Richard sudah sebelas tahun tidak menginjak kota itu.
Mobil mereka masuk lewat jalan lama, jalan yang dulu dilewati setiap pagi ketika ia masih diantar ke sekolah. Banyak yang berubah. Lebih banyak lagi yang tidak.
"Kamu diam sejak tadi," kata Yura.
"Aku sedang menghitung."
"Menghitung apa?"
Richard menunjuk dengan dagu ke bangunan putih di sisi kanan. "Rumah sakit itu. Aku di situ waktu ayahku dinyatakan meninggal. Umurku sembilan belas."
Mereka melewati sebuah gedung perkantoran berlantai lima yang lantai dasarnya sekarang jadi minimarket dan tempat cuci mobil. Di bagian atas tembok, bekas huruf timbul yang sudah dicopot masih meninggalkan bayangan nama perusahaan lama.
"Itu kantornya," kata Richard. "Aku pernah main di lantai empat setiap Sabtu."
Dan terakhir, di ujung jalan yang lebih sempit, sebuah rumah dengan pagar besi berkarat dan halaman yang sudah ditumbuhi rumput sampai ke teras.
Richard menyuruh sopir berhenti sebentar di depan rumah itu. Ia tidak turun. Ia cuma memandanginya kira-kira setengah menit.
"Mau masuk?" tanya Yura pelan.
"Tidak." Ia menyandarkan kepalanya. "Belum."
Yura meraih tangannya dan menggenggamnya. Richard tidak berkata apa-apa, tapi ia tidak melepaskannya sampai mobil bergerak lagi.
Gedung pengadilan lama ada di pusat kota, sudah tidak dipakai sejak pengadilan baru dibangun di sisi timur. Bangunannya besar, tinggi, dengan enam pilar di depan dan tangga batu yang lebar. Semua jendelanya berdebu.
Satuan khusus sudah mengepung sejak tiga jam sebelumnya. Penembak jitu ditempatkan di dua titik. Yura seharusnya menunggu di mobil, dan ia memang sudah setuju menunggu di mobil, sampai Richard membuka pintu dan Yura ikut turun.
"Aku bilang apa tadi?" kata Richard.
"Aku dengar," jawab Yura, sambil terus berjalan.
Ruang sidang utama kosong. Kursi-kursi pengunjung masih terpasang, berbaris rapi dan berselimut debu. Meja hakim masih ada di depan, kayunya menghitam. Cahaya sore masuk lewat jendela tinggi dan jatuh miring ke lantai.
Seorang lelaki duduk di kursi paling depan, membelakangi pintu.
Ia berdiri ketika mendengar langkah mereka, lalu berbalik perlahan, dengan kedua tangan terbuka di samping tubuh supaya terlihat kosong.
Umurnya sekitar enam puluh. Rambut putih rapi. Kacamata tipis. Wajah yang sama dengan yang muncul di layar kapal, kecuali bahwa yang ini punya kerut-kerut asli di sudut mata dan sedikit membungkuk ketika berdiri.
Richard berhenti di tengah lorong antara kursi.
"Saya kenal wajah Anda," katanya, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Ada foto Anda di ruang kerja ayah saya."
"Ada," jawab Elias. "Diambil tahun sembilan puluh delapan. Kami baru selesai rapat dua hari dua malam."
"Anda penasihatnya."
"Saya membantu ayahmu membangun sistem pertama." Ia mengatakannya tanpa bangga dan tanpa malu, seperti menyebutkan pekerjaan di kolom formulir. "Setelah dia mati, saya menjaga jaringan agar tidak jatuh kepada orang yang lebih buruk."
"Orang yang lebih buruk," ulang Richard.
"Kamu sudah bertemu beberapa di antaranya. Paman perempuan itu. Selina. Orang-orang yang menjual data korban ke siapa saja yang membayar." Elias melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan ujung kemeja. "Kalau saya melepaskan kendali tiga puluh tahun lalu, mereka yang akan memegang semuanya sejak dulu."
