Mereka menemukannya bukan lewat komputer, melainkan lewat daftar belanja.
Kevin yang menyerah duluan. Setelah dua minggu menyisir data kependudukan, catatan bank, dan lalu lintas perbatasan tanpa hasil, ia melempar pulpennya ke meja.
"Orang ini tidak ada di mana pun," katanya. "Tidak punya ponsel, tidak punya rekening, tidak pernah naik pesawat. Dia betul-betul mati di semua sistem yang saya bisa masuki."
Raka yang menemukan celahnya, dan ia menemukannya karena bosan.
"Orang hidup harus makan," katanya. "Saya cek pembelian besar obat jantung di apotek-apotek kecil di luar kota. Yang dibayar tunai, rutin, tiap bulan, atas nama lembaga."
Satu nama muncul di layar. Sebuah biara di kaki gunung, empat jam perjalanan ke selatan, yang setiap bulan membeli obat untuk delapan orang penghuni padahal yang terdaftar cuma tujuh.
Biara itu tua sekali. Temboknya batu, lumutnya tebal, dan udaranya dingin bahkan di siang hari. Seorang biarawan tua membukakan pintu tanpa bertanya apa-apa, seolah sudah lama tahu hari ini akan datang, dan menunjuk ke bangunan rendah di belakang kebun.
"Dia di ruang arsip," katanya. "Dia selalu di ruang arsip."
Ruangan itu panjang dan remang, penuh rak kayu yang berisi buku catatan gereja dari seratus tahun terakhir. Di ujungnya, seorang lelaki tua duduk membelakangi pintu, menyalin sesuatu dengan pena ke dalam buku besar.
Ia tidak berhenti menulis ketika mereka masuk.
"Silakan duduk," katanya. "Tinggal dua baris."
Richard menunggu sampai lelaki itu selesai, menutup bukunya, dan berbalik.
Wajah di fotokopi Raka, hanya tiga puluh tahun lebih tua. Punggungnya membungkuk, tangannya bergetar halus, tapi matanya sama sekali tidak tua.
"Adrianus," kata Richard.
"Sudah bukan," jawabnya. "Di sini nama saya Bapak Tua Penjaga Arsip. Itu saja."
"Anda tahu kenapa kami ke sini."
"Saya tahu sejak sebelas tahun lalu." Ia berdiri dengan susah payah dan berjalan ke rak paling belakang. "Saya cuma tidak tahu siapa yang akan datang duluan, kalian atau mereka."
Ia menarik sebuah kotak kayu dari balik tumpukan buku doa. Di dalamnya bukan barang rohani, melainkan map-map hukum: salinan putusan, berita acara, memorandum yang kertasnya sudah menguning. Richard membuka satu dan langsung mengenali istilah-istilah yang sudah setahun ini menghantuinya. Struktur Ketua. Rantai perintah. Tingkatan kode.
"Anda menyimpan semua ini di biara," kata Richard.
"Di mana lagi? Tidak ada satu pun bank yang aman dari uang. Biara tidak menerima uang."
Richard meletakkan mapnya. "Perkara ayah saya."
Adrianus duduk kembali. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan, dan untuk waktu yang lama ia tidak mengatakan apa-apa.
"Saya tahu dia dijebak," katanya akhirnya. "Saya tahu sejak berkas itu masuk ke meja saya. Ada tiga hal di dalamnya yang tidak mungkin dilakukan orang yang sama di hari yang sama. Saya melihatnya dalam sepuluh menit."
"Dan Anda diam."
"Saya diam."
"Kenapa?"
"Karena tiga orang mendatangi saya." Adrianus menatap tangannya. "Bukan preman. Orang-orang berjas, dari lingkaran politik, yang bicaranya sopan sekali. Mereka bilang kalau perkara ini dibuka utuh, akan ada empat belas nama besar yang ikut jatuh, dan negara akan goyah menjelang pemilu. Mereka bilang satu nama saja yang perlu dikorbankan."
Richard tidak bergerak.
"Saya pikir pengorbanan satu orang akan menyelamatkan negara," kata Adrianus.
