Perpustakaan itu sudah tiga tahun tidak dipakai.
Gedungnya milik sebuah yayasan pendidikan yang bangkrut, dua lantai, dengan rak-rak kayu yang masih berdiri lengkap tapi kosong. Bau kertas lama bercampur bau debu dan hujan kemarin. Lampunya cuma hidup separuh, membuat setengah ruangan tenggelam dalam bayangan.
Richard datang lima belas menit lebih awal, seperti biasa. Ia memilih meja di tengah, jauh dari pintu, dekat deretan jendela tinggi yang menghadap halaman belakang.
Kevin datang tepat waktu. Anak muda itu memakai jaket abu-abu dan menenteng tas laptop di satu bahu. Wajahnya lebih kurus daripada waktu di kantor kejaksaan, dan ada lingkaran gelap di bawah matanya yang tidak bisa ditutupi.
Ia meletakkan tas itu di meja, membukanya, mengeluarkan laptop, lalu mengeluarkan satu benda lagi.
Sebuah foto. Dicetak di kertas biasa, sudutnya sudah melengkung.
Richard melihatnya sekilas. Seorang lelaki muda berdiri di depan sebuah toko, memakai kemeja kebesaran, tersenyum lebar ke arah kamera. Wajah itu belum punya garis keras seperti yang Richard kenal dari berkas perkara.
"Ayah saya," kata Kevin. "Umur dua puluh dua. Sebelum semuanya."
"Kenapa kamu bawa?"
"Supaya saya ingat saya sedang membela siapa." Kevin duduk. "Bukan orang yang kalian tangkap. Orang yang di foto ini."
Richard tidak menjawab. Ia menunggu.
"Ayah saya memang melakukan kesalahan," lanjut Kevin. "Saya tidak menyangkalnya. Saya bukan anak bodoh yang mengira ayahnya malaikat. Tapi dia juga korban permainan yang lebih besar."
"Itu yang dia bilang ke kamu?"
"Itu yang dia tulis. Di surat terakhir, tiga bulan sebelum meninggal." Kevin menggeser foto itu sedikit, meluruskannya. "Dia bilang dia masuk karena butuh uang untuk operasi ibu saya. Dia bilang begitu masuk, tidak ada pintu keluar."
"Sampai di situ dia benar," kata Richard. "Tapi ada bagian yang dia tidak tulis."
Ia mengeluarkan map dari dalam jaketnya dan meletakkannya di meja.
Kevin tidak langsung membukanya. Ia menatap map itu seperti orang menatap hasil laboratorium yang belum berani dibaca.
"Apa ini?"
"Perintah pemerasan tahun 2016 sampai 2019. Empat belas korban. Semuanya lewat satu rantai yang sama."
Kevin membukanya. Ia membaca halaman pertama dengan cepat, halaman kedua lebih lambat, lalu berhenti di halaman ketiga.
"Ini cuma salinan," katanya. "Siapa pun bisa mengetik ini."
"Saya tahu kamu akan bilang begitu."
Richard mengeluarkan perekam kecil dan meletakkannya di tengah meja. Ia menekan satu tombol.
Suara paman Mia memenuhi ruangan kosong itu. Tenang, nyaris ramah, seperti orang sedang mengatur jadwal rapat. Ia menyebut nama seorang korban. Ia menyebut angka. Ia menyebut apa yang harus dilakukan kalau orang itu menolak.
Lalu ia menyebut satu nama lagi. Nama ayah Kevin. Sebagai orang yang akan mengurusnya.
Kevin tidak bergerak sama sekali selama rekaman berjalan. Tangannya masih memegang halaman ketiga, dan halaman itu mulai bergetar pelan.
Richard mematikan perekam.
Untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara. Di luar, angin menggeser dahan dan menggeser pula bayangan di lantai.
"Saya tidak tahu harus mempercayai siapa," kata Kevin akhirnya. Suaranya sangat kecil, sama sekali tidak seperti suara orang yang minggu lalu mengancam membuka data seluruh korban.
"Itu jawaban paling jujur yang saya dengar dari kamu."
