Mereka bergerak pukul lima lewat sepuluh, ketika langit di atas gedung yayasan lama baru berubah kelabu.
Bangunan itu sudah bertahun-tahun kosong. Catnya mengelupas, papan namanya sudah dicopot, dan halaman depannya ditumbuhi rumput setinggi lutut. Tidak ada satu pun yang terlihat mencurigakan, dan justru itu yang membuat Richard merinding. Selama satu tahun terakhir mereka mengejar jaringan ini ke seluruh kota, dan selama itu pula pusatnya berdiri diam di tempat yang setiap hari dilewati orang.
Polisi masuk lewat tiga sisi sekaligus. Tidak ada perlawanan. Tidak ada siapa-siapa.
"Kosong," lapor seorang petugas dari lantai dua.
"Bukan kosong," kata Nara. Ia berjongkok di lorong belakang, menempelkan tangannya ke lantai keramik. "Ada dengung. Di bawah kita."
Mereka menemukan pintunya di belakang rak arsip yang sudah digeser rapi, seolah orang terakhir yang keluar sempat merapikan tempat itu. Tangga beton turun tujuh meter, lalu berbelok, lalu terbuka ke sebuah ruangan yang membuat semua orang berhenti bicara.
Puluhan layar terpasang di dinding, sebagian masih menyala dengan cahaya biru redup. Meja panjang membentang di tengah, penuh perangkat yang kabelnya tersusun terlalu rapi untuk pekerjaan amatir. Udara di situ kering dan dingin, digerakkan oleh pendingin yang jelas masih dibayar tagihannya oleh seseorang.
Dan di dinding paling jauh, membentang dari ujung ke ujung, ada sebuah peta.
Bukan peta kota. Peta hubungan. Ratusan foto kecil, nama, garis-garis benang yang menghubungkan satu wajah ke wajah lain. Suami. Istri. Anak. Sepupu. Di beberapa tempat garisnya bercabang tiga, empat, lima.
Yura mendekat dan mengenali beberapa wajah. Orang-orang yang ia telepon minggu lalu. Ibu yang bertanya apakah anaknya nanti akan membaca nama itu di internet.
"Mereka tidak melacak korban," katanya pelan. "Mereka melacak keturunan."
Richard berdiri di sampingnya, mengikuti satu benang merah dengan ujung jari sampai benang itu berhenti di sebuah foto lama ayahnya. Dari situ garisnya bercabang dua. Satu ke arah namanya sendiri. Satu lagi ke sebuah kotak kosong yang belum diisi apa-apa.
"Kotak kosong ini untuk apa?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
Kevin sudah duduk di depan salah satu meja, menyambungkan alatnya sendiri. Ia bekerja tanpa bicara selama hampir satu jam, hanya sesekali menggumam. Lalu ia berhenti.
"Richard."
Nada suaranya membuat Richard langsung menyeberangi ruangan.
Di layar ada sebuah daftar. Panjang sekali. Nama, tanggal, dan satu kolom kecil berisi kode.
"Ini semua orang yang pernah memegang kunci sistem," kata Kevin. "Dari yang pertama sampai sekarang. Ayah saya ada di baris dua puluh tiga. Selina di baris empat puluh."
Ia menggulir ke bawah. Terus ke bawah. Sampai daftar itu habis.
Baris terakhir tidak punya tanggal. Kolom namanya diisi, tetapi bukan dengan nama orang. Isinya keterangan: bayi laki-laki, perkiraan lahir akhir bulan ini, diikuti nama seorang perempuan sebagai ibu.
Ruangan itu terasa makin dingin.
"Mereka sedang menyiapkan pewaris berikutnya," kata Kevin.
Richard menatap layar itu lama. Ia membaca nama perempuan di kolom ibu sekali, lalu dua kali, lalu merasa lantai di bawahnya sedikit bergeser.
"Saya kenal nama ini."
Yura menoleh. "Dari mana?"
"Dari papan jadwal perawat." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Dia kerja di rumah sakit tempat Livia dirawat. Dia yang mengantar makanan ke kamar Livia hampir tiap malam."
Semua orang bergerak dalam waktu yang sama.
