Satu paragraf saja, dan seluruh jadwal mereka berubah.
Pagi berikutnya, gedung pusat bantuan sudah dijaga dua puluh empat jam. Satuan khusus menempatkan orang di lobi, di tangga darurat, dan satu lagi di atap gedung sebelah. Kamera dipasang ulang, jaringan dipisah, dan pintu belakang yang dulu dipakai staf untuk membeli kopi sekarang dikunci permanen.
Yura tidak suka. Bukan karena penjagaannya, tapi karena wajah orang-orang yang datang berubah begitu melihat petugas berseragam di pintu.
"Mereka jadi takut masuk," katanya. "Padahal yang mau kita bantu justru orang-orang yang sudah kapok berurusan dengan seragam."
"Saya tahu," jawab Richard. "Tapi kalau gedung ini diledakkan, tidak ada yang bisa masuk sama sekali."
Kevin menempati satu ruangan kecil di lantai tiga, ruangan yang dulu dipakai untuk gudang. Ia menolak pindah ke kantor yang lebih besar dengan alasan yang khas dirinya: jendelanya cuma satu dan menghadap tembok.
Ia mengurung diri di sana selama enam hari untuk melacak asal pesan terenkripsi itu.
Pada hari keenam ia turun ke lantai satu, membawa laptop, rambutnya berantakan, dan meletakkan benda itu di meja rapat tanpa mengucapkan selamat pagi.
"Saya sudah dapat," katanya. "Dan kalian tidak akan suka."
Richard menutup berkasnya. "Katakan."
"Pesan itu dikirim lewat jaringan rumah sakit nasional." Kevin memutar layar. "Bukan satu rumah sakit. Sistem rujukan yang menghubungkan semuanya. Yang dipakai untuk memindahkan data pasien antarprovinsi."
Raka mencondongkan badan. "Kamu yakin?"
"Saya melacaknya sampai tiga lapis ke belakang. Semua jalurnya bersih, resmi, dan terdaftar." Kevin menggosok matanya. "Itu justru masalahnya. Mereka tidak menerobos. Mereka punya kunci."
Ruangan itu hening.
"Mereka tidak lagi memakai yayasan," lanjut Kevin. "Mereka masuk melalui sistem kesehatan."
Yura merasa tengkuknya dingin.
Ia teringat ruang klinik kecil di pinggir kabupaten. Bayi yang tidur tenang di gendongan orang yang bukan ibunya. Perempuan yang menangis sepuluh menit sebelum bisa bicara, yang berkata bahwa ia disuruh membawa bayi itu keluar karena garis keturunannya penting.
"Bayi itu bukan percobaan pertama," katanya pelan.
Semua mata menoleh padanya.
"Kalau mereka punya akses ke sistem rujukan," lanjut Yura, "mereka bisa melihat siapa yang lahir, di mana, dari keluarga apa. Mereka tidak perlu menculik sembarangan. Mereka tinggal memilih."
"Memilih untuk apa?" tanya Livia.
"Untuk dibesarkan jadi penerus." Yura menelan ludah. "Kita mengira mereka mengejar kode. Mereka tidak mengejar kode. Kode bisa dibuat ulang. Yang tidak bisa dibuat ulang itu orangnya."
"Kalau begitu mereka sudah mulai sejak lama," kata Richard. "Bukan sejak bayi di klinik itu."
"Bayi di klinik itu yang gagal," kata Kevin. "Kita cuma melihat yang gagal. Yang berhasil tidak pernah masuk berita, karena tidak ada yang kehilangan apa-apa. Semuanya rapi di atas kertas."
Yura menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ia tidak ingin memikirkan berapa banyak yang rapi.
Satuan khusus bekerja lebih cepat dari yang Richard perkirakan. Dalam sepuluh hari mereka menyisir daftar kelahiran lima tahun terakhir di empat provinsi, mencocokkan catatan rumah sakit dengan catatan sipil, mencari selisih.
Selisih itu ada.
Sembilan belas bayi tercatat lahir, tetapi tidak pernah muncul lagi di catatan mana pun. Tidak ada akta. Tidak ada imunisasi. Tidak ada surat kematian. Mereka hanya lahir, lalu berhenti ada di atas kertas.
