Yang membuat Selma sulit dilacak bukan kepintarannya. Melainkan kendaraannya.
Nara menemukannya pada hari kedua, dari rekaman kamera lalu lintas yang selama ini tidak pernah dicurigai siapa pun. Sebuah ambulans, putih, lengkap dengan stiker lembaga perlindungan anak di kedua pintunya, melintas di jalan-jalan yang sama pada malam-malam yang persis bersesuaian dengan hilangnya berkas bayi di empat rumah sakit.
"Tidak ada yang menghentikan ambulans," kata Nara. "Tidak ada yang menanyai ambulans. Kalau sirenenya menyala, orang malah menyingkir."
Richard menatap layar itu dengan perasaan aneh. Selama ini mereka membayangkan penculikan yang dilakukan diam-diam, lewat pintu belakang, tengah malam. Ternyata anak-anak itu dibawa lewat jalan protokol, dengan lampu menyala, disaksikan ratusan pengendara yang justru memberi jalan.
Polisi menemukan ambulans itu dua hari kemudian, di sebuah gudang sewaan tiga ratus meter dari rumah sakit swasta tempat Dr. Niko bekerja. Pintu gudangnya digembok dari luar. Mesin ambulansnya masih hangat.
Bagian dalamnya kosong.
Bukan kosong seperti kendaraan yang belum dipakai. Kosong seperti kendaraan yang baru saja dibersihkan. Lantainya basah oleh cairan pembersih, sarung tangan bekas dibuang rapi di kantong plastik, dan dudukan kursi bayi di bagian belakang sudah dilepas dan disandarkan ke dinding.
"Dia tahu kita akan sampai ke sini," kata Yura.
"Dia tahu, tapi dia belum pergi jauh," jawab Richard. "Orang yang mau kabur tidak repot-repot mengepel."
Raka yang menemukan sisa benangnya. Ia menghabiskan dua malam di arsip kejaksaan, membandingkan nama Selma dengan daftar pegawai lama semua perusahaan yang pernah tersangkut perkara ini.
Ia menemukannya pada baris ke seratus dua puluh.
"Dia pernah kerja untuk ayah Mia," katanya, meletakkan fotokopi berkas di meja. "Tahun 2004 sampai 2009. Bukan di kantor. Di bagian kesejahteraan karyawan. Yang mengurus santunan keluarga."
Richard mengambil berkas itu. "Yang mengurus keluarga korban."
"Yang mengurus keluarga korban," ulang Raka. "Dia tahu siapa yang punya anak. Dia tahu siapa yang jatuh miskin setelah suaminya dipenjara. Dia tahu semuanya sejak dua puluh tahun lalu."
Kevin menemukan sisanya dari catatan keuangan. Sejak 2011, rekening pribadi Selma menerima kiriman rutin dari tiga yayasan kecil yang semuanya berujung ke satu sumber yang sama.
Lingkaran Terputus.
"Berapa?" tanya Yura.
"Cukup untuk tidak pernah perlu bekerja lagi," jawab Kevin. "Tapi dia tetap bekerja. Itu yang menakutkan. Dia tidak melakukan ini demi uang."
Jebakan itu ide Yura, meski ia butuh dua hari untuk berani mengusulkannya.
"Kita umumkan," katanya di rapat. "Bukan lewat siaran pers. Lewat sistem rujukan yang mereka pakai. Kita bilang salah satu bayi dari daftar itu akan dipindahkan ke rumah sakit lain karena butuh perawatan khusus."
"Kalau dia curiga?" tanya komandan satuan.
"Dia akan curiga," kata Richard pelan. "Tapi dia tetap datang."
"Kenapa?"
"Karena dia sudah dua puluh tahun tidak pernah gagal mengambil satu pun." Richard mengetuk meja sekali. "Orang seperti itu tidak percaya dia bisa kalah."
Mereka memilih rumah sakit daerah di sisi timur kota. Bayinya boneka. Petugas yang mendorong inkubator adalah polisi. Perawat di lorong polisi. Petugas kebersihan di depan lift polisi.
Yura menolak menunggu di mobil.
