Namanya Lingkaran Terputus.
Kevin menulisnya di papan putih ruang rapat kejaksaan dengan tangan yang masih diperban, huruf-hurufnya miring karena ia menulis dengan tangan kiri.
"Ini bukan pecahan dari jaringan Ketua," katanya. "Ini yang ada lebih dulu. Sistem Ketua itu anaknya, bukan bapaknya."
Raka mengerutkan kening. "Kalau mereka yang lebih tua, kenapa selama ini tidak pernah muncul di berkas mana pun?"
"Karena mereka tidak punya bentuk yang bisa dimasukkan ke berkas." Kevin memutar spidol di jarinya. "Tidak ada ketua. Tidak ada kantor pusat. Tidak ada daftar anggota. Mereka bekerja sebagai sel-sel kecil yang berdiri sendiri. Satu sel tidak tahu sel lain ada di mana, dan itu memang disengaja."
"Jadi kalau kita tangkap satu sel," kata Richard pelan, "yang lain tidak terganggu sama sekali."
"Yang lain malah tidak akan tahu. Dan itulah kenapa mereka bertahan tiga puluh tahun sementara jaringan ayah kalian hancur dalam tiga bulan."
Yura berdiri di sudut ruangan, memeluk lengannya sendiri. Ia sudah mengikuti rapat seperti ini terlalu sering belakangan ini, cukup sering untuk tahu kapan sebuah kalimat akan diikuti kalimat yang lebih buruk.
"Kenapa mereka menembak kamu?" tanyanya.
Kevin meletakkan spidolnya.
"Karena mereka ingin memusnahkan semua pewaris lama," jawabnya. "Siapa pun yang masih menyimpan kode, siapa pun yang masih bisa membuka pintu yang mereka bangun dulu. Itu saya. Itu juga kamu, Richard."
"Saya tidak memegang kode apa pun."
"Kamu memegang nama ayah kamu. Bagi mereka itu sama saja."
Malam itu juga Kevin dipindahkan ke rumah aman di pinggiran kota, sebuah rumah dua lantai dengan halaman sempit dan pagar tinggi yang sengaja dibiarkan terlihat kusam supaya tidak menarik perhatian.
Polisi bergerak cepat untuk yang lain. Paman Mia dipindahkan ke blok tahanan khusus dengan pengawalan berlapis, persis seperti syarat yang diminta Kevin. Mama Richard dijemput dari rumah dengan dua mobil, marah-marah sepanjang jalan karena tidak sempat mengemas tanaman hiasnya. Ardi dan Mara dibawa ke lokasi terpisah, masing-masing hanya tahu alamat sendiri.
Yura menonton semua itu dari kursi depan mobil, dan sesuatu di dadanya terasa berat.
"Aku capek," katanya, ketika mereka akhirnya sampai di kantor lewat tengah malam.
Richard menoleh. "Capek yang perlu tidur, atau capek yang lain?"
"Yang lain." Yura menatap lampu jalan yang lewat satu per satu. "Kita sudah setahun begini. Pindah, sembunyi, dikawal, menunggu. Semua orang yang aku sayang sekarang tinggal di alamat yang tidak boleh disebut. Dan yang paling menyebalkan, kita cuma bertahan. Kita tidak pernah membangun apa-apa."
Richard tidak menjawab beberapa saat.
"Kamu punya ide," katanya kemudian. Bukan pertanyaan.
"Aku punya ide."
"Katakan."
Yura duduk lebih tegak. "Kamu punya nama, punya pengacara, punya akses ke kejaksaan. Korban-korban yang aku telepon minggu lalu tidak punya satu pun dari itu. Mereka bahkan tidak tahu harus lapor ke siapa kalau data mereka dipakai lagi. Buka pusat bantuan hukum. Gratis. Khusus untuk korban jaringan ini."
"Itu akan membuat kita jadi sasaran yang jauh lebih jelas."
"Kita sudah jadi sasaran," kata Yura. "Bedanya, kalau kita cuma sembunyi, kita sasaran yang tidak berguna."
Richard tersenyum, kecil sekali, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari.
"Baik," katanya. "Kita buka."
