Panggilan itu masuk pukul dua dini hari, di saluran yang seharusnya tidak bisa dimasuki siapa pun.
Kevin membangunkan Richard dengan mengetuk pintu tiga kali, cepat dan keras.
"Dia menelepon lewat jalur internal kita," katanya, wajahnya pucat di bawah cahaya lorong. "Jalur yang cuma dipakai untuk saksi. Saya yang pasang enkripsinya sendiri dua minggu lalu."
"Siapa?"
"Dia bilang namanya Elias."
Richard mengambil gagang telepon di ruang rapat lantai satu. Kevin menyambungkan perekam, memberi isyarat dengan satu jari, lalu mundur.
"Selamat pagi," kata suara di seberang.
Suara laki-laki tua. Tenang, jelas, dengan cara mengucapkan kata yang terlalu rapi, seperti orang yang terbiasa berbicara di ruangan tempat semua orang mendengarkan.
"Anda tahu panggilan ini direkam," kata Richard.
"Saya berharap begitu. Saya tidak akan mengatakan apa pun yang belum siap saya pertanggungjawabkan."
"Apa mau Anda?"
"Menghentikan hal yang tidak perlu." Terdengar bunyi cangkir diletakkan di piring kecil. "Anda beranggapan kami memburu keluarga Anda. Itu keliru. Lingkaran Terputus tidak pernah berniat menyakiti keluarga Anda, Pak Richard. Tidak ibu Anda, tidak Ardi, tidak perempuan yang bekerja di kantor Anda."
"Ada peluru di perpustakaan minggu lalu yang berpendapat lain."
"Itu sel yang bertindak di luar arahan. Sudah kami tangani." Jeda. "Yang kami inginkan sederhana. Kekayaan yang dicuri oleh para pendiri lama. Uang itu bukan milik mereka. Mereka mengambilnya dari orang-orang yang sekarang Anda bela di gedung itu."
"Dan Anda mau mengambilnya kembali."
"Saya mau mengembalikannya ke tempat yang benar. Anda punya akses hukum yang saya tidak punya. Saya punya catatan yang tidak akan pernah Anda temukan seumur hidup Anda." Suara itu melembut. "Bekerja samalah dengan saya. Dua tahun, dan semua yang Anda perjuangkan selesai."
Richard menutup mata sebentar. Ia sadar bagian dari dirinya sedang menimbang tawaran itu, dan justru itu yang membuatnya membuka mata lagi.
"Tidak," katanya.
"Anda menjawab terlalu cepat."
"Saya menjawab tepat waktu." Richard mencondongkan badan ke arah mikrofon. "Kalian menculik anak-anak dan menghancurkan hidup banyak orang."
"Kami memberi mereka masa depan." Untuk pertama kali ada sesuatu yang tajam di suara itu. "Anda sudah ke pulau itu. Anda melihat sendiri. Tidak ada satu pun anak yang kurang makan. Tidak ada satu pun yang buta huruf. Berapa banyak anak korban jaringan ayah Anda yang putus sekolah karena bapaknya masuk penjara? Saya punya angkanya. Anda mau dengar?"
"Tidak perlu."
"Karena Anda tahu angkanya lebih besar."
"Karena itu tidak mengubah apa-apa." Richard menarik napas. "Masa depan tanpa kebebasan bukan masa depan."
Sunyi cukup lama di seberang sana. Lalu terdengar tawa pendek, hampir sedih.
"Sayang sekali," kata Elias. "Anda mirip ayah Anda. Dia juga menjawab terlalu cepat."
Sambungan terputus.
Tiga detik kemudian, ponsel Richard bergetar. Satu pesan. Satu foto.
Foto itu diambil dari dalam gedung pusat bantuan. Ruang arsip di lantai dua. Rak nomor empat, yang berisi berkas korban tahun 2016 sampai 2018.
Di bawah rak paling bawah, sebagian tertutup kardus, ada benda berbentuk kotak dengan kabel yang keluar dari dua sisi.
Richard sudah berlari sebelum foto itu selesai dimuat.
Evakuasi berlangsung sembilan menit. Ada dua belas orang di gedung itu malam hari: empat petugas jaga, tiga staf yang lembur, Livia yang ketiduran di meja arsip, Raka, Nara, dan dua saksi yang menginap karena rumahnya belum aman. Yura menghitung kepala di trotoar seberang jalan tiga kali sampai yakin jumlahnya benar.