"Aku satu-satunya yang pernah melihat wajahnya dari dekat di foto lembaga itu tiap hari selama dua minggu," katanya. "Kalau dia menyamar, orang lain akan lewat begitu saja."
Ia berdiri di meja pendaftaran, memakai seragam administrasi yang kebesaran, menunduk ke layar komputer yang sebenarnya tidak menampilkan apa-apa.
Tiga jam pertama tidak terjadi apa-apa.
Yura belajar hal-hal aneh dalam tiga jam itu. Bahwa lampu neon di atas meja pendaftaran berdengung dengan nada yang lama-lama membuat kepala sakit. Bahwa rumah sakit pada malam hari berbau berbeda dari rumah sakit pada siang hari, lebih tajam, lebih bersih, lebih sepi. Bahwa jantungnya bisa berdebar kencang selama berjam-jam tanpa lelah.
"Kalau dia tidak datang?" bisiknya ke alat kecil di kerahnya.
"Kita ulangi besok di rumah sakit lain," jawab suara Richard.
"Sampai kapan?"
"Sampai dia datang."
Pukul sebelas lewat dua puluh malam, pintu otomatis terbuka.
Seorang perempuan masuk. Umurnya sekitar lima puluh lima, rambut pendek diwarnai, memakai jas putih dengan kartu identitas menggantung di dada. Ia berjalan tanpa ragu sedikit pun, mengangguk sopan kepada petugas keamanan, dan menanyakan arah ruang perinatologi dengan suara yang tenang dan ramah.
Suara orang yang sudah melakukan ini puluhan kali.
Yura mengangkat wajahnya. Dua detik. Itu saja cukup.
Wajah yang sama dengan foto di dinding kantor itu. Hanya rambutnya yang berbeda.
Yura menurunkan tangannya ke bawah meja dan menekan tombol kecil di sana dua kali, seperti yang dilatihkan.
Semuanya terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Petugas kebersihan di depan lift menutup jalan. Perawat di lorong berbalik. Dua orang keluar dari ruang tunggu.
Selma berhenti berjalan. Ia melihat sekelilingnya sekali, perlahan, lalu meletakkan tas yang dibawanya di lantai dan mengangkat kedua tangannya sebatas bahu.
Ia tidak berteriak. Tidak lari. Tidak mengatakan apa-apa.
Ketika polisi memasangkan borgol, Selma malah menoleh ke arah meja pendaftaran dan menatap Yura, lama, dengan ekspresi yang paling tidak diharapkan Yura.
Bukan marah. Bukan takut.
Kecewa. Seperti guru yang muridnya salah menjawab soal yang mudah.
Pemeriksaan berlangsung sampai subuh. Selma menjawab hampir semua pertanyaan, dan itu sendiri sudah aneh. Ia mengakui ambulans. Ia mengakui empat berkas Dr. Niko. Ia menyebut nama-nama sopir dan perawat yang membantunya, satu per satu, tanpa diminta dua kali.
"Kenapa Anda melakukannya?" tanya penyidik akhirnya.
Selma meluruskan punggungnya.
"Karena ada anak-anak yang lahir di tempat yang salah," katanya. "Anak-anak dari keluarga yang punya akses. Akses politik, akses bisnis, nama yang membuka pintu. Anak-anak itu akan tumbuh jadi salinan orang tuanya. Kami mengambil mereka sebelum itu terjadi."
"Mengambil ke mana?"
"Ke tempat yang tertutup. Aman. Mereka diberi makan, disekolahkan, dilatih. Bukan disiksa, kalau itu yang kalian bayangkan. Tidak ada satu pun yang dipukul."
"Dilatih untuk apa?"
"Untuk memimpin." Selma mengatakannya seperti orang menyebut hal paling wajar di dunia. "Suatu hari nanti mereka akan duduk di kursi orang tua mereka. Bedanya, mereka akan tahu siapa yang membesarkan mereka."
Richard yang berdiri di belakang penyidik sejak tadi akhirnya melangkah maju.
"Siapa yang memimpin institusi itu?" tanyanya.
Selma menoleh kepadanya. Untuk pertama kali sepanjang malam itu, ia tersenyum.
"Orang yang tidak pernah lahir dalam catatan resmi."