Selma memberikan alamatnya pada hari ketiga, tanpa ditawar dan tanpa syarat.
Itu yang membuat Richard tidak tenang. Orang yang menyerahkan tempat persembunyian terakhirnya semudah itu biasanya sedang menyerahkan sesuatu yang sudah tidak penting lagi.
Pulaunya kecil, di sisi utara, tiga jam dari pelabuhan terdekat dengan kapal cepat dan lima jam dengan kapal biasa. Tidak ada di peta wisata mana pun. Di citra satelit, yang terlihat cuma hutan, satu dermaga kayu, dan atap seng panjang yang bisa saja gudang ikan.
Mereka berangkat subuh dengan tiga kapal. Yura ikut, meski komandan satuan sempat menolak dua kali.
"Kalau di sana ada anak-anak," kata Yura, "kalian butuh orang yang bukan polisi."
Bangunannya ternyata bekas sekolah. Sekolah betulan, dari zaman yang jauh lebih tua, dengan papan nama yang sudah dicopot dan meninggalkan bekas empat lubang paku di tembok depan. Halamannya luas dan bersih. Ada lapangan voli dengan garis kapur yang masih baru.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada senjata.
Yang ada cuma anak-anak.
Empat puluh tiga orang, dari yang paling kecil sekitar lima tahun sampai yang paling besar sekitar tujuh belas. Mereka berdiri berbaris di halaman ketika petugas masuk, rapi, tenang, tanpa disuruh. Seperti sudah pernah dilatih menghadapi hari seperti ini.
Tidak satu pun dari mereka menangis.
Yura pernah membayangkan tempat ini ratusan kali selama seminggu terakhir, dan semua bayangannya salah. Ia membayangkan jeruji, ruangan gelap, anak-anak kurus. Yang ia temukan adalah asrama bersih dengan seprai yang disetrika, dapur dengan stok beras yang cukup untuk dua bulan, dan perpustakaan yang isinya lebih lengkap daripada perpustakaan sekolah mana pun yang pernah ia masuki.
Justru itu yang membuat perutnya mual.
Ia masuk ke salah satu ruang kelas dan melihat papan tulis yang belum dihapus. Di sana ada deretan angka dan huruf yang ia kenali dari berkas perkara. Struktur kode. Di kelas sebelah, papannya penuh istilah keuangan: arus kas, kepemilikan silang, perusahaan cangkang. Di kelas paling ujung, seorang anak perempuan berumur dua belas tahun sedang mengajari adik kelasnya cara membuat tiga identitas berbeda dari satu tanggal lahir.
Anak itu berhenti ketika melihat Yura di pintu, lalu tersenyum sopan.
"Kakak dari mana?"
"Dari kota," jawab Yura.
"Kakak mau menutup sekolah kami?"
Yura duduk di kursi kecil di dekat pintu supaya matanya sejajar dengan mata anak itu. Ia butuh beberapa detik untuk menemukan suaranya.
"Kakak mau memberi tahu kalian sesuatu," katanya. "Kalian boleh memilih. Kalian boleh sekolah di mana saja. Kalian boleh punya nama sendiri, alamat sendiri, keluarga sendiri. Tidak ada yang berhak mengatur kalian akan jadi apa nanti."
Anak itu mengerutkan kening, benar-benar bingung.
"Kami sudah punya keluarga," katanya. "Lingkaran Terputus itu keluarga kami."
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu sedikit pun, dan diucapkan lagi oleh anak lain, dan anak lain lagi, sepanjang hari itu, dengan nada yang sama. Bukan hafalan. Mereka betul-betul percaya.
Menjelang sore, ketika petugas mulai mendata siapa yang bersedia dibawa ke darat, hampir separuh anak menolak.
"Di luar tidak ada yang menunggu kami," kata seorang anak laki-laki berumur lima belas. "Di sini ada makan tiga kali. Di sini saya tahu besok ngapain."
"Di luar kamu bisa memutuskan sendiri besok mau ngapain," kata Yura.
Anak itu menatapnya seperti menatap orang yang menawarkan barang yang tidak jelas gunanya.