Tim penjinak datang dua puluh menit kemudian. Jalan ditutup. Warga di ruko sebelah dibangunkan satu per satu.
Benda itu ditemukan persis seperti di foto. Bukan bom besar. Justru itu yang membuat komandan penjinak mengerutkan kening ketika keluar satu jam kemudian, dengan wajah berkeringat dan helm di tangan.
"Sudah aman," katanya. "Dayanya kecil. Kalau meledak, yang hancur cuma ruangan itu dan dua ruangan di sebelahnya."
"Kalau begitu untuk apa?" tanya Yura.
"Untuk membakar arsip," jawab Richard pelan. "Bukan untuk membunuh kita. Untuk menghapus berkas korban."
Livia duduk di trotoar dengan selimut darurat di bahunya, menatap gedung yang hampir saja membakar sepuluh tahun kerja mereka.
"Berkas rak empat itu yang paling banyak tanda tangannya," gumamnya. "Saya yang mengumpulkan semuanya. Dua ratus lebih orang mau bersaksi."
"Berkasnya selamat," kata Yura.
"Kali ini."
Yura duduk di sebelahnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi, karena Livia benar.
Nara berhasil melacak sinyal panggilan itu menjelang siang.
"Bergerak," katanya, menunjuk titik yang merayap pelan di peta. "Kecepatan dua belas knot. Arah barat laut. Dia di kapal."
Operasi laut disusun dalam enam jam. Richard ikut, dan komandan satuan tidak repot-repot melarangnya kali ini. Raka ikut karena ia satu-satunya yang hafal bentuk berkas jaringan itu. Kevin ikut karena tanpa dia, perangkat apa pun yang mereka temukan cuma jadi besi.
Lautnya tenang sore itu, terlalu tenang, dengan warna abu-abu yang memantulkan langit tanpa satu pun kapal lain di cakrawala. Richard berdiri di haluan selama satu jam terakhir, memandangi titik yang makin membesar, dan merasakan sesuatu yang tidak enak tumbuh di dadanya.
"Kenapa dia membiarkan sinyalnya terlacak?" tanyanya kepada Kevin.
Kevin mengangkat bahu, tapi matanya tidak ikut mengangkat bahu.
"Saya juga memikirkan itu sejak tadi," jawabnya.
Mereka menemukan kapal itu pukul empat sore, empat puluh mil dari pantai. Kapal kargo kecil, catnya baru, benderanya asing.
Mesinnya mati. Kapal itu cuma mengambang, naik turun mengikuti ombak.
Tidak ada orang di atasnya. Tidak di geladak, tidak di ruang mesin, tidak di kabin awak. Piring kotor masih ada di wastafel dapur. Sebuah radio kecil masih menyala, memutar siaran cuaca dengan suara berdesis.
"Sekoci penyelamatnya kurang satu," lapor seorang petugas dari buritan.
Richard naik ke ruang kapten.
Di sana, di tengah meja navigasi, terpasang sebuah layar yang masih hidup. Layarnya menyala begitu Richard melangkah masuk, seolah menunggu berat langkah kaki.
Wajah seorang lelaki muncul. Umur sekitar enam puluh, rambut putih rapi, kacamata tipis. Tetapi gambarnya tidak sepenuhnya benar. Gerakannya terlambat sepersekian detik, dan garis rahangnya terlalu halus.
Rekaman. Atau sesuatu yang dibuat menyerupai rekaman.
"Anda sampai lebih cepat dari perhitungan saya," kata wajah itu. "Saya hargai itu."
Richard tidak menjawab. Ia tahu benda ini tidak bisa mendengarnya.
"Kapal ini tidak pernah dimaksudkan sebagai tempat pertemuan," lanjut Elias. "Saya butuh Anda berada di laut selama enam jam, jauh dari kota, supaya beberapa hal bisa selesai tanpa gangguan. Sekarang sudah selesai."
Layar itu berkedip sekali.
"Pertemuan kita yang sebenarnya akan berlangsung di tempat yang lebih pantas," katanya. "Di kota tempat ayah Anda meninggal."