"Sembilan belas," ulang Richard, ketika angka itu dibacakan di rapat. "Dalam lima tahun."
"Itu yang bisa kami pastikan," kata komandan satuan. "Kalau kami mundur sepuluh tahun lagi, catatannya masih kertas. Tidak akan ketemu."
Jejak paling jelas ada di sebuah rumah sakit swasta di pinggiran. Empat dari sembilan belas nama itu lahir di sana, dan semuanya melewati satu akun administrator yang sama. Akun itu punya wewenang mengubah status rujukan pasien, dan wewenang itu ditambahkan sendiri dua tahun lalu tanpa persetujuan direksi.
Namanya Dr. Niko.
Richard dan Yura menemuinya sore itu juga, di ruang praktik yang kecil dan terlalu rapi. Dokter itu berumur empat puluhan, berkacamata, dan tangannya gemetar sejak pertama kali melihat surat dari kejaksaan.
Ia tidak menyangkal apa pun. Itu yang paling membuat Yura tidak enak.
"Saya tahu kalian akan datang," katanya. "Saya sudah menunggu satu tahun."
"Kalau sudah tahu, kenapa tidak lapor?" tanya Richard.
Dr. Niko tertawa, pendek dan pahit. "Lapor ke siapa? Yang menyuruh saya itu kepala lembaga perlindungan anak."
Richard dan Yura saling pandang.
"Namanya?"
"Selma." Dokter itu melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja. "Dia yang datang tiga tahun lalu. Bawa surat resmi, ada stempelnya, ada nomornya. Katanya ada program penempatan anak dari keluarga bermasalah. Anak-anak yang orang tuanya terjerat kasus, katanya. Supaya tidak jatuh ke tangan yang salah."
"Dan Anda percaya."
"Saya percaya." Dr. Niko menatap meja. "Surat-suratnya benar semua. Saya sudah cek. Lembaganya betul ada, kantornya betul ada, dia betul kepalanya."
"Berapa banyak yang Anda ubah?"
"Empat." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Empat berkas. Saya cuma menggeser status rujukan. Saya bahkan tidak pernah menyentuh bayinya."
Yura menahan diri untuk tidak bicara. Ia tahu kalau ia buka mulut sekarang, yang keluar bukan pertanyaan.
"Kapan Anda mulai curiga?" tanya Richard.
"Waktu berkas keempat." Dokter itu akhirnya mengangkat wajah. "Bayi itu dari keluarga yang tidak bermasalah sama sekali. Ayahnya anggota dewan provinsi. Ibunya pemilik tiga apotek. Tidak ada kasus apa pun. Saya telepon Selma, saya tanya kenapa anak itu masuk program. Dia bilang justru anak-anak seperti itulah yang paling perlu diselamatkan."
"Dari apa?"
"Dari masa depan yang sudah ditentukan orang tuanya. Itu kalimatnya persis." Dr. Niko menutup mata. "Saya berhenti menjawab teleponnya setelah itu. Tapi saya tidak berani lapor. Saya punya anak dua."
Polisi bergerak ke kantor lembaga itu malam yang sama.
Mereka terlambat.
Pintunya tidak terkunci. Lampu masih menyala. Komputer di meja depan masih menyala pula, tetapi hard disk-nya sudah dicabut, kabelnya tergantung lemas di belakang meja. Secangkir teh di meja Selma masih hangat ketika petugas pertama menyentuhnya.
Yura masuk bersama rombongan kedua. Ia berdiri di ruang kerja perempuan itu dan merasa perutnya mual.
Di dinding, dipasang rapi dalam bingkai-bingkai kecil seperti foto keluarga, ada puluhan foto bayi. Sebagian tampak baru lahir. Sebagian sudah bisa duduk. Setiap bingkai punya label kecil di sudut bawah, berisi angka, bukan nama.
Di laci paling bawah, terkunci tetapi dibuka dalam dua menit, mereka menemukan sebuah map tebal.
Isinya daftar keluarga korban. Semuanya. Lengkap dengan alamat, jumlah anak, dan kolom terakhir yang baru terisi sebagian.