Operasi itu berlangsung enam jam.
Pelurunya meleset dua sentimeter dari tempat yang seharusnya mengakhiri semuanya, menembus di bawah tulang selangka dan berhenti di dekat tulang belikat. Dokter bedah keluar menjelang subuh dan mengatakan kalimat yang kedengaran hampir seperti keluhan.
"Beliau seharusnya tidak selamat," katanya. "Umurnya enam puluh satu dan darahnya keluar banyak sekali. Tapi jantungnya kuat sekali. Saya tidak tahu kenapa."
Elias dipindahkan ke ruang aman di lantai empat, sebuah kamar tanpa jendela yang bisa dilihat dari luar, dengan dua petugas di depan pintu dan satu di ujung lorong.
Selama dua hari ia menolak menjawab satu pun pertanyaan.
Bukan karena tidak sadar. Ia sadar penuh sejak hari kedua, minum sendiri, bahkan sempat mengeluhkan rasa bubur rumah sakit. Tetapi setiap kali penyidik masuk, ia menutup matanya dan berpura-pura tidur.
"Dia mau kamu," kata komandan satuan kepada Richard di telepon. "Katanya cuma mau bicara kalau kamu ada di ruangan."
Richard datang sore itu.
Ia berdiri di kaki tempat tidur dan tidak duduk, meski ada kursi. Elias membuka matanya dan memperhatikan hal itu.
"Kamu tidak mau duduk karena tidak mau terlihat seperti menjenguk," katanya.
"Saya tidak menjenguk."
"Saya tahu." Elias mencoba tersenyum, lalu berhenti karena kesakitan. "Duduk saja. Saya akan bicara lama."
Richard duduk.
"Penembak itu bukan anggota Lingkaran," kata Elias. Kalimat pertama, langsung, tanpa pemanasan. "Saya sudah memeriksanya dari tempat tidur ini. Tidak ada satu pun sel yang menerima perintah minggu ini. Tidak ada yang punya orang di kota itu."
"Anda bisa salah."
"Saya bisa salah tentang banyak hal. Tidak tentang ini." Ia mengangkat tangan kanannya sedikit dari selimut. "Dia bekerja untuk seseorang yang ingin menghapus semua saksi lama."
"Siapa?"
"Kalau saya tahu, saya tidak akan tertembak." Elias menoleh ke meja kecil di sisi tempat tidur. "Di laci itu ada kertas. Saya minta perawat menuliskannya semalam."
Richard membukanya. Selembar kertas resep yang dibalik, dengan tulisan tangan perawat yang rapi dan sedikit miring. Sebelas nama.
Sebagian ia kenal. Nama-nama yang sudah masuk berkas perkara, sebagian sudah meninggal, sebagian sudah ditahan. Nama Selma ada di urutan keempat. Nama Kartika di urutan ketujuh.
Nama terakhir tidak ia kenali sama sekali.
"Adrianus," bacanya. "Siapa ini?"
Elias menatap langit-langit cukup lama sebelum menjawab.
"Orang yang paling tidak ingin kamu temukan," katanya. "Dan orang yang paling harus kamu temukan."
Raka butuh empat hari.
Ia datang ke ruang kerja Richard dengan map tipis dan wajah orang yang belum tidur, lalu meletakkan satu lembar fotokopi di meja. Foto hitam putih seorang lelaki berjubah hakim, diambil dari dokumentasi pengadilan tahun sembilan puluhan.
"Adrianus," katanya. "Mantan hakim. Karier bagus, tidak pernah ada catatan buruk. Dua kali menangani perkara besar yang berkaitan dengan perusahaan ayah Mia, dan dua-duanya berakhir dengan putusan yang, yah, menarik."
"Menarik bagaimana?"
"Dua-duanya bebas."
Richard mengambil fotokopi itu. "Di mana dia sekarang?"