Mereka mengurusnya dalam dua minggu. Sebuah ruko tiga lantai di dekat pengadilan, sewa setahun, papan nama sederhana tanpa embel-embel nama keluarga siapa pun. Cantika Wedding Organiser ikut menyumbang; rapat internalnya cuma berlangsung dua puluh menit sebelum semua orang setuju menyisihkan sebagian keuntungan tiap bulan untuk keluarga korban.
"Kita ini WO, bukan LSM," kata salah seorang staf sambil tertawa.
"Kita ini yang tahu persis bagaimana rasanya acara orang dirusak," jawab Yura. "Bedanya yang ini bukan acara. Ini hidup mereka."
Raka dan Livia mengambil alih arsip. Livia masih harus kontrol ke rumah sakit dua minggu sekali, tapi ia bersikeras ikut, dan dalam sepuluh hari ia sudah menyusun sistem penomoran berkas yang bahkan membuat pegawai kejaksaan datang untuk meniru. Elena menjadi penghubung para saksi, pekerjaan yang menuntut kesabaran luar biasa karena separuh saksi tidak mau mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Hari pertama buka, cuma ada dua orang yang datang. Hari ketiga, sebelas. Hari kelima, Yura harus menyeret kursi tambahan dari lantai dua karena ruang tunggu penuh, dan ia berdiri di tangga sambil memandangi orang-orang itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebagian besar membawa map plastik lusuh berisi fotokopi yang sudah bertahun-tahun mereka simpan tanpa tahu harus diberikan ke siapa.
"Ibu sudah menyimpan ini sejak 2017?" tanya Yura kepada seorang perempuan tua.
"Sejak suami saya meninggal," jawabnya. "Saya bawa ke tiga kantor. Tidak ada yang mau terima."
Untuk beberapa hari, rasanya seperti mereka mulai menang.
Lalu, malam Rabu, listrik di rumah aman padam.
Bukan padam biasa. Nara sedang menumpang jaringan di sana ketika layarnya berkedip dan semua lampu di blok itu mati serentak, sementara rumah-rumah di seberang jalan tetap terang.
"Bukan PLN," katanya cepat, sudah berdiri. "Ini disengaja."
Petugas jaga menyalakan senter. Kevin bangun dari kamarnya di lantai atas. Di luar terdengar suara yang aneh, tinggi dan bergetar, seperti dengung lebah besar yang berpindah-pindah di atas atap.
"Drone," kata Nara. "Kecil. Mereka pakai itu buat menjatuhkan travo dan memutus kamera."
"Bisa dihentikan?"
"Beri saya dua menit."
Ia duduk bersila di lantai gelap dengan laptop di pangkuan, wajahnya disinari layar, jarinya bergerak tanpa berhenti. Suara dengung itu berputar sekali, dua kali, makin rendah, makin dekat.
Di menit kedua, dengungnya berhenti mendadak. Terdengar bunyi benda jatuh menghantam genteng, lalu menggelinding dan mendarat di halaman.
"Frekuensi kendalinya kuno," kata Nara, napasnya pendek-pendek. "Mereka memang jago menyembunyikan diri. Tapi alat mereka tua."
Lampu menyala lagi delapan menit kemudian. Polisi menyisir blok itu dan menemukan dua orang bersembunyi di gang belakang. Satu berhasil lari lewat atap. Satu lagi tertangkap dengan tas berisi alat pengendali dan satu pistol yang bahkan belum sempat dikokang.
Ia tidak melawan sama sekali. Duduk di trotoar, menunduk, dan menjawab setiap pertanyaan dengan suara datar seperti orang yang sudah lama menunggu ditangkap.
Richard datang ke kantor polisi menjelang subuh. Ia berdiri di balik kaca, memperhatikan lelaki itu menyebutkan nama, umur, kota asal.
Lalu penyidik bertanya dari mana ia menerima perintah.
Lelaki itu diam lama. Ia mengangkat wajahnya sedikit, dan untuk pertama kali suaranya bergetar.
"Di bawah gedung yayasan yang lama," katanya. "Semua perintah keluar dari sana. Ruangnya di bawah tanah."