Berita itu pecah sebelum matahari benar-benar naik.
Yura baru saja menuang kopi ketika ponselnya bergetar tiga kali berturut-turut. Tiga portal berita, tiga judul berbeda, satu isi yang sama. Ia meletakkan gelasnya dan membuka salah satu dengan tangan yang mendadak dingin.
Di layar itu berjajar nama-nama. Bukan nama pelaku. Nama korban.
Nama lengkap. Umur. Kota tempat tinggal. Beberapa bahkan disertai potongan riwayat pekerjaan dan nomor rekening yang disamarkan setengah-setengah, seolah yang mengunggah sengaja menyisakan cukup banyak supaya orang bisa menebak sisanya.
"Richard." Suara Yura tercekat. "Bangun. Buka beritanya sekarang."
Richard sudah bangun. Ia berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinga, rahangnya mengeras. Di seberang sana, seseorang dari kejaksaan berbicara cepat-cepat, dan Richard hanya menjawab dengan satu dua patah kata.
"Berapa banyak?" tanya Yura begitu sambungan ditutup.
"Sebelas nama pagi ini. Mereka bilang itu baru sebagian."
"Sebagian?"
"Kevin tidak mengirim semuanya sekaligus." Richard meletakkan ponselnya di meja, pelan sekali, seperti takut benda itu pecah. "Dia mengirimnya sedikit demi sedikit. Supaya setiap hari ada berita baru. Supaya orang tidak sempat melupakan."
Di kantor polisi, suasananya lebih buruk. Yura ikut ke sana menjelang siang dan mendapati ruang rapat penuh orang yang saling berteriak. Telepon berdering tanpa henti. Tiga korban sudah menelepon sambil menangis, satu mengancam akan menuntut, satu lagi tidak bisa dihubungi sama sekali sejak namanya muncul.
"Kami tidak bisa menarik berita yang sudah tersebar," kata seorang perwira, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Kalau kami minta portal menghapus, besok ada seratus akun yang menyalinnya."
Richard menghubungi Kevin sore itu. Ia menyalakan pengeras suara supaya Raka dan Nara bisa ikut mendengar.
"Hentikan," kata Richard. "Apa pun yang kamu inginkan, kita bicarakan. Tapi hentikan dulu."
Terdengar tawa kecil di seberang. Tawa yang capek, bukan tawa senang.
"Kenapa saya harus berhenti? Semua orang tiba-tiba peduli setelah namanya keluar di berita. Sebelumnya tidak ada yang peduli sama sekali."
"Ada orang-orang di daftar itu yang tidak tahu apa-apa. Mereka cuma dipakai."
"Ayah saya juga cuma dipakai."
Richard memejamkan mata sebentar. "Kevin."
"Kalian ingin kebenaran? Saya akan memberikan semuanya, termasuk sisi buruk keluarga kalian."
Sambungan terputus.
Ruangan itu sunyi beberapa detik. Nara yang pertama bicara, tanpa mengangkat wajah dari layarnya.
"Kalau dia mau perang terbuka, kita tidak bisa menang dengan meminta baik-baik."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Yura.
"Masuk ke servernya."
Richard menegakkan punggung. "Bisa?"
"Belum tahu. Beri saya waktu."
Nara bekerja hampir dua hari penuh. Yura beberapa kali masuk ke ruang kerja itu dan menemukan perempuan itu duduk di posisi yang sama, dikelilingi gelas-gelas kosong, layar penuh baris kode yang bagi Yura tidak lebih dari deretan huruf tanpa arti.
Pada malam kedua, Nara akhirnya menoleh.
"Dia tidak menulis sistemnya sendiri," katanya. "Dia mewarisinya."
Richard mendekat. "Dari siapa?"
"Selina." Nara memutar layarnya. "Pola penamaannya sama persis. Cara dia membagi lapisan akses, cara dia menyembunyikan jejak, bahkan urutan pengecekannya. Kevin cuma mengganti kunci di depan pintu. Rumahnya masih rumah lama."
"Artinya?"