"Kalau saya salah memutuskan?"
Yura tidak menjawab cepat-cepat. Ia tahu jawaban yang manis akan langsung ketahuan bohongnya oleh anak-anak ini.
"Kamu akan salah," katanya akhirnya. "Semua orang salah. Bedanya, salah kamu jadi milik kamu."
Anak itu diam. Ia tidak ikut mendaftar hari itu, tapi malamnya ia duduk di dekat dermaga sampai larut, memandangi lampu kapal.
Yura duduk di tangga asrama malam itu dan menelepon Richard, meski lelaki itu cuma berjarak lima puluh meter di gedung sebelah.
"Aku tidak tahu harus menyelamatkan mereka dari apa," katanya. "Tidak ada yang memukul mereka. Tidak ada yang kelaparan."
"Mereka diambil dari ibunya," jawab Richard.
"Mereka tidak ingat ibunya."
"Itu justru yang diambil."
Yura menutup telepon dan duduk di situ cukup lama.
Raka menemukan sesuatu yang lain di ruang administrasi.
Setiap anak punya berkas. Bukan rapor, melainkan riwayat medis lengkap sejak hari pertama mereka masuk, termasuk pemeriksaan yang tidak wajar ada di sekolah mana pun.
"Mereka menyimpan data genetik," katanya, suaranya datar karena terlalu marah untuk bergetar. "Semuanya. Sejak bayi."
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan keturunannya benar."
Ia menyerahkan satu berkas kepada Richard, berkas yang sudah ia baca tiga kali untuk memastikan tidak salah.
Nama anaknya Niko. Umur sembilan tahun. Masuk ke pulau itu saat berumur sebelas bulan.
Dan di kolom paling bawah, ada catatan pencocokan yang menunjuk ke satu keluarga besar.
Keluarga Richard.
"Ini tidak mungkin," kata Richard.
"Saya minta laboratorium mengulang," jawab Raka. "Dua kali. Hasilnya sama. Dia kemungkinan besar cucu dari salah satu orang yang ikut mendirikan jaringan ini."
Richard menemukan anak itu di belakang dapur, sedang mengumpulkan batu kecil dan menyusunnya jadi lingkaran di tanah. Anak kurus, rambut lurus, mata yang terlalu awas untuk umur sembilan tahun.
Richard berjongkok beberapa langkah darinya, tidak lebih dekat.
"Niko?"
Anak itu mengangkat wajah, tapi tidak menjawab.
"Om tidak akan memaksa kamu ikut," kata Richard. "Kamu boleh tinggal di sini sampai kamu siap. Tapi Om janji satu hal. Mulai hari ini, tidak ada orang yang boleh memutuskan kamu jadi apa. Termasuk Om."
Niko menunduk lagi ke lingkaran batunya. Ia menggeser satu batu supaya ada celah di sisi kanan, lalu menggesernya kembali supaya rapat.
"Om kenal saya?" tanyanya.
"Belum," jawab Richard jujur. "Tapi Om mau kenal."
Anak itu tidak menjawab. Namun ketika Richard berdiri untuk pergi, Niko ikut berdiri dan berjalan di belakangnya, jaraknya lima langkah, sampai ke ujung halaman.
Mereka butuh sebelas hari untuk mengurus semuanya. Pemerintah menyiapkan tiga rumah perlindungan, tenaga pendamping, dan sekolah yang mau menerima anak tanpa akta dengan surat keterangan pengadilan. Tidak ada yang dipaksa naik kapal. Yang tinggal tetap dijaga, tetap diberi guru, sampai mereka sendiri memutuskan.
Pada malam kesepuluh, Kevin masih di ruang kepala sekolah, membongkar laci terakhir.
Ia menemukan map tipis di balik papan kayu yang dipaku menutupi dasar laci.
Isinya laporan bulanan. Delapan tahun. Semuanya ditujukan kepada satu nama yang tidak pernah muncul di daftar pegawai, tidak pernah muncul di catatan kunjungan, tidak pernah muncul di foto mana pun.
Pengawas utama.
Elias.