Polisi menghubungi rumah sakit dalam dua menit. Jawabannya datang enam menit kemudian, dan jawabannya salah dari segala sisi: perempuan itu sudah melahirkan sepuluh hari lalu, sudah pulang, dan pagi tadi datang lagi untuk menjenguk teman di ruang bayi.
Ia keluar dari gedung pukul setengah tujuh sambil menggendong seorang bayi.
Bukan bayinya sendiri.
"Bayinya sendiri masih di rumah bersama neneknya," kata perawat kepala di telepon, suaranya panik. "Yang dia bawa anak pasien kamar tiga belas."
Yura tidak menunggu perintah. Ia menarik laptopnya, membuka daftar kontak yang ia susun berbulan-bulan untuk pusat bantuan, dan mulai mengirim peringatan. Rumah sakit, klinik bersalin, puskesmas, praktik bidan. Satu per satu, lalu berkelompok, lalu lewat grup pesan para perawat yang ia kenal dari kasus Livia.
Foto perempuan itu. Ciri bayi. Nomor yang bisa dihubungi. Jangan hadang sendiri, cukup telepon.
"Kenapa kamu tidak lewat kepolisian saja?" tanya seorang petugas.
"Karena surat resmi butuh tiga jam," jawab Yura tanpa mengangkat wajah. "Grup ibu-ibu perawat butuh tiga menit."
Kabar itu masuk pukul sebelas lewat empat puluh. Sebuah klinik kecil di pinggir kabupaten, tiga jam perjalanan, menelepon karena ada perempuan yang minta diperiksakan bayinya tanpa membawa satu pun surat.
Bayi itu ditemukan dalam keadaan sehat. Tidur, bahkan, ketika polisi masuk.
Perempuan itu tidak melawan. Ia menyerahkan bayi itu ke tangan bidan dan langsung menangis sampai tidak bisa bicara selama sepuluh menit pertama.
Di ruang pemeriksaan, ia mengaku dipaksa. Ada orang yang mendatanginya sejak kehamilannya berumur enam bulan. Mereka tahu alamat ibunya. Mereka tahu sekolah adiknya. Mereka memberinya uang yang jumlahnya lebih besar dari gaji setahun, dan mereka memberinya satu tugas.
"Mereka bilang bayi itu penting," katanya. "Katanya garis keturunannya penting. Saya tidak mengerti maksudnya apa. Saya cuma disuruh membawanya keluar dan menunggu di klinik itu."
"Anda tidak bertanya untuk apa?" tanya penyidik.
"Saya bertanya," jawabnya. "Mereka bilang lebih baik saya tidak tahu. Dan saya percaya, karena saya takut."
Kasus itu bocor ke media dalam dua hari, dan kali ini kebocorannya justru menolong. Bayi yang hampir diculik dari rumah sakit demi sebuah daftar keturunan adalah cerita yang tidak bisa diabaikan siapa pun. Dalam dua minggu, pemerintah mengumumkan pembentukan satuan khusus untuk memburu jaringan lama, dengan wewenang lintas provinsi dan akses langsung ke arsip kejaksaan.
Pada hari satuan itu dilantik, Richard dan Yura berdiri di trotoar depan gedung pusat bantuan mereka. Papan namanya baru selesai dipasang siang tadi. Di dalam, ruang tunggu masih penuh sampai sore.
Yura memandangi orang-orang yang masuk dan keluar, lalu menoleh.
"Kita akhirnya melakukan sesuatu yang benar," katanya.
Richard tersenyum. "Bukan akhirnya. Ini baru permulaan."
Malam itu, di lantai dua, Raka masih memilah arsip yang diangkut dari ruang bawah tanah. Tumpukannya belum habis separuh. Ia membuka satu berkas terakhir sebelum pulang, dan menemukan file yang tidak bisa dibuka seperti yang lain.
Butuh empat jam bagi Nara untuk memecahkannya. Isinya cuma satu paragraf, ditulis entah kapan, untuk dibaca entah oleh siapa.
"Jika kalian membaca ini, berarti semua rencana pertama gagal. Jangan khawatir. Lingkaran Terputus selalu memiliki jalan lain."