"Artinya rumah itu punya cacat lama juga." Nara menunjuk satu blok yang bagi mata Yura tidak berbeda dari blok lainnya. "Protokolnya mengizinkan pengiriman bertahap, tapi setiap pengiriman harus melapor balik ke satu titik. Kalau titik itu kita kuasai, kita tidak bisa menghapus datanya, tapi kita bisa menahan lajunya."
"Kenapa tidak sekalian dihapus saja?" tanya Yura.
"Karena itu barang bukti," jawab Richard. "Kalau kita hapus, Kevin akan bilang kami menutupi kejahatan keluarga sendiri. Dan kali ini dia benar."
Mereka membuat programnya dalam tiga hari. Bukan penghancur, hanya penyaring. Data tetap utuh dan tersimpan rapi untuk pengadilan, tetapi tidak bisa keluar tanpa melewati satu gerbang. Kejaksaan menandatangani izinnya pagi-pagi sekali, dengan syarat setiap korban harus tahu apa yang terjadi pada datanya.
Bagian itu jatuh ke tangan Yura.
Ia menelepon satu per satu. Dua puluh tiga nama dalam tiga hari. Sebagian marah dan menutup telepon sebelum ia selesai bicara. Sebagian menangis. Ada seorang ibu yang mendengarkan penjelasannya sampai habis, lalu bertanya dengan suara sangat pelan apakah anaknya nanti akan membaca nama itu di internet ketika sudah besar.
Yura tidak punya jawaban yang enak didengar, jadi ia menjawab apa adanya.
"Saya tidak bisa berjanji internet akan lupa, Bu. Tapi saya bisa berjanji nama Ibu tidak akan bertambah panjang dari hari ini."
Perempuan itu diam lama sekali. Lalu berkata, "Ya sudah. Saya setuju."
Malam itu Yura duduk di tangga depan kantor dan menangis sebentar, lima menit saja, sebelum masuk lagi dan melanjutkan panggilan berikutnya.
Sidang Mia dimulai minggu berikutnya.
Yura datang tanpa berniat datang. Ia hanya mengantar berkas ke kejaksaan, lalu kakinya sendiri yang membawanya ke ruang sidang dan duduk di barisan paling belakang.
Mia berdiri di kursi saksi dengan rambut diikat sederhana. Ia tidak berusaha terlihat baik-baik saja. Suaranya bergetar di kalimat pertama, lalu perlahan tenang.
Ia mengakui semuanya. Bahwa ia tahu tentang rekening itu sejak dua tahun sebelum pernikahan yang batal. Bahwa ia pernah menerima dokumen dari pamannya dan memilih tidak membacanya. Bahwa ia menyembunyikan nama-nama tertentu karena takut keluarganya hancur.
"Saya pikir kalau saya diam, semuanya akan lewat sendiri," katanya. "Ternyata yang lewat cuma waktunya. Orangnya tetap rusak."
Ketika sidang diskors, Mia berjalan ke barisan belakang. Ia berhenti dua langkah dari Yura, seperti tidak berani lebih dekat.
"Saya minta maaf," katanya. "Bukan cuma soal perkara ini. Soal semuanya. Sejak SMA."
Yura menatapnya lama. Ada banyak kalimat yang pernah ia susun di kepala untuk saat seperti ini, kalimat-kalimat tajam yang ia simpan bertahun-tahun. Tidak satu pun terasa pantas sekarang.
"Saya tidak ingin kita terus menjadi musuh karena kesalahan orang tua," kata Mia.
"Saya juga tidak," jawab Yura akhirnya. "Tapi saya juga tidak bisa pura-pura kita masih sama seperti dulu."
"Saya tidak minta itu."
"Ya sudah." Yura mengangguk pelan. "Saya terima."
Mia menghela napas, seperti orang yang baru saja meletakkan tas yang terlalu berat. Mereka tidak berpelukan. Tidak ada yang menangis. Mia hanya mengangguk sekali, lalu kembali ke depan.
Malam itu ponsel Richard berbunyi satu kali.
Satu pesan, dari nomor yang tidak terdaftar. Ia membacanya dua kali sebelum menunjukkannya kepada Yura.
Saya menonton kesaksian Mia. Saya mau bertemu. Kamu sendirian.