"Ayah saya mati di rumah sakit dengan status tersangka," kata Richard, dan suaranya keluar lebih pelan daripada yang ia mau. "Ibu saya kehilangan rumah. Adik saya tumbuh dikira anak penjahat. Anda menyelamatkan negara yang mana?"
"Tidak ada."
"Apa?"
"Tidak ada negara yang terselamatkan." Adrianus mengangkat wajahnya. "Empat belas orang itu tetap naik. Yang hancur cuma satu keluarga. Itu yang saya pikirkan tiap malam selama dua puluh tahun, dan tidak satu kali pun saya menemukan cara membuat hitungannya jadi benar."
"Itu bukan alasan."
"Saya tidak bilang itu alasan." Lelaki tua itu menggeleng. "Saya cuma menjawab pertanyaanmu."
Ia meraih kotak itu lagi dan mengambil amplop dari dasarnya, lalu menyerahkannya kepada Richard.
"Daftar rekening," katanya. "Uang yang keluar dari perkara ayahmu. Semuanya bermuara ke tiga bank di luar negeri, dan dua di antaranya masih aktif sampai tahun lalu. Saya menyalinnya dengan tangan karena saya tidak percaya mesin fotokopi."
Raka sudah membuka amplop itu ketika lampu di ruangan mati.
Bukan padam pelan. Mati serentak, dan pada detik yang sama terdengar suara kaca pecah di sisi kebun, lalu bunyi seperti kain disobek, lalu bau bensin.
"Keluar," teriak Richard. "Sekarang."
Api menjalar lewat rak kayu jauh lebih cepat daripada yang masuk akal. Dalam dua puluh detik seluruh sisi timur ruangan itu sudah menyala, dan asapnya turun dari langit-langit seperti selimut.
Adrianus tidak bergerak dari kursinya. Ia malah meraih kotak kayu itu dan mendekapnya.
Richard menyambar lengannya dan menariknya berdiri. Sesuatu menghantam pundak lelaki tua itu dari arah pintu samping, tembakan atau puing yang jatuh, Richard tidak sempat tahu yang mana. Adrianus terhuyung dan hampir jatuh. Richard menahannya, memanggul sebelah badannya, dan menyeretnya keluar lewat jendela rendah di sisi barat.
Raka masuk kembali dua kali. Dua kali.
Kali pertama ia keluar membawa kotak kayunya. Kali kedua ia keluar sambil terbatuk-batuk hebat, memeluk empat map yang sudah gosong pinggirannya, dan langsung jatuh berlutut di rumput.
"Itu saja yang sempat," katanya di antara batuk. "Sisanya sudah tidak bisa."
Atap ruang arsip runtuh empat menit kemudian.
Adrianus dibaringkan di rumput kebun, di bawah pohon, sementara biarawan tua menekan lukanya dengan kain. Napasnya berat, tapi ia sadar, dan ia menarik lengan Richard sampai wajah mereka cukup dekat.
"Dengar dulu," katanya. "Sebelum saya tidak bisa bicara."
"Ambulans sudah jalan."
"Dengar." Genggamannya mengejutkan kuatnya. "Yang membakar ini bukan Lingkaran. Bukan juga orang-orang politik yang dulu. Mereka sudah tua semua, sama seperti saya."
"Lalu siapa?"
"Mereka memakai nama sandi Ordo."
Richard mengerutkan kening. "Sayap baru Lingkaran?"
"Bukan." Adrianus menggeleng lemah. "Bukan organisasi lama, bukan pecahannya. Ordo itu dibentuk dari anak-anak yang dulu dilatih di institusi pulau."
Richard merasa darahnya turun.
"Anak-anak angkatan pertama," lanjut Adrianus, suaranya makin habis. "Yang dimasukkan ke sana dua puluh, dua puluh lima tahun lalu. Mereka sudah dewasa sekarang."
"Di mana mereka?"
Lelaki tua itu tersenyum tipis, dan senyum itu sama sekali tidak menenangkan.
"Di kursi-kursi yang penting."