaan, ia bertahan enam jam sebelum akhirnya bicara.
"Saya cuma disuruh," katanya.
"Disuruh siapa?" tanya penyidik.
Lelaki itu menggeleng. Bukan menolak — lebih seperti tidak tahu harus menyebut apa.
"Saya enggak pernah ketemu orangnya. Perintahnya lewat pesan. Nomornya ganti terus. Tapi semua orang di dalam menyebutnya dengan nama yang sama."
"Sebut."
Lelaki itu menunduk. Tangannya yang terborgol bergerak gelisah di atas meja.
"Ibu."
Yura menonton rekaman pemeriksaan itu bersama Richard dan Raka di ruang kecil sebelahnya. Satu kata, dan ruangan terasa berubah suhunya.
Sore itu mereka menemui Mama Richard di ruang besuk. Perempuan itu sudah lebih kurus, rambutnya dipotong pendek, dan ia bicara lebih pelan sejak menjadi saksi.
Richard menyampaikannya tanpa basa-basi. "Ada nama yang dipakai jaringan itu. Ibu."
Mama Richard tidak menjawab.
Ia menaruh gelas plastiknya di meja, pelan sekali, seolah takut menimbulkan suara. Matanya berpindah ke jendela berjeruji, lalu kembali. Dan selama hampir satu menit penuh, ia hanya diam.
"Mama," kata Richard.
"Dulu ayahmu punya mentor," kata Mama Richard akhirnya. "Perempuan. Yang mengajarinya membangun semuanya dari nol."
"Siapa?"
"Selina." Ia menelan ludah. "Anak-anak di yayasan lama memanggilnya begitu. Ibu."