"Itu bagian yang aneh." Raka membuka map. "Dia menghilang tahun 2007. Tidak mengundurkan diri, tidak dipecat, cuma tidak pernah datang lagi. Keluarganya melapor hilang, lalu enam bulan kemudian mencabut laporannya tanpa alasan. Sejak 2011 dia tercatat meninggal di berkas kependudukan, tapi tidak ada akta kematian, tidak ada makam."
"Jadi dia hidup."
"Menurut kertas, tidak. Menurut Elias, iya." Raka menutup map. "Saya lebih percaya kertas kalau tidak ada yang membakar ruang arsip kita dua minggu lalu."
Di gedung pusat bantuan, lantai satu berubah bentuk.
Ruang tunggu yang dulu berisi kursi plastik berjajar sekarang punya karpet di satu sudut, meja rendah, dan rak buku setinggi pinggang. Sembilan belas anak dari pulau menempati tiga rumah perlindungan di dekat situ, dan setiap pagi mereka datang ke sini sebelum jam sekolah dimulai.
Penyesuaiannya tidak mudah. Yura tidak pernah menyangka akan sesulit ini.
Ada anak yang tidak mau makan kalau tidak ada yang memberi aba-aba mulai. Ada yang panik ketika diberi tahu ia boleh keluar kamar kapan saja. Tiga anak tidak bicara sepatah kata pun selama dua minggu pertama, bukan karena trauma bicara, melainkan karena di pulau itu mereka diajari bahwa berbicara tanpa ditanya adalah kesalahan.
Niko termasuk yang diam.
Ia selalu datang, selalu duduk di kursi yang sama di sudut dekat jendela, selalu membawa buku yang tidak pernah ia buka. Yura tidak memaksanya. Ia cuma duduk di dekat situ setiap hari, mengerjakan berkasnya sendiri, dan sesekali menyodorkan roti.
Pada hari kedua puluh tiga, Niko yang bicara duluan.
"Kakak tahu nama saya dari mana?"
Yura meletakkan penanya. "Dari berkas kamu."
"Berkas itu dibuat mereka."
"Iya."
Niko memutar-mutar sudut bukunya. "Jadi nama saya juga dari mereka."
Yura menutup mapnya sepenuhnya dan memutar kursinya menghadap anak itu.
"Kamu tidak harus menjadi seperti mereka," katanya.
"Tapi nama saya dari mereka."
"Nama bisa diganti."
Niko mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kali dalam tiga minggu ia menatap mata Yura lebih dari satu detik.
"Boleh?" tanyanya. "Saya boleh pilih nama baru?"
"Boleh. Nanti kita urus suratnya lewat pengadilan. Butuh waktu, tapi bisa."
"Nama apa?"
Yura berpikir sebentar, lalu tersenyum. "Arga. Bagus, kan? Artinya gunung."
Niko mengerutkan kening, benar-benar mempertimbangkannya, seperti orang dewasa yang sedang membaca kontrak.
"Tidak," katanya akhirnya.
Yura tertawa kecil. "Ya sudah, kamu pilih sendiri."
Anak itu diam lama sekali. Ia memandang ke luar jendela, ke pohon di trotoar depan gedung yang daunnya bergerak pelan.
"Damar," katanya.
"Damar?"
"Di pulau ada pohon damar besar di belakang asrama. Cuma itu yang tidak mereka tanam." Ia menunduk lagi. "Sudah ada di situ sebelum mereka datang."
Yura harus menunggu beberapa detik sebelum bisa menjawab, karena tenggorokannya tiba-tiba sempit.
"Damar," ulangnya. "Bagus."
Richard berdiri di ambang pintu, membawa dua gelas kopi yang sudah dingin sejak lima menit lalu, dan tidak masuk.
Ia memandangi ruangan itu: anak-anak di karpet, Livia yang menumpuk berkas di meja panjang, Elena yang menelepon saksi dengan suara sabar, seorang ibu tua yang tertidur di kursi tunggu sambil memeluk map plastiknya.
Ia datang ke sini setahun lalu dengan pikiran bahwa ini akan jadi kantor. Lembaga. Sesuatu yang bisa dihitung laporannya tiap kuartal.
Ternyata bukan itu yang ia bangun.