"Kalau saya percaya kamu, berarti ayah saya pembohong."
"Atau ayah kamu orang yang berbohong pada dirinya sendiri supaya bisa tidur." Richard menarik napas. "Dua-duanya menyakitkan. Tapi cuma satu yang bisa kamu perbaiki."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu bisa memilih berhenti menjadi bagian dari jaringan."
Kevin tertawa pendek, tanpa suara. "Semudah itu."
"Tidak mudah. Tapi bisa."
Anak muda itu menatap foto ayahnya lagi. Cukup lama. Lalu ia menutup map dan mendorongnya kembali ke arah Richard.
"Saya punya satu syarat."
"Sebutkan."
"Paman Mia harus diadili di pengadilan terbuka. Bukan sidang tertutup, bukan kesepakatan di belakang meja." Kevin mengangkat wajahnya. "Dan dia tidak boleh mati sebelum itu. Orang-orang yang mengejar kami selama ini sudah menghabisi tiga saksi dalam dua tahun. Kalau dia dibunuh di tahanan, semua yang saya serahkan hari ini jadi tidak ada artinya."
"Kenapa kamu peduli pada orang yang memakai ayah kamu?"
"Saya tidak peduli padanya." Kevin menekan setiap kata. "Saya peduli supaya ada satu orang yang harus berdiri di depan hakim dan menjawab. Kalau dia mati, semua orang akan menyalahkan yang sudah tidak bisa membela diri. Ayah saya."
Richard mengangguk pelan. Itu masuk akal, dan bagian dari dirinya justru tidak nyaman karena masuk akal.
"Saya setuju," katanya. "Dengan syarat kamu serahkan semua kode. Bukan sebagian. Semua."
"Semua." Kevin menarik laptopnya, membuka layar, dan mengetik kata sandi. "Termasuk cadangan yang ada di dua server lain. Saya sudah siapkan sejak kemarin."
Ia memutar laptop itu, mendorongnya ke seberang meja.
Jendela di belakangnya pecah.
Suaranya datang belakangan, dua kali, seperti papan besar dibanting. Serpihan kaca menghambur ke atas meja dan lantai. Richard sudah menerjang sebelum otaknya selesai memproses apa yang terjadi, menarik kerah jaket Kevin ke bawah, membanting mereka berdua ke balik rak kayu yang paling dekat.
"Jangan bangun," desisnya.
Kevin tidak menjawab. Napasnya cepat sekali.
Tembakan ketiga menghantam rak di atas kepala mereka dan menyemburkan serbuk kayu. Lalu tidak ada apa-apa lagi. Cuma suara hujan yang tiba-tiba turun di luar.
Richard menunggu satu menit penuh sebelum bergerak. Ia melihat lengan kiri Kevin. Kemeja anak itu robek, ada darah, tetapi tidak banyak. Serpihan kaca, bukan peluru.
"Kamu tertembak?"
"Kaca," kata Kevin, giginya bergemeletuk. "Cuma kaca."
Polisi datang sebelas menit kemudian. Mereka menemukan posisi penembak di atap gudang seberang halaman, lengkap dengan bekas alas duduk dan dua selongsong yang sengaja ditinggalkan.
Dan satu hal lagi.
Di dinding beton di sebelah posisi itu, tergores dalam-dalam dengan sesuatu yang tajam, ada sebuah gambar. Sebuah lingkaran. Tetapi garisnya tidak menyambung. Ada satu celah kecil di sisi kanan, seperti orang yang sengaja mengangkat pisaunya sebentar sebelum menyelesaikan lingkaran itu.
Richard memotretnya dan menunjukkannya kepada Kevin di dalam ambulans.
"Ini bukan lambang yayasan," kata Richard. "Bukan juga tanda kode lama."
Kevin menatap layar ponsel itu. Warna wajahnya, yang baru saja mulai kembali, hilang lagi seketika.
"Saya pernah melihat ini," katanya. "Di kotak-kotak kiriman yang datang ke rumah kami waktu saya kecil."
"Punya siapa?"
"Orang-orang yang membesarkan ayah saya," kata Kevin, "setelah dia kabur dari keluarganya."