Richard merasa sesuatu naik dari dadanya, panas dan cepat. Ia menahannya, dan usaha menahannya membuat suaranya keluar lebih rendah daripada biasa.
"Kamu menculik anak-anak."
"Saya menyelamatkan mereka dari keluarga yang korup."
"Kamu mengambil mereka dari ibunya waktu mereka belum bisa menyebut namanya sendiri."
"Dan saya memberi mereka rumah yang tidak akan menjual mereka." Elias memasang kacamatanya kembali. "Kamu sudah melihat pulau itu. Coba jujur. Apa yang kamu temukan di sana lebih buruk daripada rumah tempat kamu tumbuh?"
Yura yang menjawab.
"Itu pertanyaan yang salah," katanya.
Elias menoleh kepadanya, untuk pertama kali benar-benar memperhatikan.
"Silakan."
"Anda membandingkan tempat Anda dengan rumah yang paling buruk, lalu merasa menang." Yura melangkah maju satu langkah. "Anak-anak itu tidak pernah ditanya. Tidak satu pun. Mereka tidak tahu ada pilihan lain karena Anda yang memutuskan mereka tidak perlu tahu."
"Anak-anak tidak bisa memutuskan masa depan mereka sendiri."
"Kamu mengambil hak mereka untuk memilih," kata Yura. "Sekarang mereka sembilan, dua belas, tujuh belas tahun, dan mereka tetap tidak bisa memilih, karena Anda tidak pernah mengajari mereka caranya. Itu bukan menyelamatkan. Itu memelihara."
Elias diam cukup lama. Debu berputar pelan di berkas cahaya di antara mereka.
Lalu ia membungkuk, mengangkat tas kulit dari bawah kursi, dan meletakkannya di atas meja panjang di depan.
"Buku besar," katanya. "Tiga puluh dua tahun transaksi. Setiap rupiah yang masuk, setiap rupiah yang keluar, setiap nama yang menerimanya. Tulisan tangan, karena saya tidak pernah memercayai komputer."
Richard tidak bergerak. "Kenapa sekarang?"
"Karena saya sudah tua, dan karena orang yang menembak anak itu di perpustakaan bukan orang saya." Elias meletakkan tangannya di atas tas. "Saya bersedia menjadi saksi. Semua yang saya tahu. Tapi saya minta satu hal: anak-anak di pulau itu dijamin keselamatannya oleh negara. Hitam di atas putih. Bukan janji."
"Anda tetap ditahan," kata Richard.
"Tentu saja."
"Dan semua data diserahkan. Bukan sebagian."
"Semuanya." Elias mendorong tas itu beberapa sentimeter ke depan. "Saya sudah terlalu tua untuk menawar."
Richard mengangkat tangannya ke arah pintu, memberi isyarat kepada petugas di luar. Ia bisa mendengar langkah kaki mulai bergerak di koridor.
Kaca jendela di sisi kiri ruangan itu pecah.
Elias terlempar setengah berputar dan jatuh ke lantai di antara kursi baris pertama. Tas kulitnya ikut jatuh, terbuka, dan halaman-halamannya berhamburan.
Yura berteriak. Richard menariknya ke bawah, ke balik deretan kursi, sambil merangkak ke arah tubuh yang tergeletak itu.
Elias masih hidup. Napasnya pendek-pendek, tangannya menggapai ke arah kertas-kertas yang berserakan, dan mulutnya bergerak tanpa suara.
"Jangan bicara," kata Richard. Ia menekan luka itu dengan kedua tangan. "Jangan bicara."
Petugas menemukan posisi penembak setengah jam kemudian, di lantai tiga gedung seberang jalan. Kosong, seperti yang sudah mereka duga.
Di dinding beton dekat jendela, ditulis dengan cat semprot hitam, ada satu kalimat.
"Lingkaran tidak diputus. Ia hanya berganti tangan."
Richard berdiri di trotoar dengan tangan yang masih merah, menatap kalimat itu dari kejauhan, lalu menatap Yura. Perang belum berakhir, tetapi kini mereka memiliki lebih banyak saksi dan bukti.