Raka menyerahkan surat itu keesokan paginya, di meja Richard, tanpa banyak bicara.
Richard membacanya dua kali.
"Kamu percaya?" tanya Raka.
"Ardi tidak punya untung dari berbohong sekarang." Richard melipat surat itu. "Dia sudah divonis nanti bulan depan. Kalau dia mau menakut-nakuti kita, dia akan menulis ancaman, bukan peringatan."
"Berarti kita balik ke barang bukti."
"Kita balik ke barang bukti."
Mereka menghabiskan lima hari di ruang penyimpanan kejaksaan, di antara rak besi dan kardus bersegel. Semua yang disita diperiksa ulang satu per satu: catatan Selina, salinan server, chip dari jam, daftar akses.
Dan di situlah mereka menemukannya.
"Ada satu kode yang nggak mati," kata Raka pada hari kelima. Ia memutar layar laptopnya. "Waktu kita matikan sistem, semua sambungan putus. Kecuali satu baris ini. Dia nggak aktif, tapi dia nggak hilang. Kayak kunci cadangan yang ketinggalan di laci."
"Sekarang?"
"Sekarang dia punya pemilik baru."
Richard mencondongkan badan. "Bisa dilacak?"
"Sudah." Raka mengetik. "Aksesnya dipakai dari jaringan kampus. Sekolah bisnis swasta. Mahal, kecil, isinya anak-anak pengusaha."
"Nama pemiliknya?"
Raka berhenti sebentar sebelum menjawab.
"Kevin."
Richard mengerutkan kening. "Kevin siapa?"
"Putra paman Mia."
Mia hampir menjatuhkan gelasnya ketika mereka menyebut nama itu sore harinya.
"Kevin?" Ia menoleh dari satu wajah ke wajah lain, mencari tanda bahwa ini lelucon. "Nggak mungkin. Kevin itu... dia tinggal di luar negeri sejak SMA. Dia pulang paling setahun sekali. Waktu Om saya ditahan pun dia nggak datang."
"Dia sekarang di sini," kata Raka. "Sudah empat bulan."
Mia terdiam.
"Dia mengelola tiga perusahaan investasi," lanjut Raka, membalik halaman catatannya. "Dua di luar negeri, satu di sini. Umurnya dua puluh enam. Dan dua di antaranya menerima dana dari yayasan yang sama."
"Kevin selalu terlihat tidak peduli dengan urusan keluarga," kata Mia pelan.
"Itu justru membuatnya mudah disembunyikan," kata Richard.
Undangan itu datang tiga hari kemudian.
Bukan pesan gelap dari nomor tak dikenal. Bukan ancaman. Sebuah surat elektronik resmi, dengan tanda tangan digital dan kop perusahaan, ditujukan kepada Richard, ditembuskan kepada dua orang penasihat hukum.
Isinya sopan sekali. Kevin menulis bahwa ia mengetahui namanya muncul dalam penyidikan, bahwa ia menyesalkan apa yang terjadi kepada keluarganya, dan bahwa ia ingin bertemu secara pribadi untuk berdamai sebelum semuanya menjadi lebih buruk bagi kedua belah pihak.
Ada usulan tempat: sebuah restoran di lantai teratas hotel.
Richard membalas dengan satu kalimat: pertemuan hanya bisa dilakukan di kantor kejaksaan, dengan pengawalan dan perekaman.
Kevin menyanggupi dalam dua belas menit.
Ia datang hari Kamis pagi, memakai kemeja putih tanpa dasi dan sepatu yang kelihatan lebih mahal dari mobil penyidik. Wajahnya muda, rambutnya rapi, dan senyumnya sopan kepada semua orang di ruangan, termasuk kepada petugas yang memeriksa tasnya.
Seorang pengacara mengikuti di belakangnya, laki-laki setengah baya yang tidak pernah berhenti mencatat.
"Terima kasih sudah bersedia bertemu," kata Kevin sambil duduk. "Saya tahu ini situasi yang tidak nyaman untuk semua orang."
"Langsung saja," kata Richard.
"Baik." Kevin melipat tangannya di meja. "Saya tidak ada hubungannya dengan apa yang dilakukan ayah saya, atau Bagas, atau siapa pun yang kalian tangkap. Saya bahkan tidak tinggal di negara ini waktu semua itu terjadi."
"Tapi kamu memakai kode yang tersisa dari sistem mereka."
"Saya mengambil warisan digital keluarga saya," kata Kevin tenang. "Arsip, catatan perusahaan, dokumen lama. Itu hak saya sebagai ahli waris. Bukan melanjutkan kejahatan."
Raka meletakkan satu lembar kertas di tengah meja dan mendorongnya.
"Catatan akses," katanya. "Kamu mengaktifkan KETUA-0 tiga hari lalu."
Kevin melihat kertas itu. Pengacaranya membuka mulut hendak menyela, tetapi Kevin mengangkat tangan pelan, dan lelaki setengah baya itu langsung diam.
Lalu Kevin tersenyum.
"Saya hanya ingin mengetahui siapa yang membunuh ayah saya," katanya.
Yura, yang sejak tadi duduk di samping Richard, akhirnya bersuara.
"Om lo masih hidup," katanya. "Dia di tahanan, nunggu sidang."
"Hidup." Kevin mengulang kata itu seperti mencicipinya. "Iya. Badannya hidup."
"Terus maksud lo apa?"
"Maksud saya, Mbak, ada lebih dari satu cara menghabisi orang." Senyum itu tidak hilang, dan justru itu yang membuat Yura merinding. "Ayah saya dijebak. Semua yang dia tanda tangani, dia tanda tangani karena tidak punya pilihan, sama seperti ayah Anda." Ia menoleh ke Richard. "Bedanya, ayah Anda mati sebagai korban, dan ayah saya hidup sebagai tersangka. Menurut Anda siapa yang lebih beruntung?"
"Ayah saya membangun sistemnya," kata Richard datar.
"Dan sekarang semua asetnya ada di bawah kendali Anda." Kevin menyandarkan punggung. "Perusahaan gabungan. Saham yang dibekukan. Dana yayasan yang dialihkan. Anda berdiri di atas semua itu sambil menyebut diri Anda korban, dan semua orang bertepuk tangan."
"Itu di bawah pengawasan pengadilan, bukan saya."
"Untuk sekarang."
Yura tidak tahan lagi. Ia mencondongkan badan ke depan.
"Kevin. Dengar." Suaranya tenang, tetapi tegas. "Apa pun yang lo rasa tentang bapak lo, itu urusan lo dan pengadilan. Yang lo pegang sekarang bukan warisan. Itu kunci ke data pribadi ratusan orang yang udah cukup menderita. Serahin aksesnya."
Untuk pertama kalinya, Kevin menoleh sepenuhnya kepadanya.
"Ratusan orang," katanya. "Anda tahu isi datanya apa saja?"
"Gue tahu cukup."
"Kalau begitu Anda tahu di dalamnya ada catatan medis. Utang. Perselingkuhan. Anak di luar nikah." Ia mengucapkannya dengan nada yang sama seperti orang membacakan daftar belanja. "Nama-nama yang sekarang disebut korban di berita. Guru, pegawai, ibu rumah tangga."
"Kevin—"
"Saya tidak berniat membukanya," lanjut Kevin. "Tapi kalau saya diperlakukan sebagai penjahat sebelum ada satu pun putusan, saya tidak punya alasan untuk menjaga rahasia orang lain, bukan?"
Ruangan itu membeku.
Pengacaranya berhenti mencatat. Penyidik di sudut ruangan meletakkan pulpennya. Seseorang di balik kaca menggeser kursinya, dan bunyi itu terdengar terlalu keras.
Richard memandangi lelaki muda di seberang meja itu.
Ia datang ke ruangan ini dengan satu anggapan yang nyaman: bahwa Kevin cuma anak orang kaya yang kesal, yang kebetulan menemukan mainan ayahnya dan tidak benar-benar tahu apa yang dipegangnya. Anak manja yang bisa ditakut-takuti dengan pasal.
Anggapan itu runtuh dalam dua menit terakhir.
Kevin tahu persis isi data itu. Ia tahu urutan aksesnya, tahu apa yang bisa dibuka dan apa yang tidak, tahu di mana letak titik paling lunak dari setiap orang yang duduk di ruangan ini.
Ia bukan sedang menggertak.
Ia benar-benar memiliki kemampuan mengendalikan sistem.